Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemahan Kitab Ta'lim Muta'allim Fasal 10: Tentang Mengambil Pelajaran dan Mengadopsi Adab Arab Berharakat, Latin dan Indonesia

Terjemahan Kitab Ta'lim Muta'allim Fasal 10: Tentang Mengambil Pelajaran dan Mengadopsi Adab Arab Berharakat, Latin dan Indonesia
Terjemahan Kitab Ta'lim Muta'allim Fasal 10: Tentang Mengambil Pelajaran dan Mengadopsi Adab

Kitab Ta'limul Muta'allim, sebuah karya klasik oleh Syekh Al-Zarnuji, merupakan panduan fundamental mengenai etika, metode, dan nilai spiritual dalam menuntut ilmu. Kitab ini menekankan pentingnya adab dan penghormatan, terutama kepada guru, sebagai kunci keberkahan dan kesuksesan dalam belajar, sehingga tetap relevan sebagai acuan pendidikan karakter di pesantren Indonesia.

Fasal 10: Tentang Mengambil Pelajaran dan Mengadopsi Adab

فَصْلٌ ١٠ : فِي الْإِسْتِفَادَةِ واقتباس الأدب

A. Saat-saat Mengambil Pelajaran

وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ طَالِبُ الْعِلْمِ مُسْتَفِيدًا فِي كُلِّ وَقْتٍ حَتَّى يَحْصُلَ لَهُ الْفَضْلُ وَالْكَمَالُ فِي الْعِلْمِ. وَطَرِيقُ الْإِسْتِفَادَةِ أَنْ يَكُونَ مَعَهُ فِي كُلِّ وَقْتٍ مِحْبَرَةٌ حَتَّى يَكْتُبَ مَا يَسْمَعُ مِنَ الْفَوَائِدِ الْعِلْمِيَّةِ.

Wa yanbaghī an yakūna ṭālibu al-'ilmi mustafīdan fī kulli waqtin ḥattā yaḥṣula lahu al-faḍlu wa al-kamālu fī al-'ilm. Wa ṭarīqu al-istifādati an yakūna ma'ahu fī kulli waqtin miḥbaratun ḥattā yaktuba mā yasma'u mina al-fawā'idi al-'ilmiyyah.

Pelajar hendaknya menggunakan setiap kesempatan waktunya untuk belajar, terus-menerus sampai memperoleh keutamaan dan kesempurnaan dalam ilmu. Caranya dilakukan bisa dengan selalu menyediakan botol wadah tinta untuk mencatat segala hal-hal ilmiah yang didengarnya.

قِيلَ: مَنْ حَفِظَ فَرَّ، وَمَنْ كَتَبَ قَرَّ. وَقِيلَ: الْعِلْمُ مَا يُؤْخَذُ مِنْ أَفْوَاهِ الرِّجَالِ، لِأَنَّهُمْ يَحْفَظُونَ أَحْسَنَ مَا يَسْمَعُونَ، وَيَقُولُونَ أَحْسَنَ مَا يَحْفَظُونَ.

Qīla: man ḥafiẓa farra, wa man kataba qarra. Wa qīla: al-'ilmu mā yu'khadhu min afwāhi ar-rijāl, li-annahum yaḥfaẓūna aḥsana mā yasma'ūn, wa yaqūlūna aḥsana mā yaḥfaẓūn.

Ada dikatakan: "Barang siapa menghafal, ia akan lari (lupa). Dan barang siapa menulis, ia akan tetap (ingat)." Dan dikatakan: "Ilmu itu adalah apa yang diambil dari mulut-mulut para ulama, karena mereka menghafal sebaik-baik yang mereka dengar, dan mengucapkan sebaik-baik yang mereka hafal."

وَسَمِعْتُ عَنْ شَيْخِ الْإِمَامِ الْأَدِيبِ الْأُسْتَاذِ زَيْنِ الْإِسْلَامِ الْمَعْرُوفِ بِالْأَدِيبِ الْمُخْتَارِ يَقُولُ: قَالَ هِلَالُ بْنُ يَسَارٍ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِأَصْحَابِهِ شَيْئًا مِنَ الْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعِدْ لِي مَا قُلْتَ لَهُمْ، فَقَالَ لِي: هَلْ مَعَكَ مِحْبَرَةٌ؟ فَقُلْتُ: مَا مَعِي مِحْبَرَةٌ، فَقَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا هِلَالُ لَا تُفَارِقِ الْمِحْبَرَةَ لِأَنَّ الْخَيْرَ فِيهَا وَفِي أَهْلِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Wa sami'tu 'an Shaykhi al-Imāmi al-Adībi al-Ustādhi Zayni al-Islāmi al-ma'rūfi bi al-Adībi al-Mukhtāri yaqūlu: qāla Hilālu bnu Yasār: ra'aytu an-nabiyya ṣallallāhu 'alayhi wa-sallam yaqūlu li-aṣḥābihi shay'an mina al-'ilmi wa al-ḥikmah, fa-qultu yā Rasūlallāhi a'id lī mā qulta lahum, fa-qāla lī: hal ma'aka miḥbarah? Fa-qultu: mā ma'ī miḥbarah, fa-qāla an-nabiyyu 'alayhi as-salām: yā Hilālu lā tufāriqi al-miḥbarata li-anna al-khayra fīhā wa fī ahlihā ilā yawmi al-qiyāmah.

Saya mendengar ucapan Syaikhul Imam Al-Adib Al-Ustadz Zainul Islam yang terkenal dengan gelar Al-Adib Al-Mukhtar: Hilal bin Yasar berkata: "Kulihat Nabi saw mengemukakan sesuatu dari ilmu dan hikmah kepada para sahabatnya. Lalu aku berkata: 'Ya Rasulullah, ulangilah untukku apa yang telah tuan sampaikan kepada mereka.' Beliau bertanya: 'Apakah engkau membawa botol tinta?' Jawabku: 'Tidak.' Beliau pun bersabda: 'Wahai Hilal, janganlah engkau berpisah dari botol tinta, karena kebaikan itu selalu ada padanya dan pada orang-orang yang membawanya sampai hari kiamat.'"

وَوَصَّى الصَّدْرُ الشَّهِيدُ حُسَامُ الدِّينِ ابْنَهُ شَمْسَ الدِّينِ أَنْ يَحْفَظَ كُلَّ يَوْمٍ شَيْئًا مِنَ الْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ فَإِنَّهُ يَسِيرٌ، وَعَنْ قَرِيبٍ يَكُونُ كَثِيرًا. وَاشْتَرَى عِصَامُ بْنُ يُوسُفَ قَلَمًا بِدِينَارٍ لِيَكْتُبَ مَا يَسْمَعُهُ فِي الْحَالِ، فَالْعُمُرُ قَصِيرٌ وَالْعِلْمُ كَثِيرٌ.

Wa waṣṣā aṣ-Ṣadru ash-Shahīdu Ḥusāmu ad-Dīni ibnahu Shamsa ad-Dīni an yaḥfaẓa kulla yawmin shay'an mina al-'ilmi wa al-ḥikmah fa-innahu yasīr, wa 'an qarībin yakūnu kathīrā. Wa shtarā 'Iṣāmu bnu Yūsufa qalaman bi-dīnārin li-yaktuba mā yasma'uhu fī al-ḥāl, fa al-'umru qaṣīrun wa al-'ilmu kathīr.

Yang mulia Husamuddin berwasiat kepada putranya Syamsuddin agar setiap hari menghafal sedikit ilmu dan sepatah hikmah. Hal itu mudah dilakukan, dan dalam waktu singkat akan menjadi banyak. 'Isham bin Yusuf membeli pena seharga satu dinar untuk mencatat apa yang ia dengar seketika itu. Umur cukup pendek, sedang ilmu cukup banyak.

فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُضَيِّعَ طَالِبُ الْعِلْمِ الْأَوْقَاتَ وَالسَّاعَاتِ وَيَغْتَنِمَ اللَّيَالِيَ وَالْخَلَوَاتِ. يُحْكَى عَنْ يَحْيَى بْنِ مُعَاذٍ الرَّازِيِّ [أَنَّهُ قَالَ] اللَّيْلُ طَوِيلٌ فَلَا تُقَصِّرْهُ بِمَنَامِكَ، وَالنَّهَارُ مُضِيءٌ فَلَا تُكَدِّرْهُ بِآثَامِكَ.

Fa-yanbaghī an lā yuḍayyi'a ṭālibu al-'ilmi al-awqāta wa as-sā'āt wa yaghtanima al-layālī wa al-khalawāt. Yuḥkā 'an Yaḥyā bni Mu'ādhin ar-Rāziyyi [annahu qāla] al-laylu ṭawīlun fa-lā tuqaṣṣirhu bi-manāmik, wa an-nahāru muḍī'un fa-lā tukaddirhu bi-āthāmik.

Pelajar jangan sampai membuang-buang waktu dan saatnya, serta hendaknya mengambil kesempatan di malam hari dan di kala sepi. Dari Yahya bin Mu'adz Ar-Razi disebutkan: "Malam itu panjang, jangan kau potong dengan tidur; dan siang itu bersinar cemerlang, maka jangan kau kotori dengan perbuatan dosa."

B. Mengambil Pelajaran dari Sesepuh

وَيَنْبَغِي أَنْ يَغْتَنِمَ الشُّيُوخَ وَيَسْتَفِيدَ مِنْهُمْ، وَلَيْسَ كُلُّ مَا فَاتَ يُدْرَكُ، كَمَا قَالَ أُسْتَاذُنَا شَيْخُ الْإِسْلَامِ فِي مَشِيخَتِهِ: كَمْ مِنْ شَيْخٍ كَبِيرٍ أَدْرَكْتُهُ وَمَا اسْتَخْبَرْتُهُ. وَأَقُولُ عَلَى هَذَا الْفَوْتِ مُنْشِئًا هَذَا الْبَيْتَ:

Wa yanbaghī an yaghtanima ash-shuyūkha wa yastafīda minhum, wa laysa kullu mā fāta yudraku, kamā qāla ustādzunā Shaykhu al-Islāmi fī mashīkhatih: kam min shaykhin kabīrin adraktuhu wa mā stakhabartuh. Wa aqūlu 'alā hādhā al-fawti munshi'an hādhā al-bayt:

Hendaknya pelajar bisa mengambil pelajaran dari para sesepuh dan mencecap ilmu mereka. Tidak setiap yang telah berlalu bisa didapatkan kembali, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ustadz Syaikhul Islam di masa tua beliau: "Betapa banyak orang tua yang agung ilmu dan keutamaannya, saya temui tapi tidak mengambil sesuatu yang baik darinya." Maka atas kelewatan tersebut, aku berkata dengan mengubah satu bait syair:

لَهْفًا عَلَى فَوْتِ التَّلَاقِي لَهْفَا ۞ مَا كُلُّ مَا فَاتَ وَيَفْنَى يُلْفَى

Lahfan 'alā fawti at-talāqī lahfā ☼ mā kullu mā fāta wa yafnā yulfā

"Sayang seribu sayang atas kehilangan kesempatan bertemu. Tidak semua yang telah lewat dan lenyap dapat ditemukan kembali."

قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِذَا كُنْتَ فِي أَمْرٍ فَكُنْ فِيهِ، وَكَفَى بِالْإِعْرَاضِ عَنْ عِلْمِ اللَّهِ خِزْيًا وَخَسَارًا، وَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْهُ لَيْلًا وَنَهَارًا.

Qāla 'Aliyyun raḍiyallāhu 'anh: idhā kunta fī amrin fa-kun fīh, wa kafā bi al-i'rāḍi 'an 'ilmi Allāhi khizyan wa khasārā, wa-sta'idh bi Allāhi minhu laylan wa nahārā.

Ali ra berkata: "Jika kamu menghadapi suatu perkara, maka tekunilah ia. Berpaling dari ilmu Allah itu cukup akan membuat hina dan menyesal. Mohonlah perlindungan Allah di waktu siang dan malam agar tidak melakukan hal tersebut."

C. Prihatin dan Rendah di Mata Manusia

وَلَا بُدَّ لِطَالِبِ الْعِلْمِ مِنْ تَحَمُّلِ الْمَشَقَّةِ وَالْمَذَلَّةِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، وَالتَّمَلُّقُ مَذْمُومٌ إِلَّا فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَإِنَّهُ لَا بُدَّ لَهُ مِنَ التَّمَلُّقِ لِلْأُسْتَاذِ وَالشَّرِيكِ وَغَيْرِهِمْ لِلِاسْتِفَادَةِ مِنْهُمْ.

Wa lā budda li-ṭālibi al-'ilmi min taḥammuli al-mashaqqati wa al-madhallati fī ṭalabi al-'ilm, wa at-tamalluqu madhmūmun illā fī ṭalabi al-'ilm fa-innahu lā budda lahu mina at-tamalluqi li al-ustādhi wa ash-sharīki wa ghayrihim li al-istifādati minhum.

Pelajar harus sanggup menanggung derita hidup yang terpandang rendah di mata manusia selama menuntut ilmu, karena seorang murid itu harus bercumbu rayu dengan guru, temannya dan juga orang-orang lain untuk mengambil pelajaran dari mereka.

قِيلَ: الْعِلْمُ عِزٌّ لَا ذُلَّ فِيهِ، لَا يُدْرَكُ إِلَّا بِذُلٍّ لَا عِزَّ فِيهِ. وَقَالَ الْقَائِلُ:

Qīla: al-'ilmu 'izzun lā dhulla fīh, lā yudraku illā bi-dhullin lā 'izza fīh. Wa qāla al-qā'ilu:

Ada dikatakan: "Ilmu itu kemuliaan yang tidak bercampur kehinaan, tetapi tidak akan diperoleh kecuali dengan kehinaan yang tidak bercampur kemuliaan" (maksudnya didapat dengan penuh derita yang terpandang rendah di mata manusia). Dan orang berkata:

أَرَى لَكَ نَفْسًا تَشْتَهِي أَنْ تُعِزَّهَا ۞ فَلَسْتَ تَنَالُ الْعِزَّ حَتَّى تُذِلَّهَا

Arā laka nafsan tashtahī an tu'izzahā ☼ fa-lasta tanālu al-'izza ḥattā tudhillahā

"Aku lihat dirimu menginginkan kemuliaan untuk dirinya, maka engkau tidak akan mendapat kemuliaan sampai engkau merendahkan dirinya (dalam menuntut ilmu)."

Posting Komentar untuk "Terjemahan Kitab Ta'lim Muta'allim Fasal 10: Tentang Mengambil Pelajaran dan Mengadopsi Adab Arab Berharakat, Latin dan Indonesia"