Terjemahan Kitab Ta'lim Muta'allim Fasal 11: Tentang Waro' Pada Masa Belajar Arab Berharakat, Latin dan Indonesia
| Terjemahan Kitab Ta'lim Muta'allim Fasal 11: Tentang Waro' Pada Masa Belajar |
Kitab Ta'limul Muta'allim, sebuah karya klasik oleh Syekh Al-Zarnuji, merupakan panduan fundamental mengenai etika, metode, dan nilai spiritual dalam menuntut ilmu. Kitab ini menekankan pentingnya adab dan penghormatan, terutama kepada guru, sebagai kunci keberkahan dan kesuksesan dalam belajar, sehingga tetap relevan sebagai acuan pendidikan karakter di pesantren Indonesia
Terjemahan Fasal 11: Tentang Waro' Pada Masa Belajar Kitab Ta'lim Muta'allim Arab berharakat, Latin, dan terjemah Indonesia
فَصْلٌ ١١ : فِي الْوَرَعِ فِي حَالَةِ التَّعَلُّمِ
A. WARO' (KEHATI- HATIAN)
رَوَى بَعْضُهُمْ حَدِيثًا فِي هَذَا الْبَابِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ لَمْ يَتَوَرَّعْ فِي تَعَلُّمِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ تَعَالَى بِأَحَدِ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: إِمَّا أَنْ يُمِيتَهُ فِي شَبَابِهِ، أَوْ يُوقِعَهُ فِي الرَّسَاتِيقِ، أَوْ يَبْتَلِيَهُ بِخِدْمَةِ السُّلْطَانِ؛ فَكُلَّمَا كَانَ طَالِبُ الْعِلْمِ أَوْرَعَ كَانَ عِلْمُهُ أَنْفَعَ، وَالتَّعَلُّمُ لَهُ أَيْسَرَ وَفَوَائِدُهُ أَكْثَرَ.
Rawā ba'ḍuhum ḥadīthan fī hādhā al-bābi 'an Rasūlillāhi ṣallallāhu 'alayhi wa-sallam annahu qāla: man lam yatawarra' fī ta'allumihi ibtalāhu Allāhu ta'ālā bi-aḥadi thalāthati ashyā': immā an yumītahu fī shabābihi, aw yūqi'ahu fī ar-rasātīq, aw yabtaliyahu bi-khidmati as-sulṭān; fa-kullamā kāna ṭālibu al-'ilmi awra'a kāna 'ilmuhu anfa'a, wa at-ta'allumu lahu aysara wa fawā'iduhu akthar.
Dalam masalah wara', sebagian ulama meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw: "Barang siapa tidak berbuat wara' ketika belajarnya, maka Allah Ta'ala akan mengujinya dengan salah satu dari tiga perkara: dimatikan masih berusia muda, ditempatkan di perkampungan orang-orang bodoh, atau dijadikan pengabdi (pelayan) penguasa." Semakin seorang penuntut ilmu itu wara', maka semakin bermanfaat ilmunya, belajarnya lebih mudah, dan manfaatnya lebih banyak.
Rawā ba'ḍuhum ḥadīthan fī hādhā al-bābi 'an Rasūlillāhi ṣallallāhu 'alayhi wa-sallam annahu qāla: man lam yatawarra' fī ta'allumihi ibtalāhu Allāhu ta'ālā bi-aḥadi thalāthati ashyā': immā an yumītahu fī shabābihi, aw yūqi'ahu fī ar-rasātīq, aw yabtaliyahu bi-khidmati as-sulṭān; fa-kullamā kāna ṭālibu al-'ilmi awra'a kāna 'ilmuhu anfa'a, wa at-ta'allumu lahu aysara wa fawā'iduhu akthar.
Dalam masalah wara', sebagian ulama meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw: "Barang siapa tidak berbuat wara' ketika belajarnya, maka Allah Ta'ala akan mengujinya dengan salah satu dari tiga perkara: dimatikan masih berusia muda, ditempatkan di perkampungan orang-orang bodoh, atau dijadikan pengabdi (pelayan) penguasa." Semakin seorang penuntut ilmu itu wara', maka semakin bermanfaat ilmunya, belajarnya lebih mudah, dan manfaatnya lebih banyak.
وَمِنَ الْوَرَعِ [الْكَامِلِ] أَنْ يَتَحَرَّزَ عَنِ الشِّبَعِ وَكَثْرَةِ النَّوْمِ وَكَثْرَةِ الْكَلَامِ فِيمَا لَا يَنْفَعُ.
Wa mina al-wara'i [al-kāmil] an yataḥarraza 'ani ash-shiba'i wa kathrati an-nawmi wa kathrati al-kalāmi fīmā lā yanfa'u.
Termasuk wara' (yang sempurna) adalah memelihara dirinya agar tidak terlalu kenyang, terlalu banyak tidur, dan banyak berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat.
Wa mina al-wara'i [al-kāmil] an yataḥarraza 'ani ash-shiba'i wa kathrati an-nawmi wa kathrati al-kalāmi fīmā lā yanfa'u.
Termasuk wara' (yang sempurna) adalah memelihara dirinya agar tidak terlalu kenyang, terlalu banyak tidur, dan banyak berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat.
وَأَنْ يَتَحَرَّزَ عَنْ أَكْلِ طَعَامِ السُّوقِ إِنْ أَمْكَنَ، لِأَنَّ طَعَامَ السُّوقِ أَقْرَبُ إِلَى النَّجَاسَةِ وَالْخَبَاثَةِ، وَأَبْعَدُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَأَقْرَبُ إِلَى الْغَفْلَةِ، وَلِأَنَّ أَبْصَارَ الْفُقَرَاءِ تَقَعُ عَلَيْهِ وَلَا يَقْدِرُونَ عَلَى الشِّرَاءِ مِنْهُ، فَيَتَأَذَّوْنَ بِذَلِكَ فَتَذْهَبُ بَرَكَتُهُ.
Wa an yataḥarraza 'an akli ṭa'āmi as-sūqi in amkana, li-anna ṭa'āma as-sūqi aqrabu ilā an-najāsati wa al-khabāthah, wa ab'adu 'an dhikri Allāhi wa aqrabu ilā al-ghaflah, wa li-anna abṣāra al-fuqarā'i taqa'u 'alayhi wa lā yaqdirūna 'alā ash-shirā'i minhu, fa-yata'adhdhawna bi-dhālika fa-tadhhabu barakatuh.
Dan hendaknya ia menghindari makan makanan pasar jika memungkinkan, karena makanan pasar itu lebih dekat kepada najis dan kotoran, lebih jauh dari mengingat Allah, dan lebih dekat kepada kelalaian. Dan karena pandangan orang-orang miskin tertuju padanya (makanan itu) sementara mereka tidak mampu membelinya, sehingga mereka merasa terganggu karenanya, maka hilanglah keberkahannya.
Wa an yataḥarraza 'an akli ṭa'āmi as-sūqi in amkana, li-anna ṭa'āma as-sūqi aqrabu ilā an-najāsati wa al-khabāthah, wa ab'adu 'an dhikri Allāhi wa aqrabu ilā al-ghaflah, wa li-anna abṣāra al-fuqarā'i taqa'u 'alayhi wa lā yaqdirūna 'alā ash-shirā'i minhu, fa-yata'adhdhawna bi-dhālika fa-tadhhabu barakatuh.
Dan hendaknya ia menghindari makan makanan pasar jika memungkinkan, karena makanan pasar itu lebih dekat kepada najis dan kotoran, lebih jauh dari mengingat Allah, dan lebih dekat kepada kelalaian. Dan karena pandangan orang-orang miskin tertuju padanya (makanan itu) sementara mereka tidak mampu membelinya, sehingga mereka merasa terganggu karenanya, maka hilanglah keberkahannya.
وَحُكِيَ أَنَّ الْإِمَامَ الشَّيْخَ الْجَلِيلَ مُحَمَّدَ بْنَ الْفَضْلِ كَانَ فِي حَالِ تَعَلُّمِهِ لَا يَأْكُلُ مِنْ طَعَامِ السُّوقِ، وَكَانَ أَبُوهُ يَسْكُنُ فِي الرَّسَاتِيقِ وَيُهَيِّئُ طَعَامَهُ وَيَدْخُلُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَرَأَى فِي بَيْتِ ابْنِهِ خُبْزَ السُّوقِ يَوْمًا فَلَمْ يُكَلِّمْهُ سَاخِطًا عَلَى ابْنِهِ فَاعْتَذَرَ ابْنُهُ، فَقَالَ: مَا اشْتَرَيْتُ أَنَا وَلَمْ أَرْضَ بِهِ وَلَكِنْ أَحْضَرَهُ شَرِيكِي، فَقَالَ أَبُوهُ: لَوْ كُنْتَ تَحْتَاطُ وَتَتَوَرَّعُ عَنْ مِثْلِهِ لَمْ يَجْرُؤْ شَرِيكُكَ عَلَى ذَلِكَ. وَهَكَذَا كَانُوا يَتَوَرَّعُونَ فَلِذَلِكَ وُفِّقُوا لِلْعِلْمِ وَالنَّشْرِ حَتَّى بَقِيَ اسْمُهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Wa ḥukiya anna al-Imāma ash-Shaykha al-Jalīla Muḥammad bna al-Faḍli kāna fī ḥāli ta'allumihi lā ya'kulu min ṭa'āmi as-sūq, wa kāna abūhu yaskunu fī ar-rasātīq wa yuhayyi'u ṭa'āmahu wa yadkhulu ilayhi yawma al-jumu'ah, fa-ra'ā fī bayti ibnihi khubza as-sūqi yawman fa-lam yukallimhu sākhitan 'alā ibnihi fa-'tadhara ibnuh, fa-qāla: māshtaraytu anā wa lam arḍa bihi wa lākin aḥḍarahū sharīkī, fa-qāla abūhu: law kunta taḥtāṭu wa tatawarra'u 'an mithlihi lam yajru' sharīkuka 'alā dhālika. Wa hakādhā kānū yatawarra'ūna fa-li-dhālika wuffiqū li al-'ilmi wa an-nashri ḥattā baqiya ismuhum ilā yawmi al-qiyāmah.
Suatu hikayat, Syaikhul Jalil Muhammad Ibnul Fadl di waktu masa belajarnya tidak pernah makan makanan pasar. Ayahnya sendiri tinggal di perkampungan dan selalu mengirimkan makanan untuknya serta menemuinya setiap hari Jumat. Pada suatu hari, sang ayah mengetahui ada roti pasar di kamar putranya. Ia pun marah dan tidak mau berbicara dengan putranya. Muhammad mengemukakan alasannya: "Saya tidak membeli roti itu dan memang tidak meridhainya, tetapi itu diberikan oleh temanku." Ayahnya menjawab: "Jika engkau berhati-hati dan wara' dari hal semacam itu, niscaya temanmu tidak akan berani memberimu roti seperti itu." Demikianlah pelajar-pelajar zaman dulu berbuat wara', dan karena itu mereka diberi taufiq untuk memperoleh ilmu dan menyebarkannya, hingga nama mereka tetap abadi sampai hari kiamat.
Wa ḥukiya anna al-Imāma ash-Shaykha al-Jalīla Muḥammad bna al-Faḍli kāna fī ḥāli ta'allumihi lā ya'kulu min ṭa'āmi as-sūq, wa kāna abūhu yaskunu fī ar-rasātīq wa yuhayyi'u ṭa'āmahu wa yadkhulu ilayhi yawma al-jumu'ah, fa-ra'ā fī bayti ibnihi khubza as-sūqi yawman fa-lam yukallimhu sākhitan 'alā ibnihi fa-'tadhara ibnuh, fa-qāla: māshtaraytu anā wa lam arḍa bihi wa lākin aḥḍarahū sharīkī, fa-qāla abūhu: law kunta taḥtāṭu wa tatawarra'u 'an mithlihi lam yajru' sharīkuka 'alā dhālika. Wa hakādhā kānū yatawarra'ūna fa-li-dhālika wuffiqū li al-'ilmi wa an-nashri ḥattā baqiya ismuhum ilā yawmi al-qiyāmah.
Suatu hikayat, Syaikhul Jalil Muhammad Ibnul Fadl di waktu masa belajarnya tidak pernah makan makanan pasar. Ayahnya sendiri tinggal di perkampungan dan selalu mengirimkan makanan untuknya serta menemuinya setiap hari Jumat. Pada suatu hari, sang ayah mengetahui ada roti pasar di kamar putranya. Ia pun marah dan tidak mau berbicara dengan putranya. Muhammad mengemukakan alasannya: "Saya tidak membeli roti itu dan memang tidak meridhainya, tetapi itu diberikan oleh temanku." Ayahnya menjawab: "Jika engkau berhati-hati dan wara' dari hal semacam itu, niscaya temanmu tidak akan berani memberimu roti seperti itu." Demikianlah pelajar-pelajar zaman dulu berbuat wara', dan karena itu mereka diberi taufiq untuk memperoleh ilmu dan menyebarkannya, hingga nama mereka tetap abadi sampai hari kiamat.
وَأَوْصَى فَقِيهٌ مِنْ زُهَّادِ الْفُقَهَاءِ طَالِبَ الْعِلْمِ أَنْ يَتَحَرَّزَ عَنِ الْغِيبَةِ وَعَنْ مُجَالَسَةِ الْمُكْثَارِ، وَقَالَ: مَنْ يُكْثِرِ الْكَلَامَ يَسْرِقْ عُمْرَكَ وَيُضَيِّعْ أَوْقَاتَكَ.
Wa awṣā faqīhun min zuhhādi al-fuqahā'i ṭāliba al-'ilmi an yataḥarraza 'ani al-ghībah wa 'an mujālasati al-mukthār, wa qāla: man yukthiri al-kalāma yasriq 'umraka wa yuḍayyi' awqātak.
Seorang zuhud ahli fiqh berwasiat kepada seorang penuntut ilmu agar menjaga diri dari ghibah dan dari bergaul dengan orang yang banyak bicaranya. Dan berkata: "Orang yang banyak bicara itu mencuri umurmu dan menyia-nyiakan waktumu."
Wa awṣā faqīhun min zuhhādi al-fuqahā'i ṭāliba al-'ilmi an yataḥarraza 'ani al-ghībah wa 'an mujālasati al-mukthār, wa qāla: man yukthiri al-kalāma yasriq 'umraka wa yuḍayyi' awqātak.
Seorang zuhud ahli fiqh berwasiat kepada seorang penuntut ilmu agar menjaga diri dari ghibah dan dari bergaul dengan orang yang banyak bicaranya. Dan berkata: "Orang yang banyak bicara itu mencuri umurmu dan menyia-nyiakan waktumu."
وَمِنَ الْوَرَعِ أَنْ يَجْتَنِبَ مِنْ أَهْلِ الْفَسَادِ وَالْمَعَاصِي وَالتَّعْطِيلِ، [وَيُجَاوِرَ الصُّلَحَاءَ] فَإِنَّ الْمُجَاوَرَةَ مُؤَثِّرَةٌ، وَأَنْ يَجْلِسَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَيَكُونَ مُسْتَنًّا بِسُنَّةِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَيَغْتَنِمَ دَعْوَةَ أَهْلِ الْخَيْرِ، وَيَتَحَرَّزَ عَنْ دَعْوَةِ الْمَظْلُومِينَ.
Wa mina al-wara'i an yajtaniba min ahli al-fasādi wa al-ma'āṣī wa at-ta'ṭīl, [wa yujāwira aṣ-ṣulaḥā'a] fa-inna al-mujāwarata mu'aththirah, wa an yajlisa mustaqbila al-qiblah wa yakūna mustannan bi-sunnati an-nabiyyi 'alayhi aṣ-ṣalātu wa as-salām, wa yaghtanima da'wata ahli al-khayr, wa yataḥarraza 'an da'wati al-maẓlūmīn.
Termasuk wara' lagi hendaknya menjauhi orang-orang yang suka berbuat kerusakan, maksiat dan pengangguran, serta bergaul dengan orang-orang saleh, karena pergaulan itu membawa pengaruh. Dan hendaknya duduk menghadap kiblat, meneladani sunnah Nabi saw, memanfaatkan doa orang-orang saleh, dan berhati-hati dari doa orang-orang yang terzalimi.
Wa mina al-wara'i an yajtaniba min ahli al-fasādi wa al-ma'āṣī wa at-ta'ṭīl, [wa yujāwira aṣ-ṣulaḥā'a] fa-inna al-mujāwarata mu'aththirah, wa an yajlisa mustaqbila al-qiblah wa yakūna mustannan bi-sunnati an-nabiyyi 'alayhi aṣ-ṣalātu wa as-salām, wa yaghtanima da'wata ahli al-khayr, wa yataḥarraza 'an da'wati al-maẓlūmīn.
Termasuk wara' lagi hendaknya menjauhi orang-orang yang suka berbuat kerusakan, maksiat dan pengangguran, serta bergaul dengan orang-orang saleh, karena pergaulan itu membawa pengaruh. Dan hendaknya duduk menghadap kiblat, meneladani sunnah Nabi saw, memanfaatkan doa orang-orang saleh, dan berhati-hati dari doa orang-orang yang terzalimi.
B. MENGHADAP KIBLAT
وَحُكِيَ أَنَّ رَجُلَيْنِ خَرَجَا فِي طَلَبِ الْعِلْمِ لِلْغُرْبَةِ وَكَانَا شَرِيكَيْنِ فَرَجَعَا بَعْدَ سِنِينَ إِلَى بَلَدِهِمَا وَقَدْ فَقِهَ أَحَدُهُمَا وَلَمْ يَفْقَهْ الْآخَرُ، فَتَأَمَّلَ فُقَهَاءُ الْبِلَادِ وَسُئِلُوا عَنْ حَالِهِمَا وَتِكْرَارِهِمَا وَجُلُوسِهِمَا فَأَخْبَرُوا أَنَّ جُلُوسَ الَّذِي تَفَقَّهَ فِي حَالِ التِّكْرَارِ كَانَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَالْمِصْرَ الَّذِي [حَصَلَ الْعِلْمُ فِيهِ] وَالْآخَرُ كَانَ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ وَوَجْهَهُ إِلَى غَيْرِ الْمِصْرِ. فَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ وَالْفُقَهَاءُ أَنَّ الْفَقِيهَ فَقُهَ بِبَرَكَةِ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ إِذْ هُوَ السُّنَّةُ فِي الْجُلُوسِ إِلَّا عِنْدَ الضَّرُورَةِ، وَبِبَرَكَةِ دُعَاءِ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ الْمِصْرَ لَا يَخْلُو مِنَ الْعُبَّادِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَالزُّهْدِ، فَالظَّاهِرُ أَنَّ عَابِدًا دَعَا لَهُ فِي اللَّيْلِ.
Wa ḥukiya anna rajulayni kharajā fī ṭalabi al-'ilmi li al-ghurbah wa kānā sharīkayni fa-raj'a'ā ba'da sinīna ilā baladihimā wa qad faqiha aḥaduhumā wa lam yafqahi al-ākhar, fa-ta'ammala fuqahā'u al-bilādi wa su'ilū 'an ḥālihimā wa tikrārihimā wa julūsihimā fa-akhbarū anna julūsa alladhī tafaqqaha fī ḥāli at-tikrāri kāna mustaqbila al-qiblah wa al-miṣra alladhī [ḥaṣala al-'ilmu fīhi] wa al-ākharu kāna mustadbira al-qiblah wa wajhahu ilā ghayri al-miṣr. Fa-ittafaqa al-'ulamā'u wa al-fuqahā'u anna al-faqīha faquha bi-barakati istiqbāli al-qiblah idh huwa as-sunnatu fī al-julūsi illā 'inda aḍ-ḍarūrah, wa bi-barakati du'ā'i al-muslimīna fa-inna al-miṣra lā yakhlū mina al-'ubbādi wa ahli al-khayri wa az-zuhd, fa-aẓ-ẓāhiru anna 'ābidan da'ā lahu fī al-layl.
Suatu hikayat, ada dua orang pergi merantau untuk mencari ilmu. Mereka belajar bersama-sama. Setelah bertahun-tahun, mereka kembali pulang ke negerinya. Ternyata yang satu menjadi alim (faqih), sedangkan yang lain tidak. Kemudian para ulama dan fuqaha di negeri itu meneliti dan menanyakan tentang keadaan mereka berdua, cara mereka mengulang pelajaran dan posisi duduk mereka. Maka diketahui bahwa orang yang menjadi alim ketika mengulang pelajaran selalu menghadap kiblat dan menghadap ke negeri tempat ia belajar, sedangkan yang lain membelakangi kiblat dan menghadap ke arah selain negeri tempat belajar. Maka para ulama dan fuqaha sepakat bahwa orang yang menjadi alim itu menjadi alim karena berkah menghadap kiblat, karena itu adalah sunnah dalam duduk kecuali dalam keadaan terpaksa, dan juga karena berkah doa kaum muslimin, karena negeri itu tidak pernah sepi dari ahli ibadah, orang-orang saleh dan zuhud. Maka tampaknya ada seorang ahli ibadah yang mendoakannya di malam hari.
Wa ḥukiya anna rajulayni kharajā fī ṭalabi al-'ilmi li al-ghurbah wa kānā sharīkayni fa-raj'a'ā ba'da sinīna ilā baladihimā wa qad faqiha aḥaduhumā wa lam yafqahi al-ākhar, fa-ta'ammala fuqahā'u al-bilādi wa su'ilū 'an ḥālihimā wa tikrārihimā wa julūsihimā fa-akhbarū anna julūsa alladhī tafaqqaha fī ḥāli at-tikrāri kāna mustaqbila al-qiblah wa al-miṣra alladhī [ḥaṣala al-'ilmu fīhi] wa al-ākharu kāna mustadbira al-qiblah wa wajhahu ilā ghayri al-miṣr. Fa-ittafaqa al-'ulamā'u wa al-fuqahā'u anna al-faqīha faquha bi-barakati istiqbāli al-qiblah idh huwa as-sunnatu fī al-julūsi illā 'inda aḍ-ḍarūrah, wa bi-barakati du'ā'i al-muslimīna fa-inna al-miṣra lā yakhlū mina al-'ubbādi wa ahli al-khayri wa az-zuhd, fa-aẓ-ẓāhiru anna 'ābidan da'ā lahu fī al-layl.
Suatu hikayat, ada dua orang pergi merantau untuk mencari ilmu. Mereka belajar bersama-sama. Setelah bertahun-tahun, mereka kembali pulang ke negerinya. Ternyata yang satu menjadi alim (faqih), sedangkan yang lain tidak. Kemudian para ulama dan fuqaha di negeri itu meneliti dan menanyakan tentang keadaan mereka berdua, cara mereka mengulang pelajaran dan posisi duduk mereka. Maka diketahui bahwa orang yang menjadi alim ketika mengulang pelajaran selalu menghadap kiblat dan menghadap ke negeri tempat ia belajar, sedangkan yang lain membelakangi kiblat dan menghadap ke arah selain negeri tempat belajar. Maka para ulama dan fuqaha sepakat bahwa orang yang menjadi alim itu menjadi alim karena berkah menghadap kiblat, karena itu adalah sunnah dalam duduk kecuali dalam keadaan terpaksa, dan juga karena berkah doa kaum muslimin, karena negeri itu tidak pernah sepi dari ahli ibadah, orang-orang saleh dan zuhud. Maka tampaknya ada seorang ahli ibadah yang mendoakannya di malam hari.
C. PERBUATAN ADAB DAN SUNNAH
فَيَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ لَا يَتَهَاوَنَ بِالْآدَابِ وَالسُّنَنِ، وَمَنْ تَهَاوَنَ بِالْأَدَبِ حُرِمَ السُّنَنَ، وَمَنْ تَهَاوَنَ بِالسُّنَنِ حُرِمَ الْفَرَائِضَ، وَمَنْ تَهَاوَنَ بِالْفَرَائِضِ حُرِمَ الْآخِرَةَ. وَبَعْضُهُمْ قَالُوا بِهَذَا حَدِيثًا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Fa-yanbaghī li-ṭālibi al-'ilmi an lā yatahāwana bi al-ādābi wa as-sunan, wa man tahāwana bi al-adabi ḥurima as-sunan, wa man tahāwana bi as-sunani ḥurima al-farā'iḍ, wa man tahāwana bi al-farā'iḍi ḥurima al-ākhirah. Wa ba'ḍuhum qālū bi-hādhā ḥadīthan 'an Rasūlillāhi ṣallallāhu 'alayhi wa-sallam.
Hendaknya penuntut ilmu tidak mengabaikan adab-adab dan sunnah-sunnah. Barang siapa mengabaikan adab, maka ia terhalang dari sunnah. Barang siapa mengabaikan sunnah, maka ia terhalang dari fardhu. Dan barang siapa mengabaikan fardhu, maka ia terhalang dari (kebahagiaan) akhirat. Sebagian ulama mengatakan bahwa ini adalah hadis dari Rasulullah saw.
Fa-yanbaghī li-ṭālibi al-'ilmi an lā yatahāwana bi al-ādābi wa as-sunan, wa man tahāwana bi al-adabi ḥurima as-sunan, wa man tahāwana bi as-sunani ḥurima al-farā'iḍ, wa man tahāwana bi al-farā'iḍi ḥurima al-ākhirah. Wa ba'ḍuhum qālū bi-hādhā ḥadīthan 'an Rasūlillāhi ṣallallāhu 'alayhi wa-sallam.
Hendaknya penuntut ilmu tidak mengabaikan adab-adab dan sunnah-sunnah. Barang siapa mengabaikan adab, maka ia terhalang dari sunnah. Barang siapa mengabaikan sunnah, maka ia terhalang dari fardhu. Dan barang siapa mengabaikan fardhu, maka ia terhalang dari (kebahagiaan) akhirat. Sebagian ulama mengatakan bahwa ini adalah hadis dari Rasulullah saw.
وَيَنْبَغِي أَنْ يُكْثِرَ الصَّلَاةَ، وَيُصَلِّيَ صَلَاةَ الْخَاشِعِينَ، فَإِنَّ ذَلِكَ عَوْنٌ لَهُ عَلَى التَّحْصِيلِ وَالتَّعَلُّمِ.
Wa yanbaghī an yukthira aṣ-ṣalāh, wa yuṣalliya ṣalāta al-khāshi'īn, fa-inna dhālika 'awnun lahu 'alā at-taḥṣīli wa at-ta'allum.
Hendaknya pula memperbanyak shalat dan melaksanakan shalat orang-orang yang khusyu', karena sesungguhnya itu adalah penolong baginya dalam mencapai kesuksesan dan belajar.
Wa yanbaghī an yukthira aṣ-ṣalāh, wa yuṣalliya ṣalāta al-khāshi'īn, fa-inna dhālika 'awnun lahu 'alā at-taḥṣīli wa at-ta'allum.
Hendaknya pula memperbanyak shalat dan melaksanakan shalat orang-orang yang khusyu', karena sesungguhnya itu adalah penolong baginya dalam mencapai kesuksesan dan belajar.
وَأَنْشَدْتُ لِلشَّيْخِ الْإِمَامِ الْجَلِيلِ الزَّاهِدِ الْحَجَّاجِ نَجْمِ الدِّينِ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ النَّسَفِيِّ شِعْرًا:
Wa ansyadtu li ash-Shaykhi al-Imāmi al-Jalīli az-Zāhidi al-Ḥajjāji Najmi ad-Dīni 'Umara bni Muḥammadin an-Nasafiyyi shi'rā:
Syair gubahan Syaikhul Jalil Az-Zahid Al-Hajjaj Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi dibawakan untukku:
Wa ansyadtu li ash-Shaykhi al-Imāmi al-Jalīli az-Zāhidi al-Ḥajjāji Najmi ad-Dīni 'Umara bni Muḥammadin an-Nasafiyyi shi'rā:
Syair gubahan Syaikhul Jalil Az-Zahid Al-Hajjaj Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi dibawakan untukku:
كُنْ لِلْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي حَافِظَا ۞ وَعَلَى الصَّلَاةِ مُوَاظِبًا وَمُحَافِظَاوَاطْلُبْ عُلُومَ الشَّرْعِ وَاجْهَدْ وَاسْتَعِنْ ۞ بِالطَّيِّبَاتِ تَصِرْ فَقِيهًا حَافِظَاوَاسْأَلْ إِلَهَكَ حِفْظَ حِفْظِكَ رَاغِبًا ۞ مِنْ فَضْلِهِ فَاللَّهُ خَيْرُ حَافِظَا
Kun li al-awāmir wa an-nawāhī ḥāfiẓā ☼ wa 'alā aṣ-ṣalāti muwāẓiban wa muḥāfiẓāWaṭlub 'ulūma ash-shar'i wajhad wa-sta'in ☼ bi aṭ-ṭayyibāti taṣir faqīhan ḥāfiẓāWas'al ilāhaka ḥifẓa ḥifẓika rāghibā ☼ min faḍlihi fa-Allāhu khayru ḥāfiẓā
"Jadilah engkau pengamal perintah dan penjaga larangan. Jagalah selalu shalat dengan terus-menerus dan memeliharanya. Pelajarilah ilmu syariat dengan sungguh-sungguh dan mintalah pertolongan dengan (makanan) yang baik-baik, niscaya engkau menjadi faqih yang hafal. Dan mintalah kepada Tuhanmu untuk memelihara hafalanmu dengan penuh harap akan karunia-Nya, karena Allah adalah sebaik-baik Pemelihara."
Kun li al-awāmir wa an-nawāhī ḥāfiẓā ☼ wa 'alā aṣ-ṣalāti muwāẓiban wa muḥāfiẓā
Waṭlub 'ulūma ash-shar'i wajhad wa-sta'in ☼ bi aṭ-ṭayyibāti taṣir faqīhan ḥāfiẓā
Was'al ilāhaka ḥifẓa ḥifẓika rāghibā ☼ min faḍlihi fa-Allāhu khayru ḥāfiẓā
"Jadilah engkau pengamal perintah dan penjaga larangan. Jagalah selalu shalat dengan terus-menerus dan memeliharanya. Pelajarilah ilmu syariat dengan sungguh-sungguh dan mintalah pertolongan dengan (makanan) yang baik-baik, niscaya engkau menjadi faqih yang hafal. Dan mintalah kepada Tuhanmu untuk memelihara hafalanmu dengan penuh harap akan karunia-Nya, karena Allah adalah sebaik-baik Pemelihara."
وَقَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ:
Wa qāla raḥimahu Allāh 'alayh:
Dan beliau rahimahullah berkata:
Wa qāla raḥimahu Allāh 'alayh:
Dan beliau rahimahullah berkata:
أَطِيعُوا وَجِدُّوا وَلَا تَكْسَلُوا ۞ وَأَنْتُمْ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَوَلَا تَهْجَعُوا فَخِيَارُ الْوَرَى ۞ قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ
Aṭī'ū wa jiddū wa lā taksalū ☼ wa antum ilā rabbikum turja'ūnWa lā tahja'ū fa-khiyāru al-warā ☼ qalīlan mina al-layli mā yahja'ūn
"Taatlah dan bersungguh-sungguhlah, jangan bermalas-malasan, karena kalian akan kembali kepada Tuhan kalian. Dan janganlah kalian banyak tidur, karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang sedikit tidurnya di malam hari."
Aṭī'ū wa jiddū wa lā taksalū ☼ wa antum ilā rabbikum turja'ūn
Wa lā tahja'ū fa-khiyāru al-warā ☼ qalīlan mina al-layli mā yahja'ūn
"Taatlah dan bersungguh-sungguhlah, jangan bermalas-malasan, karena kalian akan kembali kepada Tuhan kalian. Dan janganlah kalian banyak tidur, karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang sedikit tidurnya di malam hari."
وَيَنْبَغِي أَنْ يَسْتَصْحِبَ دَفْتَرًا عَلَى كُلِّ حَالٍ لِيُطَالِعَهُ. وَقِيلَ: مَنْ لَمْ يَكُنِ الدَّفْتَرُ فِي كُمِّهِ لَمْ تَثْبُتِ الْحِكْمَةُ فِي قَلْبِهِ. وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي الدَّفْتَرِ بَيَاضٌ وَيَسْتَصْحِبَ الْمِحْبَرَةَ لِيَكْتُبَ مَا يَسْمَعُ مِنَ الْعُلَمَاءِ. وَقَدْ ذَكَرْنَا حَدِيثَ هِلَالِ بْنِ يَسَارٍ.
Wa yanbaghī an yastaṣḥiba daftaran 'alā kulli ḥālin li-yuṭāli'ah. Wa qīla: man lam yakuni ad-daftaru fī kummihi lam tathbuti al-ḥikmatu fī qalbih. Wa yanbaghī an yakūna fī ad-daftari bayāḍun wa yastaṣḥiba al-miḥbarata li-yaktuba mā yasma'u mina al-'ulamā'. Wa qad dhakarnā ḥadītha Hilāli bni Yasār.
Hendaknya pelajar selalu membawa buku catatan untuk dibaca dan dipelajari. Ada dikatakan: "Barang siapa tidak ada buku di sakunya, maka tidak akan tetap hikmah di hatinya." Hendaknya buku itu memiliki kertas kosong (untuk menulis), dan hendaknya membawa botol tinta untuk mencatat apa yang didengar dari para ulama. Dan sungguh telah kami sebutkan hadis Hilal bin Yasar.
Wa yanbaghī an yastaṣḥiba daftaran 'alā kulli ḥālin li-yuṭāli'ah. Wa qīla: man lam yakuni ad-daftaru fī kummihi lam tathbuti al-ḥikmatu fī qalbih. Wa yanbaghī an yakūna fī ad-daftari bayāḍun wa yastaṣḥiba al-miḥbarata li-yaktuba mā yasma'u mina al-'ulamā'. Wa qad dhakarnā ḥadītha Hilāli bni Yasār.
Hendaknya pelajar selalu membawa buku catatan untuk dibaca dan dipelajari. Ada dikatakan: "Barang siapa tidak ada buku di sakunya, maka tidak akan tetap hikmah di hatinya." Hendaknya buku itu memiliki kertas kosong (untuk menulis), dan hendaknya membawa botol tinta untuk mencatat apa yang didengar dari para ulama. Dan sungguh telah kami sebutkan hadis Hilal bin Yasar.
Posting Komentar untuk "Terjemahan Kitab Ta'lim Muta'allim Fasal 11: Tentang Waro' Pada Masa Belajar Arab Berharakat, Latin dan Indonesia"