Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Kitab Sullam Taufiq 39 : Fasal Tentang Kewajiban dalam Muamalah dan Pernikahan Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya

Terjemah Kitab Sullam At-Taufiq 39 : Fasal Tentang Kewajiban dalam Muamalah dan Pernikahan Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
Terjemah Kitab Sullam At-Taufiq 39 : Fasal Tentang Kewajiban dalam Muamalah dan Pernikahan Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya

Terjemah Kitab Sullam At-Taufiq 39 : Fasal Tentang Kewajiban dalam Muamalah dan Pernikahan Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya

فَصْلٌ فِيمَا يَجِبُ فِي الْمُعَامَلَاتِ وَالْأَنْكِحَةِ

Faṣlun fīmā yajibu fil-mu'āmalāti wal-ankihah

Pasal tentang apa yang wajib dalam muamalah dan pernikahan

يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ أَنْ لَا يَدْخُلَ فِي شَيْءٍ حَتَّى يَعْلَمَ مَا أَحَلَّ اللهُ تَعَالَى مِنْهُ وَمَا حَرَّمَ؛ لِأَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ تَعَبَّدَنَا بِأَشْيَاءَ فَلَابُدَّ مِنْ مُرَاعَاةِ مَا تَعَبَّدَنَا بِهِ.

Yajibu 'alā kulli muslimin mukallafin an lā yadkhula fī syai'in ḥattā ya'lama mā aḥallallāhu ta'ālā minhu wa mā ḥarrama; li-annallāha subḥānahū ta'abbadanā bi-asyyā'a fa-lābudda min murā'āti mā ta'abbadanā bih.

Wajib atas setiap Muslim yang mukallaf untuk tidak memasuki (melakukan) sesuatu hingga ia mengetahui apa yang Allah Ta'ala halalkan darinya dan apa yang Dia haramkan; karena sesungguhnya Allah Subhanahu telah membebani kita dengan ibadah melalui berbagai hal, maka harus memperhatikan apa yang Dia bebankan kepada kita.

Catatan istilah:
• Mukallaf — orang yang sudah terkena beban syariat (Islam, baligh, berakal).
• Mu'āmalah — transaksi/interaksi antar manusia (jual beli, sewa, utang, dsb.).
• Ta'abbada — menjadikan sesuatu sebagai ibadah (beban syariat).
• Murā'āh — memperhatikan/menjaga dengan cermat.

وَقَدْ أَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا، وَقَدْ قَيَّدَ الشَّرْعُ هَذَا الْبَيْعَ، الْمُعَرَّفَ بِآلَةِ التَّعْرِيفِ، بِقُيُودٍ وَشُرُوطٍ وَأَرْكَانٍ لَابُدَّ مِنْ مُرَاعَاتِهَا، فَعَلَى مَنْ أَرَادَ الْبَيْعَ وَالشِّرَاءَ أَنْ يَتَعَلَّمَ ذَلِكَ، وَإِلَّا أَكَلَ الرِّبَا، شَاءَ أَمْ أَبَى؛

Wa qad aḥallallāhul-bai'a wa ḥarramar-ribā, wa qad qayyadasy-syar'u hādzal-bai'a, al-mu'arrafa bi-ālātit-ta'rīf, bi-quyūdin wa syurūṭin wa arkānin lābudda min murā'ātihā, fa 'alā man arādal-bai'a wasy-syirā'a an yata'allama dzālik, wa illā akalar-ribā, syā'a am abā;

Dan sungguh Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba; dan syariat telah membatasi jual beli ini — yang didefinisikan dengan alat definisi (istilah) — dengan batasan-batasan, syarat-syarat, dan rukun-rukun yang harus diperhatikan. Maka siapa yang ingin melakukan jual beli, hendaklah ia mempelajarinya; jika tidak, ia akan memakan riba, suka maupun tidak.

Catatan istilah:
• Bai' — jual beli; akad tukar-menukar harta dengan harta.
• Ribā — riba; tambahan yang diharamkan dalam transaksi tertentu (riba fadhl, riba nasī'ah).
• Quyūd — batasan-batasan.
• Syurūṭ — syarat-syarat sah.
• Arkān — rukun-rukun (unsur pokok yang harus ada dalam akad).
• Ālātut-ta'rīf — alat definisi; maksudnya istilah "al-bai'" sebagaimana didefinisikan dalam kitab fikih.

وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «التَّاجِرُ الصَّدُوقُ يُحْشَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ» [رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ]،

Wa qad qāla Rasūlullāhi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam: «at-tājiruṣ-ṣadūqu yuḥsyru yaumal-qiyāmati ma'aṣ-ṣiddīqīna wasy-syuhadā'i» [rawāhu at-Tirmidzī wa ṣaḥḥaḥah],

Dan sungguh Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Pedagang yang jujur akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama para shiddiqin dan para syuhada." [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia menilainya sahih],

Catatan istilah:
• Tājir — pedagang.
• Ṣadūq — jujur/benar.
• Ṣiddīqīn — orang-orang yang sangat jujur dalam keimanan dan ucapannya (derajat di bawah nabi).
• Syahadā' — para syuhada; orang yang mati di jalan Allah.
• At-Tirmidzi — Imam hadis penulis kitab *Sunan at-Tirmidzi*.

وَمَا ذَاكَ إِلَّا لِأَجْلِ مَا يَلْقَاهُ مِنْ مُجَاهَدَةِ نَفْسِهِ وَهَوَاهُ وَقَهْرِهِمَا عَلَى إِجْرَاءِ الْعُقُودِ عَلَى مَا أَمَرَ اللهُ، وَإِلَّا فَلَا يَخْفَى مَا تَوَعَّدَ اللهُ مَنْ تَعَدَّى الْحُدُودَ،

Wa mā dzāka illā li-ajli mā yalqāhu min mujāhadati nafsihī wa hawāhu wa qahrihimā 'alā ijrā'il-'uqūdi 'alā mā amarallāh, wa illā fa lā yakhfā mā tawa''adallāhu man ta'addal-ḥudūd,

Dan itu tidak lain karena apa yang ia hadapi berupa mujahadah (perjuangan) melawan dirinya dan hawa nafsunya, serta memaksa keduanya untuk menjalankan akad-akad sesuai apa yang Allah perintahkan; jika tidak, maka tidak samar lagi apa yang Allah ancamkan kepada orang yang melampaui batas-batas.

Catatan istilah:
• Mujāhadah — perjuangan sungguh-sungguh melawan hawa nafsu.
• Hawā — hawa nafsu/keinginan yang cenderung menyimpang.
• 'Uqūd — akad-akad (transaksi/perjanjian).
• Ḥudūd — batas-batas yang ditetapkan Allah.

ثُمَّ إِنَّ بَقِيَّةَ الْعُقُودِ، مِنَ الْإِجَارَةِ وَالْقِرَاضِ وَالرَّهْنِ وَالْوَكَالَةِ وَالْوَدِيعَةِ وَالْعَارِيَّةِ وَالشَّرِكَةِ وَالْمُسَاقَاةِ وَغَيْرِهَا، كَذَلِكَ لَابُدَّ مِنْ مُرَاعَاةِ شُرُوطِهَا وَأَرْكَانِهَا.

Tsumma inna baqiyyatal-'uqūdi, minal-ijārati wal-qirāḍi war-rahni wal-wakālati wal-wadī'ati wal-'āriyyati wasy-syarikati wal-musāqāti wa ghairihā, kadzālika lābudda min murā'āti syurūṭihā wa arkānihā.

Kemudian sesungguhnya akad-akad lainnya, dari: ijārah (sewa), qirāḍ (bagi hasil), rahn (gadai), wakālah (perwakilan), wadī'ah (titipan), 'āriyyah (pinjam pakai), syirkah (kongsi), musāqāh (bagi hasil kebun), dan lainnya — demikian pula — harus memperhatikan syarat dan rukunnya.

Catatan istilah:
• Ijārah — akad sewa-menyewa (jasa atau barang).
• Qirāḍ / Muḍārabah — akad kerja sama modal dengan sistem bagi hasil.
• Rahn — gadai; menahan barang sebagai jaminan utang.
• Wakālah — perwakilan; menyerahkan urusan kepada orang lain.
• Wadī'ah — titipan; barang yang dititipkan untuk dijaga.
• 'Āriyyah — pinjam pakai (mengambil manfaat tanpa ganti).
• Syarikah — kongsi/serikat usaha.
• Musāqāh — akad kerja sama merawat tanaman/kebun dengan imbalan sebagian hasil.

وَعَقْدُ النِّكَاحِ يَحْتَاجُ إِلَى مَزِيدِ احْتِيَاطٍ وَتَثَبُّتٍ حَذَرًا مِمَّا يَتَرَتَّبُ عَلَى فَقْدِ ذَلِكَ

Wa 'aqdun-nikāḥi yaḥtāju ilā mazīdi iḥtiyāṭin wa tatsabbutin ḥadzaran mimmā yatarattabu 'alā faqdi dzālik

Dan akad nikah membutuhkan kehati-hatian yang lebih dan ketelitian (verifikasi), karena khawatir terhadap akibat yang timbul karena tidak adanya hal itu.

Catatan istilah:
• 'Aqdun-nikāḥ — akad pernikahan; harus memenuhi rukun dan syarat (wali, dua saksi, mahar, ijab-qabul, dan tidak ada penghalang syar'i).
• Iḥtiyāṭ — kehati-hatian.
• Tatsabbut — ketelitian/verifikasi; memastikan semua syarat terpenuhi sebelum akad.

Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Sullam Taufiq 39 : Fasal Tentang Kewajiban dalam Muamalah dan Pernikahan Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya"