Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab ke - 32 : Keutamaan Tawadhu' Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
Mengenal Kitab Lubabul Hadits Karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi
Kitab Lubabul Hadits adalah salah satu kitab hadis legendaris yang disusun oleh ulama besar mazhab Syafi'i, Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Kitab klasik ini merangkum sari pati hadis-hadis pilihan yang berfokus pada panduan praktis ibadah, akhlak mulia, dan spiritual harian. Keunikan utama dari kitab ini adalah penyajiannya yang ringkas tanpa menyertakan rangkaian sanad (periwayat) yang panjang, sehingga memudahkan umat Islam dan penuntut ilmu awam untuk langsung memahami inti pesan setiap hadis.
Struktur Isi dan Daftar Bab Ringkas Lubabul Hadits
Secara struktur, isi Kitab Lubabul Hadits terbagi secara sistematis ke dalam 40 bab yang masing-masing memuat tepat 10 hadis, dengan total keseluruhan 400 hadis. Topik yang dibahas sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Pembahasan di dalamnya dimulai dari bab keutamaan ilmu dan ulama, fadhilah bersuci (thaharah), salat, sedekah, hingga ditutup dengan bab bertema pengingat kematian serta kedahsyatan hari kiamat.
Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab ke-32: Keutamaan Tawadhu' Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
مَنْ تَوَاضَعَ لِلّٰهِ رَفَعَهُ اللهُ، وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ
Man tawādha'a lillāhi rafa'ahullāhu, wa man takabbara wadha'ahullāh.
"Barang siapa bertawadhu' kepada Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya (di dunia dan di akhirat). Dan barang siapa yang sombong, maka Allah akan merendahkannya."
مَا مِنْ اٰدَمِيٍّ اِلَّا وَفِيْ رَأْسِهِ سِلْسِلَتَانِ، سِلْسِلَةٌ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَسِلْسِلَةٌ فِي الْاَرْضِ السَّابِعَةِ، فَاِذَا تَوَاضَعَ رَفَعَهُ اللهُ بِالسِّلْسِلَةِ اِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، وَاِذَا تَجَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ بِالسِّلْسِلَةِ اِلَى الْاَرْضِ السَّابِعَةِ
Mā min ādamiyyin illā wa fī ra'sihi silsilatāni, silsilatun fis-samā'is-sābi'ati wa silsilatun fil-ardhis-sābi'ati, fa idzā tawādha'a rafa'ahullāhu bis-silsilati ilas-samā'is-sābi'ah, wa idzā tajabbara wadha'ahullāhu bis-silsilati ilal-ardhis-sābi'ah.
"Tiada anak Adam kecuali di kepalanya terdapat 2 rantai, satu rantai di dalam langit ketujuh dan satu rantai lainnya di dalam bumi ketujuh. Kemudian tatkala dia bertawadhu' maka Allah mengangkatnya dengan rantai itu sampai ke langit ketujuh. Dan tatkala dia sombong, maka Allah merendahkannya dengan rantai itu sampai ke bumi ketujuh."
اِذَا رَأَيْتُمُ الْمَتَوَاضِعَيْنَ فَتَوَاضَعُوْا لَهُمْ وَاِذَا رَأَيْتُمُ الْمُتَكَبِّرِيْنَ فَتَكَبَّرُوْا عَلَيْهِمْ
Idzā ra'aitumul-mutawādhi'īna fatawādha'ū lahum wa idzā ra'aitumul-mutakabbirīna fatakabbarū 'alaihim.
"Tatkala kalian melihat orang-orang yang bertawadhu', maka bertawadhu'lah kalian kepada mereka. Dan tatkala kalian melihat orang yang sombong, maka sombonglah kalian kepada mereka."
تَوَاضَعُوْا مَعَ الْمَتَوَاضِعِيْنَ فَاِنَّ التَّوَاضُعَ مَعَ الْمَتَوَاضِعِيْنَ صَدَقَةٌ، وَتَكَبَّرُوْا مَعَ الْمُتَكَبِّرِيْنَ فَاِنَّ التَّكَبُّرَ مَعَ الْمُتَكَبِّرِيْنَ صَدَقَةٌ
Tawādha'ū ma'al-mutawādhi'īna fa innat-tawādhu'a ma'al-mutawādhi'īna shadaqatun, wa takabbarū ma'al-mutakabbirīna fa innat-takabbura ma'al-mutakabbirīna shadaqah.
"Bertawadhu'lah kalian bersama orang-orang yang bertawadhu', karena sesungguhnya bertawadhu' bersama orang-orang yang bertawadhu' adalah shodaqoh. Dan sombonglah kalian bersama dengan orang-orang yang sombong, karena sesungguhnya bersombong bersama orang-orang yang sombong adalah shodaqoh (1)."
Catatan (1): Maksud hadist di atas adalah membalas tawadhu' kepada orang yang bertawadhu' adalah shodaqoh, dan menyombongi orang-orang yang sombong adalah shodaqoh, coba lihat pada catatan (2) di bawah.
تِهْ عَلَى التُّيَّاهِ فَاِنَّ التِّيَهَ عَلَى التُّيَّاهِ صَدَقَةٌ
Tih 'alat-tuyyāhi fa innat-tiyaha 'alat-tuyyāhi shadaqah.
"Takabburlah (sombonglah) kepada orang-orang yang takabbur karena sesungguhnya takabbur kepada orang yang takabbur adalah shodaqoh (2)."
Catatan (2): Jangan memaknai hadist hanya dari segi teks saja dengan asumsi bahwa menyombongi orang sombong adalah boleh dan dianjurkan, ini salah karena kita harus bertanya pada hati. Menyombongi orang yang sombong dengan tujuan untuk memberikan pelajaran dan kesadaran bahwa sombong adalah dilarang maka hal itu sangat dianjurkan. Tetapi menyombongi orang sombong dengan tujuan tidak terima dan karena perasaan emosi, maka hal itu sama saja menyeret diri ke dalam sifat sombong baru, dan jelas tidak diperbolehkan.
رَأْسُ التَّوَاضُعِ اَنْ يَبْتَدِئَ بِالسَّلَامِ عَلَى مَنْ لَقِيَهُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي الْمَجَالِسِ
Ra'sut-tawādhu'i an yabtadi'a bis-salāmi 'alā man laqiyahu minal-muslimīna fil-majālis.
"Pokok dari sifat tawadhu' adalah mengawali dengan ucapan salam kepada orang dari golongan muslimin yang ditemuinya di dalam sebuah majlis."
التَّوَاضُعُ مَعَائِدُ الشَّرَفِ
At-tawādhu'u ma'ā'idusy-syaraf.
"Tawadhu' adalah sasaran kemuliaan."
الكَرَمُ التَّقْوَى وَالشَّرَفُ التَّوَاضُعُ وَالْيَقِيْنُ الْغِنَى
Al-karamut-taqwā wasy-syarafut-tawādhu'u wal-yaqīnul-ghinā.
"Kemurahan itu adalah taqwa, kemuliaan itu adalah tawadhu', dan keyakinan itu adalah kekayaan (3)."
Catatan (3): Dalam Kitab Tanqihul Qoul oleh Imam Nawawi Al-Banteni dijelaskan, "kemurahan itu ada di dalam taqwa dan kemuliaan itu ada di dalam tawadhu'", hal itu merujuk pada bahwa setiap manusia memiliki derajat, kemurahan dan kemuliaan dinilai dari hati dan perbuatan bukan dari nasab dan keturunan. Sedangkan maksud "keyakinan ada di dalam kekayaan" berarti kaya hati yaitu yakin dengan pasti bahwa Allah SWT sudah menjatah rizki hamba-hamba-Nya, sehingga dia tidak akan mengejar rizki mati-matian sampai melalaikan ibadah.
كُلُّ ذِيْ نِعْمَةٍ مَحْسُوْدٌ صَاحِبُهَا اِلَّا التَّوَاضُعُ
Kullu dzī ni'matin mahsūdun shāhibuhā illat-tawādhu'.
"Setiap yang memiliki kenikmatan akan dihasudi pemiliknya, kecuali tawadhu'."
التَّوَاضُعُ مِنْ اَخْلَاقِ الْاَنْبِيَاءِ وَالتَّكَبُّرُ مِنْ اَخْلَاقِ الْكُفَّارِ الْفَرَاعِنَةِ
At-tawādhu'u min akhlāqil-anbiyā'i wat-takabburu min akhlāqil-kuffāril-farā'inah.
"Tawadhu' adalah sebagian akhlaq dari para nabi, sombong adalah sebagian akhlaq dari orang-orang kafir dan para Fir'aun."
مَنْ تَكَبَّرَ عَلَى الْفُقَرَاءِ لَعَنَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَبَّرَ عَلَى الْعُلَمَاءِ اَخْزَاهُ اللهُ
Man takabbara 'alal-fuqarā'i la'anahullāhu wa man takabbara 'alal-'ulamā'i akhzāhullāh.
"Barang siapa sombong kepada para orang fakir maka Allah melaknatinya, barang siapa sombong kepada para ulama' maka Allah merendahkannya."
Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab ke - 32 : Keutamaan Tawadhu' Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya"