Terjemah Kitab Sullam Taufiq 38 : Fasal Tentang Wajib Haji dan Umrah serta Hukum Berburu Hewan dan Merusak Tumbuhan di Tanah Haram Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
Terjemah Kitab Sullam At-Taufiq 38 : Fasal Tentang Wajib Haji dan Umrah serta Hukum Berburu Hewan dan Merusak Tumbuhan di Tanah Haram Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
فَصْلٌ فِي وَاجِبَاتِ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ
Faṣlun fī wājibātil-ḥajji wal-'umrah
Pasal tentang wajib-wajib haji dan umrah
وَيَجِبُ:
Wa yajibu:
Dan wajib:
أَنْ يُحْرِمَ مِنَ الْمِيقَاتِ
An yuḥrima minal-mīqāt
Berihram dari miqat
• Mīqāt — batas tempat (miqat makani) yang ditetapkan syariat untuk memulai ihram, mis. Dzul Hulaifah (bir Ali), Yalamlam, Qarnul Manazil, Juhfah, dan Dzatu 'Irq.
• Wājib — kewajiban dalam haji/umrah yang jika ditinggalkan harus diganti dengan dam (menyembelih kambing); berbeda dengan rukun yang tidak bisa diganti dengan dam.
وَفِي الْحَجِّ:
Wa fil-ḥajj:
Dan dalam (ibadah) haji:
مَبِيتُ مُزْدَلِفَةَ
Mabītu Muzdalifah
Bermalam di Muzdalifah
• Muzdalifah — tempat di antara Mina dan Arafah; jamaah haji bermalam di sana pada malam 10 Dzulhijjah (malam Idul Adha) setelah wukuf.
وَمِنًى
Wa Minā
Dan (bermalam di) Mina
• Minā — lembah dekat Makkah; jamaah haji bermalam di Mina pada malam-malam hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) untuk melempar jumrah.
وَرَمْيُ جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ يَوْمَ النَّحْرِ
Wa ramyu jamratil-'Aqabati yauman-naḥr
Dan melempar jumrah Aqabah pada hari raya kurban (10 Dzulhijjah)
• Jamratul-'Aqabah — jumrah besar (kubra) yang terletak paling dekat dengan Makkah; dilempar 7 kerikil pada hari Nahr (Idul Adha).
• Yaumun-naḥr — hari penyembelihan kurban, yaitu 10 Dzulhijjah.
وَرَمْيُ الْجَمَرَاتِ الثَّلَاثِ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ
Wa ramyul-jamarāts-tsalātsi ayyāmat-tasyrīq
Dan melempar tiga jumrah pada hari-hari tasyrik
• Al-Jamarātuts-tsalāts — tiga tugu jumrah: Ūlā (kubra), Wusṭā, dan 'Aqabah.
• Ayyām tasyrīq — tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah; setiap jumrah dilempar 7 kerikil setiap hari (total 21 kerikil per hari).
وَطَوَافُ الْوَدَاعِ
Wa ṭawāful-wadā'
Dan thawaf wada' (perpisahan)
• Ṭawāful-wadā' — thawaf perpisahan yang dilakukan sebelum meninggalkan Makkah setelah selesai seluruh rangkaian haji.
فَصْلٌ فِي حُكْمِ صَيْدِ الْحَرَمَيْنِ وَنَبَاتِهِمَا
Faṣlun fī ḥukmi ṣaidil-ḥaramaini wa nabātihimā
Pasal tentang hukum Berburu dan merusak tumbuhan di dua tanah haram (Makkah dan Madinah)
وَيَحْرُمُ صَيْدُ الْحَرَمَيْنِ، وَنَبَاتُهُمَا، عَلَى مُحْرِمٍ وَحَلَالٍ، وَتَزِيدُ مَكَّةُ بِوُجُوبِ الْفِدْيَةِ.
Wa yaḥrumu ṣaidul-ḥaramaini, wa nabātuhumā, 'alā muḥrimin wa ḥalāl, wa tazīdu Makkatu bi-wujūbil-fidyah.
Dan haram (memburu) buruan dua tanah haram, dan (memetik) tumbuhannya, atas muhrim maupun halal (yang tidak ihram); dan Makkah bertambah (ketentuannya) dengan wajibnya fidyah.
• Ḥaramain — dua tanah haram: Makkah (al-Ḥaram al-Makkī) dan Madinah (al-Ḥaram al-Madanī).
• Ṣaid — hewan buruan darat (yang halal dimakan); haram dibunuh/diburu di kawasan haram.
• Nabāt — tumbuhan; haram memetik/menebang pohon yang tumbuh liar di tanah haram.
• Muḥrim — orang dalam keadaan ihram.
• Ḥalāl — orang yang tidak sedang ihram.
• Fidyah — tebusan/denda; khusus untuk Makkah, baik muhrim maupun halal wajib membayar fidyah (dam) jika melanggar, karena kemuliaan tanah haram Makkah.
• Menurut madzhab Syafi'i: di Madinah, jika dilakukan oleh orang ihram wajib fidyah, sedangkan orang halal hanya berdosa (tidak wajib fidyah).
Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Sullam Taufiq 38 : Fasal Tentang Wajib Haji dan Umrah serta Hukum Berburu Hewan dan Merusak Tumbuhan di Tanah Haram Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya"