Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab ke - 30 : Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
| Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab ke - 30 : Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya |
Mengenal Kitab Lubabul Hadits Karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi
Kitab Lubabul Hadits adalah salah satu kitab hadis legendaris yang disusun oleh ulama besar mazhab Syafi'i, Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Kitab klasik ini merangkum sari pati hadis-hadis pilihan yang berfokus pada panduan praktis ibadah, akhlak mulia, dan spiritual harian. Keunikan utama dari kitab ini adalah penyajiannya yang ringkas tanpa menyertakan rangkaian sanad (periwayat) yang panjang, sehingga memudahkan umat Islam dan penuntut ilmu awam untuk langsung memahami inti pesan setiap hadis.
Struktur Isi dan Daftar Bab Ringkas Lubabul Hadits
Secara struktur, isi Kitab Lubabul Hadits terbagi secara sistematis ke dalam 40 bab yang masing-masing memuat tepat 10 hadis, dengan total keseluruhan 400 hadis. Topik yang dibahas sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Pembahasan di dalamnya dimulai dari bab keutamaan ilmu dan ulama, fadhilah bersuci (thaharah), salat, sedekah, hingga ditutup dengan bab bertema pengingat kematian serta kedahsyatan hari kiamat.
Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab ke - 30 : Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
HADITS KE 1
رِضَا الرَّبِّ فِيْ رِضَا الوَالِدِ وَسُخْطُ اللهِ فِيْ سُخْطِ الْوَالِدِ
*Ridhar-rabbi fī ridhal-wālidi wa sukhtullāhi fī sukhtil-wālid.*
"Ridlo Tuhan ada pada ridlo orangtua, dan murka Allah ada pada murka orangtua ".
Catatan (1):
Makna asli "al-walidi" adalah ayah, tetapi di sini dimaknai dengan orangtua karena pengertian sebenarnya bukan hanya kepada ayah tetapi juga ibu. Dalam Kitab Tanqihul Qoul oleh Imam Nawawi Al-Banteni dijelaskan bahwa hadist lain berbunyi "al-walidaini – kedua orangtua" bukan "al-walidi - orangtua", tetapi hadist yang menggunakan lafadz "al-walidaini" terdapat syak (keraguan) dari periwayatnya, sedangkan lafadz hadist yang asli menggunakan lafadz "al-walidi". Namun, menurut riwayat Imam Thabrani dari Sahabat Ibnu Umar, bahwa keduanya lafadz "al-walidaini" dan lafadz "al-walidi" adalah hadist yang asli.
HADITS KE 2
بِرُّوْا اٰبَاءَكُمْ تَبِرُّكُمْ اَبْنَآءُكُمْ وَعِفُّوْا تَعِفَّ نِسَآءُكُمْ
*Birrū ābā'akum tabirrukum abnā'ukum wa 'iffū ta'iffa nisā'ukum.*
"Berbuat baiklah kalian kepada ayah-ayah (juga ibu) kalian, maka anak-anak kalian akan berbuat baik kepada kalian. Jagalah diri kalian (dari zina dengan wanita), maka wanita-wanita kalian akan menjaga diri (dari zina dengan laki-laki)".
HADITS KE 3
مَنْ اَصْبَحَ وَلَهُ اَبَوَانِ رَاضِيَانِ عَنْهُ اَوْ اَحَدُهُمَا فُتِحَتْ لَهُ اَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَمَنْ اَمْسَى وَلَهُ اَبَوَانِ سَاخِطَانِ عَلَيْهِ اَوْ اَحَدُهُمَا فُتِحَتْ لَهُ اَبْوَابُ جَهَنَّمَ
*Man ashbaha wa lahu abawāni rādhiyāni 'anhu au ahaduhumā futihat lahu abwābul-jannah, wa man amsā wa lahu abawāni sākhithāni 'alaihi au ahaduhumā futihat lahu abwābu jahannam.*
"Barang siapa di waktu pagi dan baginya kedua orangtua atau salah satu dari keduanya yang ridlo kepadanya, maka dibukalah baginya pintu-pintu surga. Dan barang siapa di waktu sore dan baginya kedua orangtua atau salah satu dari keduanya yang murka kepadanya, maka dibukalah baginya pintu-pintu neraka jahannam".
HADITS KE 4
اِذَا كُنْتَ فِى الصَّلَاةِ فَدَعَاكَ اَبُوْكَ فَاَجِبْهُ وَاِنْ دَعَتْكَ اُمُّكَ فَاَجِبْهَا
*Idzā kunta fish-shalāti fada'āka abūka fa ajibhu wa in da'atka ummuka fa ajibhā.*
"Jika kamu dalam keadaan sholat (2) kemudian ayahmu memanggilmu maka jawablah dia, dan jika ibumu memanggilmu maka jawablah dia".
Catatan (2):
Dalam Kitab Tanqihul Qoul oleh Imam Nawawi Al-Banteni, maksud sholat di sini adalah sholat-sholat sunnah, karena menjawab panggilan orangtua lebih utama daripada melanjutkan sholat sunnah. Sedangkan jika itu adalah sholat fardlu, maka diharamkan untuk menjawab panggilan orangtua, karena sholat fardlu adalah ibadah yang merupakan hak hamba kepada Tuhannya.
HADITS KE 5
مَنْ اَذَى وَالِدَيْهِ اَوْ اَذَى اَحَدَهُمَا يَدْخُلُ النَّارَ
*Man adzā wālidaihi au adzā ahadahumā yadkhulun-nār.*
"Barang siapa menyakiti kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya, maka dia akan masuk neraka".
HADITS KE 6
حِكَايَةً عَنِ اللهِ تَعَالٰى قُلْ لِلْبَارِّ لِوَالِدَيْهِ اِعْمَلْ مَا شِئْتَ فَاِنَّ اللهَ يَغْفِرُ لَكَ
*Hikāyatan 'anillāhi ta'ālā qul lil-bārri liwālidaihi i'mal mā syi'ta fa innallāha yaghfiru lak.*
"Sebuah hikayat dari Allah yang Maha Luhur (hadist qudsi), 'Katakanlah kepada orang yang berbuat baik kepada kedua orangtuanya, kerjakanlah apa yang kamu kehendaki karena sesungguhnya Allah mengampunimu'".
HADITS KE 7
بِرُّ الْوَالِدَيْنِ كَفَّارَةٌ لِلْكَبَائِرِ
*Birrul-wālidaini kaffāratun lil-kabā'ir.*
"Berbuat baik kepada kedua orangtua adalah pelebur dari dosa-dosa besar".
HADITS KE 8
مَنْ وَضَعَ طَعَامًا طَيِّبًا فِى بَيْتِهِ وَاَكَلَهُ دُوْنَ وَالِدَيْهِ اَحْرَمَهُ اللهُ تَعَالٰى لَذِيْذَ طَعَامِ الْجَنَّةِ
*Man wadha'a tha'āman thayyiban fī baitihi wa akalahu dūna wālidaihi ahramahullāhu ta'ālā ladzīdza tha'āmil-jannah.*
"Barang siapa meletakkan makanan yang enak di dalam rumahnya dan dia memakannya bukan kedua orangtuanya, maka Allah yang Maha Luhur mengharamkan lezatnya makanan surga baginya".
HADITS KE 9
مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ رَيَّانَ وَاَحَدُ وَالِدَيْهِ جِيْعَانٌ اَوْ عَطْشَانٌ حَشَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جِيْعَانًا وَعَطْشَانًا وَلَمْ يَسْتَحْيِ اللهُ مِنْ عَذَابِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
*Man bāta syab'āna rayyāna wa ahadu wālidaihi jī'ānun au 'athsyānun hasyarahullāhu yaumal-qiyāmati jī'ānan wa 'athsyānan wa lam yastahyillāhu min 'adzābihi yaumal-qiyāmah.*
"Barang siapa bermalam dalam keadaan kenyang lagi segar sedangkan salah satu dari kedua orangtuanya dalam keadaan lapar atau haus, maka Allah mengumpulkannya di hari kiamat dalam keadaan lapar dan haus, dan Allah tidak akan malu untuk menyiksanya di hari kiamat".
HADITS KE 10
مَنْ رَفَعَ يَدَهُ لِيَضْرِبَ اَحَدَ وَالِدَيْهِ غُلَّتْ يَدُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اِلَى عُنُقِهِ مَشْلُوْلَةً، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَاِنْ ضَرَبَهُمَا ؟ قَالَ تُقْطَعُ يَدُهُ قَبْلَ اَنْ يَجُوْزَ عَلَى الصِّرَاطِ وَتَضْرِبُهُ الْمَلَائِكَةُ
*Man rafa'a yadahu liyadhriba ahadā wālidaihi ghullat yaduhu yaumal-qiyāmati ilā 'unuqihi masylūlatan, qālū yā rasūlallāhi wa in dharabahumā? Qāla tuqtha'u yaduhu qabla an yajūza 'alash-shirāthi wa tadhribuhul-malā'ikah.*
"Barang siapa mengangkat tangannya untuk memukul salah satu dari kedua orangtuanya, maka tangannya dibelenggu di hari kiamat sampai lehernya dalam keadaan lumpuh. Para sahabat bertanya, 'Wahai Rosulullah, dan jika dia memukul keduanya?'. Rosulullah menjawab, 'Tangannya akan dipotong sebelum dia melewati shirath, dan para malaikat akan memukulinya'".
Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab ke - 30 : Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya"