Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Kitab Sullam Taufiq 33 : Fasal Tentang Orang yang Wajib Berpuasa dan yang Boleh Berbuka Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya

Terjemah Kitab Sullam At-Taufiq 33 : Fasal Tentang Orang yang Wajib Berpuasa dan yang Boleh Berbuka Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
Terjemah Kitab Sullam At-Taufiq 33 : Fasal Tentang Orang yang Wajib Berpuasa dan yang Boleh Berbuka Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya

Terjemah Kitab Sullam At-Taufiq 33 : Fasal Tentang Orang yang Wajib Berpuasa dan yang Boleh Berbuka Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya

فَصْلٌ فِيمَنْ يَجِبُ عَلَيْهِ الصَّوْمُ وَمَنْ يَجُوزُ لَهُ الْفِطْرُ

Faṣlun fī man yajibu 'alaihiṣ-ṣaumu wa man yajūzu lahul-fiṭr

Pasal tentang orang yang wajib atasnya puasa dan orang yang boleh baginya berbuka

يَجِبُ صَوْمُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ، مِنْ حَائِضٍ وَنُفَسَاءَ، وَيَجِبُ عَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ.

Yajibu ṣaumu syahri Ramaḍāna 'alā kulli muslimin mukallafin, min ḥā'iḍin wa nufasā'a, wa yajibu 'alaihimal-qaḍā'.

Puasa bulan Ramadhan wajib atas setiap Muslim yang mukallaf, termasuk (meskipun) perempuan haid dan nifas; dan wajib atas keduanya mengqadha (mengganti puasa).

Catatan istilah:
• Mukallaf — orang yang sudah terkena beban syariat (Islam, baligh, dan berakal).
• Hā'iḍ — perempuan yang sedang haid (menstruasi); haram berpuasa saat haid, wajib qadha setelah suci.
• Nufasā' — perempuan yang sedang nifas (darah pasca melahirkan); haram berpuasa, wajib qadha setelah suci.
• Qaḍā' — mengganti/menunaikan ibadah yang tertinggal setelah waktunya berlalu.

وَيَجُوزُ الْفِطْرُ لِمُسَافِرٍ سَفَرَ قَصْرٍ وَإِنْ لَمْ يَشُقَّ عَلَيْهِ الصَّوْمُ.

Wa yajūzul-fiṭru li-musāfirin safara qaṣrin wa in lam yasyaqqa 'alaihiṣ-ṣaum.

Dan boleh berbuka bagi musafir (dalam perjalanan) dengan safar qashar, walaupun puasa tidak memberatkan baginya.

Catatan istilah:
• Safar qaṣr — perjalanan yang membolehkan qashar shalat (umumnya ≥ 2 marhalah / ± 80–89 km menurut mayoritas ulama).
• Rukhshah — keringanan syariat (seperti boleh berbuka saat safar, sakit, hamil, menyusui).

وَيَجُوزُ الْفِطْرُ لِمَرِيضٍ، وَحَامِلٍ، وَمُرْضِعٍ، إِذَا شَقَّ عَلَيْهِمْ مَشَقَّةً لَا تُحْتَمَلُ الْفِطْرُ وَيَجِبُ عَلَيْهِمُ الْقَضَاءُ.

Wa yajūzul-fiṭru li-marīḍin, wa ḥāmilin, wa murḍi'in, idzā syaqqa 'alaihim masyaqqatan lā tuḥtamalu al-fiṭru wa yajibu 'alaihimul-qaḍā'.

Dan boleh berbuka bagi orang sakit, perempuan hamil, dan perempuan menyusui, apabila (puasa) memberatkan mereka dengan masyaqqah (kesulitan) yang tidak tertahankan; dan wajib atas mereka mengqadha.

Catatan istilah:
• Marīḍ — orang sakit; boleh berbuka jika puasa memperparah/memperlambat kesembuhan.
• Ḥāmil — perempuan hamil; boleh berbuka bila khawatir atas dirinya atau janinnya.
• Murḍi' — perempuan menyusui; boleh berbuka bila khawatir atas dirinya atau bayinya.
• Masyaqqah lā tuḥtamal — kesulitan/kesukaran yang tidak wajar ditanggung (bukan sekadar lelah ringan).
• Menurut madzhab Syafi'i: hamil dan menyusui boleh berbuka dan **wajib qadha** (bukan fidyah), meskipun sebagian ulama lain membolehkan fidyah jika khawatir hanya atas bayi.

Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Sullam Taufiq 33 : Fasal Tentang Orang yang Wajib Berpuasa dan yang Boleh Berbuka Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya"