Terjemahan Kitab Ta'lim Muta'allim Fasal 7 Tentang tawakal Arab Berharakat, Latin dan Indonesia
| Terjemahan Kitab Ta'lim Muta'allim Fasal 7: Tawakal |
Kitab Ta'limul Muta'allim, sebuah karya klasik oleh Syekh Al-Zarnuji, merupakan panduan fundamental mengenai etika, metode, dan nilai spiritual dalam menuntut ilmu. Kitab ini menekankan pentingnya adab dan penghormatan, terutama kepada guru, sebagai kunci keberkahan dan kesuksesan dalam belajar, sehingga tetap relevan sebagai acuan pendidikan karakter di pesantren Indonesia
Terjemahan Fasal 7: Tentang Tawakal Kitab Ta'lim Muta'allim Arab berharakat, Latin, dan terjemah Indonesia
فَصْلٌ ٧ فِي التَّوَكُّلِ
A. PENGARUH RIZKI
ثُمَّ لَا بُدَّ لِطَالِبِ الْعِلْمِ مِنَ التَّوَكُّلِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ وَلَا يَهْتَمَّ لِأَمْرِ الرِّزْقِ وَلَا يَشْغَلْ قَلْبَهُ بِذَلِكَ. رَوَى أَبُو حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ الزُّبَيْدِيِّ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَفَقَّهَ فِي دِينِ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ تَعَالَى هَمَّهُ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.
Thumma lā budda li-ṭālibi al-'ilmi mina at-tawakkuli fī ṭalabi al-'ilmi wa lā yahtamma li-amri ar-rizqi wa lā yashghal qalbahu bi-dhālika. Rawā Abū Ḥanīfata raḥimahu Allāh 'an 'Abdillāhi bni al-Ḥārithi az-Zubaydiyyi ṣāḥibi Rasūlillāhi ṣallallāhu 'alayhi wa-sallam: man tafaqqaha fī dīni Allāhi kafāhu Allāhu ta'ālā hammah wa razaqahu min ḥaythu lā yaḥtasib.
Pelajar harus bertawakal dalam menuntut ilmu. Jangan goncang karena masalah rezeki, dan hatinya pun jangan terbawa ke sana. Abu Hanifah meriwayatkan dari Abdullah bin Al-Harits Az-Zubaidiy sahabat Rasulullah saw: "Barang siapa mempelajari agama Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak diduga sebelumnya."
فَإِنَّ مَنِ اشْتَغَلَ قَلْبُهُ بِأَمْرِ الرِّزْقِ مِنَ الْقُوتِ وَالْكِسْوَةِ قَلَّ مَا يَتَفَرَّغُ لِتَحْصِيلِ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَمَعَالِي الْأُمُورِ. قِيلَ:
Fa-inna mani shtaghala qalbuhu bi-amri ar-rizqi mina al-qūti wa al-kiswati qalla mā yatafarragu li-taḥṣīli makārimi al-akhlāqi wa ma'āli al-umūr. Qīla:
Karena orang yang hatinya telah terpengaruh urusan rezeki baik makanan atau pakaian, maka jarang sekali yang dapat meluangkan waktu untuk mencapai budi luhur dan perkara-perkara yang mulia. Dikatakan dalam syair:
دَعِ الْمَكَارِمَ لَا تَرْحَلْ لِبُغْيَتِهَا ۞ وَاقْعُدْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الطَّاعِمُ الْكَاسِي
Da'i al-makārima lā tarḥal li-bughyatihā ☼ wa-q'ud fa-innaka anta aṭ-ṭā'imu al-kāsī
"Tinggalkan kemuliaan, jangan kau mencari. Duduklah dengan tenang, kau akan disuapi dan dipakaiani."
قَالَ رَجُلٌ لِمَنْصُورٍ الْحَلَّاجِ: أَوْصِنِي، فَقَالَ الْمَنْصُورُ: هِيَ نَفْسُكَ، إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا شَغَلَتْكَ.
Qāla rajulun li-Manṣūrin al-Ḥallāj: awṣinī, fa-qāla al-Manṣūr: hiya nafsuka, in lam tashtaghlihā shaghalatka.
Ada seorang lelaki berkata kepada Manshur Al-Hallaj: "Berilah aku wasiat!" Ia pun berkata: "Wasiatku adalah hawa nafsumu. Jika tidak kau sibukkan, niscaya ia akan menyibukkanmu."
فَيَنْبَغِي لِكُلِّ أَحَدٍ أَنْ يَشْغَلَ نَفْسَهُ بِأَعْمَالِ الْخَيْرِ حَتَّى لَا تَشْغَلَهُ نَفْسُهُ بِهَوَاهَا.
Fa-yanbaghī li-kulli aḥadin an yashghala nafsahu bi-a'māli al-khayri ḥattā lā tashghalahu nafsuhu bi-hawāhā.
Bagi setiap orang, hendaknya membuat kesibukan dirinya dengan berbuat kebaikan, agar jangan sampai dirinya disibukkan oleh bujukan hawa nafsunya.
B. PENGARUH URUSAN DUNIAWI
وَلَا يَهْتَمَّ الْعَاقِلُ لِأَمْرِ الدُّنْيَا لِأَنَّ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ لَا يَرُدُّ الْمُصِيبَةَ، وَلَا يَنْفَعُ بَلْ يَضُرُّ بِالْقَلْبِ وَالْعَقْلِ، وَيُخِلُّ بِأَعْمَالِ الْخَيْرِ، وَيَهْتَمَّ لِأَمْرِ الْآخِرَةِ لِأَنَّهُ يَنْفَعُ. وَأَمَّا قَوْلُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: إِنَّ مِنَ الذُّنُوبِ ذُنُوبًا لَا يُكَفِّرُهَا إِلَّا هَمُّ الْمَعِيشَةِ فَالْمُرَادُ مِنْهُ قَدْرُ هَمٍّ لَا يُخِلُّ بِأَعْمَالِ الْخَيْرِ وَلَا يَشْغَلُ الْقَلْبَ شُغْلًا يُخِلُّ بِإِحْضَارِ الْقَلْبِ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّ ذَلِكَ الْقَدْرَ مِنَ الْهَمِّ وَالْقَصْدِ مِنْ أَعْمَالِ الْآخِرَةِ.
Wa lā yahtamma al-'āqilu li-amri ad-dunyā li-anna al-hamma wa al-ḥuzna lā yaruddu al-muṣībah, wa lā yanfa'u bal yaḍurru bi al-qalbi wa al-'aql, wa yukhillu bi-a'māli al-khayr, wa yahtamma li-amri al-ākhirati li-annahu yanfa'. Wa ammā qawluhu 'alayhi aṣ-ṣalātu wa as-salām: inna mina adh-dhunūbi dhunūban lā yukaffiruhā illā hammu al-ma'īshah fa al-murādu minhu qadru hammin lā yukhillu bi-a'māli al-khayr wa lā yashghalu al-qalba shughlan yukhillu bi-iḥḍāri al-qalbi fī aṣ-ṣalāh, fa-inna dhālika al-qadra mina al-hammi wa al-qaṣdi min a'māli al-ākhirah.
Bagi yang menggunakan akal, hendaknya jangan tergelisahkan oleh urusan dunia, karena merasa gelisah dan sedih di sini tidak akan bisa mengelakkan musibah, bergunapun tidak. Malahan akan membahayakan hati, akal dan badan serta dapat merusakkan perbuatan-perbuatan yang baik. Tapi yang harus diperhatikan adalah urusan-urusan akhirat, sebab hanya urusan inilah yang akan membawa manfaat. Mengenai sabda Nabi saw: "Sesungguhnya ada di antara dosa-dosa yang tidak akan bisa dilebur kecuali dengan memperhatikan masalah ma'isyah (penghidupan)," maksudnya adalah "perhatian" yang dalam batas-batas tidak merusak amal kebaikan dan tidak mempengaruhi konsentrasi dan khusyu' ketika shalat. Perhatian dan maksud dalam batas-batas tersebut adalah termasuk kebajikan sendiri.
وَلَا بُدَّ لِطَالِبِ الْعِلْمِ مِنْ تَقْلِيلِ الْعَلَائِقِ الدُّنْيَوِيَّةِ بِقَدْرِ الْوُسْعِ فَلِهَذَا اخْتَارُوا الْغُرْبَةَ.
Wa lā budda li-ṭālibi al-'ilmi min taqlīli al-'alā'iqi ad-dunyawiyyati bi-qadri al-wus'i fa-li-hādhā ikhtārū al-ghurbah.
Seorang pelajar tidak boleh tidak dengan sekuat tenaga yang ada menyedikitkan kesibukan duniawinya. Dan karena itulah, maka banyak pelajar-pelajar yang lebih suka belajar di rantau orang.
C. HIDUP DENGAN PRIHATIN
وَلَا بُدَّ مِنْ تَحَمُّلِ النَّصَبِ وَالْمَشَقَّةِ فِي سَفَرِ التَّعَلُّمِ، كَمَا قَالَ مُوسَى صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَى نَبِيِّنَا وَعَلَيْهِ فِي سَفَرِ التَّعَلُّمِ وَلَمْ يُنْقَلْ عَنْهُ ذَلِكَ فِي غَيْرِهِ مِنَ الْأَسْفَارِ. لِيُعْلَمَ أَنَّ سَفَرَ الْعِلْمِ لَا يَخْلُو عَنِ التَّعَبِ، لِأَنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ أَمْرٌ عَظِيمٌ وَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ الْغَزَاةِ عِنْدَ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ، وَالْأَجْرُ عَلَى قَدْرِ التَّعَبِ وَالنَّصَبِ.
Wa lā budda min taḥammuli an-naṣabi wa al-mashaqqati fī safari at-ta'allum, kamā qāla Mūsā ṣalawātu Allāhi 'alā nabiyyinā wa 'alayhi fī safari at-ta'allum wa lam yunqal 'anhu dhālika fī ghayrihi mina al-asfār. Li-yu'lama anna safara al-'ilmi lā yakhlū 'ani at-ta'ab, li-anna ṭalaba al-'ilmi amrun 'aẓīmun wa huwa afḍalu mina al-ghazāti 'inda akthari al-'ulamā', wa al-ajru 'alā qadri at-ta'abi wa an-naṣab.
Juga harus sanggup hidup susah dan sulit di waktu kepergiannya menuntut ilmu. Sebagaimana Nabi Musa as dalam perjalanan belajarnya pernah berkata demikian, dan tidak dinukilkan darinya perkataan seperti itu selain dalam perjalanan tersebut. Hendaknya pula menyadari bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak akan lepas dari kesusahan. Yang demikian itu karena belajar adalah salah satu perbuatan yang menurut sebagian besar ulama lebih mulia daripada berperang. Besar kecil pahala adalah berbanding seberapa besar letih dan kesusahan dalam usahanya.
فَمَنْ صَبَرَ عَلَى ذَلِكَ التَّعَبِ وَجَدَ لَذَّةَ الْعِلْمِ تَفُوقُ. وَلِهَذَا كَانَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ إِذَا سَهَرَ اللَّيَالِيَ وَانْحَلَّتْ لَهُ الْمُشْكِلَاتُ يَقُولُ: أَيْنَ أَبْنَاءُ الْمُلُوكِ مِنْ هَذِهِ اللَّذَّاتِ؟
Fa-man ṣabara 'alā dhālika at-ta'abi wajada ladhdhata al-'ilmi tafūqu. Wa li-hādhā kāna Muḥammadu bnu al-Ḥasani idhā sahara al-layālī wa nḥallat lahu al-mushkilātu yaqūlu: ayna abnā'u al-mulūki min hādhihi al-ladhdhāt?
Siapa bersabar dalam menghadapi segala kesulitan di atas, maka akan mendapat kelezatan ilmu yang melampaui segala kelezatan yang ada di dunia. Hal ini terbukti dengan ucapan Muhammad Ibnul Hasan setelah tidak tidur bermalam-malam lalu terpecahkan segala kesulitan yang dihadapinya: "Di manakah letak kelezatan putra-putra raja, bila dibandingkan dengan kelezatan yang saya alami kali ini?"
D. MENGGUNAKAN SELURUH WAKTU UNTUK ILMU
وَيَنْبَغِي أَلَّا يَشْتَغِلَ بِشَيْءٍ وَلَا يُعْرِضَ عَنِ الْفِقْهِ. قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ رَحِمَهُ اللَّهُ: صِنَاعَتُنَا هَذِهِ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ، فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَتْرُكَ عِلْمَنَا هَذَا سَاعَةً فَلْيَتْرُكْهُ السَّاعَةَ.
Wa yanbaghī allā yashtaghila bi-shay'in wa lā yu'riḍa 'ani al-fiqh. Qāla Muḥammadu bnu al-Ḥasani raḥimahu Allāh: ṣinā'atunā hādhihi mina al-mahdi ilā al-laḥdi, fa-man arāda an yatruka 'ilmanā hādhā sā'atan fa-lyatrukhu as-sā'ah.
Hendaknya pula pelajar tidak terlena dengan segala sesuatu selain ilmu pengetahuan, dan tidak berpaling dari fiqh. Muhammad bin Al-Hasan berkata: "Sesungguhnya perbuatan seperti ini adalah dilakukan sejak masih di buaian hingga masuk liang kubur. Barang siapa meninggalkan ilmu kami ini sesaat saja, maka hendaknya ia meninggalkannya untuk selamanya."
وَدَخَلَ فَقِيهٌ، وَهُوَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْجَرَّاحِ، عَلَى أَبِي يُوسُفَ يَعُودُهُ فِي مَرَضِ مَوْتِهِ وَهُوَ يُجَاوِدُ بِنَفْسِهِ، فَقَالَ أَبُو يُوسُفَ: رَمْيُ الْجِمَارِ رَاكِبًا أَفْضَلُ أَمْ رَاجِلًا؟ فَلَمْ يَعْرِفِ الْجَوَابَ، فَأَجَابَ بِنَفْسِهِ.
Wa dakhala faqīhun, wa huwa Ibrāhīmu bnu al-Jarrāḥ, 'alā Abī Yūsufa ya'ūduhu fī maraḍi mawtihi wa huwa yujāwidu bi-nafsih, fa-qāla Abū Yūsufa: ramyu al-jimāri rākiban afḍalu am rājilā? Fa-lam ya'rifi al-jawāb, fa-ajāba bi-nafsih.
Ada seorang ahli fiqh yaitu Ibrahim Ibnul Jarrah, ia menjenguk Abu Yusuf yang tengah sakit keras menjelang wafat, sementara Abu Yusuf sedang dalam sakaratul maut. Lalu Abu Yusuf bertanya: "Melempar jumrah dengan berkendaraan lebih utama ataukah dengan berjalan kaki?" Ibrahim pun tidak bisa menjawab, maka ia jawab sendiri: "Melempar dengan berjalan kaki itu lebih utama."
وَهَكَذَا يَنْبَغِي لِلْفَقِيهِ أَنْ يَشْتَغِلَ بِهِ فِي جَمِيعِ أَوْقَاتِهِ يَجِدْ لَذَّةً عَظِيمَةً فِي ذَلِكَ. وَقِيلَ: رُئِيَ مُحَمَّدٌ فِي الْمَنَامِ بَعْدَ وَفَاتِهِ فَقِيلَ لَهُ: كَيْفَ كُنْتَ فِي حَالِ النَّزْعِ؟ فَقَالَ: كُنْتُ مُتَأَمِّلًا فِي مَسْأَلَةٍ مِنْ مَسَائِلِ الْمُكَاتَبِ، فَلَمْ أَشْعُرْ بِخُرُوجِ رُوحِي. وَقِيلَ إِنَّهُ قَالَ فِي آخِرِ عُمُرِهِ: شَغَلَتْنِي مَسَائِلُ الْمُكَاتَبِ عَنِ الِاسْتِعْدَادِ لِهَذَا الْيَوْمِ، وَإِنَّمَا قَالَ ذَلِكَ تَوَاضُعًا.
Wa hakādhā yanbaghī li al-faqīhi an yashtaghila bihi fī jamī'i awqātihi yajid ladhdhatan 'aẓīmatan fī dhālika. Wa qīla: ru'iya Muḥammadun fī al-manāmi ba'da wafātihi fa-qīla lahu: kayfa kunta fī ḥāli an-naz'i? Fa-qāla: kuntu muta'ammilan fī mas'alatin min masā'ili al-mukātib, fa-lam ash'ur bi-khurūji rūḥī. Wa qīla innahu qāla fī ākhiri 'umurihi: shaghalatnī masā'ilu al-mukātibi 'ani al-isti'dādi li-hādhā al-yawm, wa-innamā qāla dhālika tawāḍu'an.
Demikian pula, hendaknya sebagai ahli fiqh kapan saja selalu fokus dengan fiqhnya. Dengan cara begitu, ia memperoleh kelezatan yang amat besar. Ada dikatakan, bahwa Muhammad setelah wafat pernah dilihat dalam mimpi, lalu kepadanya diajukan pertanyaan: "Bagaimana keadaan tuan waktu nyawa dicabut?" Ia menjawab: "Di kala itu saya tengah mengangan-angan masalah budak mukatab, sehingga tak kurasakan nyawaku telah terlepas." Ada dikatakan pula bahwa di akhir hayatnya Muhammad sempat berkata: "Masalah-masalah mukatab menyibukkan diriku, hingga tidak sempat menyiapkan diri dalam menghadapi hari ini." Beliau mengucap seperti ini karena tawadhu'.
Posting Komentar untuk "Terjemahan Kitab Ta'lim Muta'allim Fasal 7 Tentang tawakal Arab Berharakat, Latin dan Indonesia"