Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab 37 : Keutamaan Mengingat Kematian Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
Mengenal Kitab Lubabul Hadits Karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi
Kitab Lubabul Hadits adalah salah satu kitab hadis legendaris yang disusun oleh ulama besar mazhab Syafi'i, Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Kitab klasik ini merangkum sari pati hadis-hadis pilihan yang berfokus pada panduan praktis ibadah, akhlak mulia, dan spiritual harian. Keunikan utama dari kitab ini adalah penyajiannya yang ringkas tanpa menyertakan rangkaian sanad (periwayat) yang panjang, sehingga memudahkan umat Islam dan penuntut ilmu awam untuk langsung memahami inti pesan setiap hadis.
Struktur Isi dan Daftar Bab Ringkas Lubabul Hadits
Secara struktur, isi Kitab Lubabul Hadits terbagi secara sistematis ke dalam 40 bab yang masing-masing memuat tepat 10 hadis, dengan total keseluruhan 400 hadis. Topik yang dibahas sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Pembahasan di dalamnya dimulai dari bab keutamaan ilmu dan ulama, fadhilah bersuci (thaharah), salat, sedekah, hingga ditutup dengan bab bertema pengingat kematian serta kedahsyatan hari kiamat.
Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab 37: Keutamaan Mengingat Kematian Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
الْمَوْتُ جِسْرٌ يُوْصِلُ الْحَبِيْبَ إِلَى الْحَبِيْبِ
Al-mautu jisrun yūshilul-habība ilal-habīb.
"Kematian adalah jembatan yang menghubungkan kekasih (orang mukmin) kepada Kekasihnya (Allah SWT)."
الْمَوْتُ أَرْبَعٌ : مَوْتُ الْعُلَمَاءِ وَمَوْتُ الْأَغْنِيَاءِ وَمَوْتُ الْفُقَرَاءِ وَمَوْتُ الْأُمَرَاءِ، فَمَوْتُ الْعُلَمَاءِ ثُلْمَةٌ فِي الدِّيْنِ وَمَوْتُ الْأَغْنِيَاءِ حَسَرَةٌ وَمَوْتُ الْفُقَرَاءِ رَاحَةٌ وَمَوْتُ الْأُمَرَاءِ فِتْنَةٌ
Al-mautu arba'un: mautul-'ulamā'i wa mautul-aghnīyā'i wa mautul-fuqarā'i wa mautul-umarā', famautul-'ulamā'i tsulmatun fid-dīn wa mautul-aghnīyā'i hasratun wa mautul-fuqarā'i rāḥatun wa mautul-umarā'i fitnah.
"Kematian ada 4, yaitu kematian para ulama', kematian orang-orang kaya, kematian orang-orang fakir, dan kematian para pemimpin. Kematian para ulama' adalah perpecahan di dalam agama, kematian orang-orang kaya adalah penyesalan (kesedihan mendalam), kematian orang-orang fakir adalah istirahat (ketenangan), dan kematian para pemimpin adalah fitnah (musibah)."
إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لَا يَمُوْتُوْنَ وَإِنَّمَا يَنْتَقِلُوْنَ مِنْ دَارٍ إِلَى دَارٍ أُخْرٰى
Inna auliyā'allāhi lā yamūtūna wa innamā yantaqilūna min dārin ilā dārin ukhrā.
"Sesungguhnya para kekasih (wali) Allah tidaklah mati, mereka hanya berpindah dari satu rumah (dunia) ke rumah lainnya."
نِعْمَ الْمَوْتُ رَاحَةُ الْمُؤْمِنِ
Ni'mal-mautu rāḥatul-mu'min.
"Sebaik-baik kematian adalah istirahatnya orang mukmin."
مَوْتُ الْعُلَمَاءِ ظُلْمَةٌ فِي الدِّيْنِ
Mautul-'ulamā'i zhulmatun fid-dīn.
"Kematian para ulama' adalah kegelapan di dalam agama."
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Idzā mātabnu Ādama inqatha'a 'amaluhu illā min tsalātsin: shadaqatin jāriyatin au 'ilmin yuntafa'u bihi au waladin shāliḥin yad'ū lah.
"Tatkala anak Adam (manusia) meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali 3 perkara, yaitu shodaqoh jariyah, atau ilmu bermanfaat, atau anak yang sholeh yang mau mendoakannya."
اُذْكُرُوْا هَاذِمَ اللَّذَّاتِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا هَاذِمُ اللَّذَّاتِ ؟، قَالَ: الْمَوْتُ الْمَوْتُ الْمَوْتُ ثَلَاثًا
Udzkurū hādzimal-ladzdzāti, qālū: Yā rasūlallāhi wa mā hādzimul-ladzdzāt? Qāla: Al-mautul-mautul-mautu tsalātsā.
"Ingatlah kalian kepada perkara yang bisa memutus kenikmatan. Para sahabat bertanya, 'Wahai Rosulullah, ada apa itu perkara yang bisa memutus kenikmatan?'. Rosulullah SAW menjawab, 'Kematian, kematian, kematian' (Rosulullah SAW mengatakannya) sebanyak 3 kali."
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْعَابِرُ سَبِيْلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ
Kun fid-dun-yā ka'annaka gharībun au 'ābiru sabīlin wa 'udda nafsaka min ahlil-qubūr.
"Jadilah di dunia seperti pengembara atau orang yang melewati jalan, dan anggaplah dirimu termasuk ahli kubur."
إِذَا مَاتَ الْعَالِمُ بَكَتْ عَلَيْهِ أَهْلُ السَّمَوٰاتِ وَالْأَرْضِ سَبْعِيْنَ يَوْمًا
Idzā mātal-'ālimu bakat 'alaihi ahlus-samāwāti wal-ardhi sab'īna yaumā.
"Tatkala orang alim meninggal dunia, maka para penduduk langit dan bumi menangisinya selama 70 hari."
مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ الْعَالِمِ فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ، قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
Man lam yaḥzan limautil-'ālimi fahuwa munāfiqun munāfiqun munāfiq, qālahā tsalātsa marrāt.
"Barang siapa yang tidak bersedih atas kematian orang alim, maka dia adalah orang munafik, orang munafik, orang munafik, Rosulullah SAW mengatakan itu sebanyak 3 kali."
إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ تَقُوْلُ الْمَلَائِكَةُ مَا قَدَّمَ وَيَقُوْلُ النَّاسُ مَا خَلَّفَ
Idzā mātal-mayyitu taqūlul-malā'ikatu mā qaddama wa yaqūlun-nāsu mā khallaf.
"Tatkala mayit meninggal dunia, maka malaikat bertanya tentang apa yang telah dilakukannya, dan manusia (orang-orang) bertanya tentang apa yang telah ditinggalkannya (diwariskannya)."
Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab 37 : Keutamaan Mengingat Kematian Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya"