Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab 36 : Keutamaan Menjenguk Orang Sakit Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
Mengenal Kitab Lubabul Hadits Karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi
Kitab Lubabul Hadits adalah salah satu kitab hadis legendaris yang disusun oleh ulama besar mazhab Syafi'i, Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Kitab klasik ini merangkum sari pati hadis-hadis pilihan yang berfokus pada panduan praktis ibadah, akhlak mulia, dan spiritual harian. Keunikan utama dari kitab ini adalah penyajiannya yang ringkas tanpa menyertakan rangkaian sanad (periwayat) yang panjang, sehingga memudahkan umat Islam dan penuntut ilmu awam untuk langsung memahami inti pesan setiap hadis.
Struktur Isi dan Daftar Bab Ringkas Lubabul Hadits
Secara struktur, isi Kitab Lubabul Hadits terbagi secara sistematis ke dalam 40 bab yang masing-masing memuat tepat 10 hadis, dengan total keseluruhan 400 hadis. Topik yang dibahas sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari seorang Muslim. Pembahasan di dalamnya dimulai dari bab keutamaan ilmu dan ulama, fadhilah bersuci (thaharah), salat, sedekah, hingga ditutup dengan bab bertema pengingat kematian serta kedahsyatan hari kiamat.
Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab 36: Keutamaan Menjenguk Orang Sakit Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya
عُوْدُوْا الْمَرِيْضَ وَاتْبَعُوْا الْجَنَازَةَ تُذَكِّرْكُمُ الْآخِرَةَ
'Ūdūl-marīdha watba'ūl-janāzata tudzakkirkumul-ākhirah.
"Jenguklah orang sakit dan iringilah jenazah, maka hal itu akan mengingatkan kalian terhadap akhirat."
عَائِدُ الْمَرِيْضِ يَمْشِي فِي مَخْرَفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ
'Ā'idul-marīdhi yamsyī fī makhrafatil-jannati hattā yarji'.
"Penjenguk orang sakit itu berjalan di kebun buah surga sehingga dia kembali."
عِيَادَةُ الْمَرِيْضِ أَوَّلَ يَوْمٍ فَرِيْضَةٌ وَمَا بَعْدَهَا سُنَّةٌ
'Iyādatul-marīdhi awwala yaumin farīdhatun wa mā ba'dahā sunnah.
"Menjenguk orang sakit pada hari pertama adalah fardlu, dan hari sesudahnya adalah sunnah (1)."
Catatan (1): Maksudnya adalah menjenguk orang sakit untuk pertama kalinya setelah mengetahui dia sakit adalah fardlu (sunnah muakkad), dan menjenguk untuk kedua kalinya dan seterusnya adalah sunnah. Dalam Kitab Tanqihul Qoul oleh Imam Nawawi Al-Banteni dijelaskan bahwa maksud fardlu dan sunnah dalam hadist ini didasarkan pada solidaritas dan akhlak dalam bersosial, bukan hukum secara syariat. Sebagaimana sahabat Ibnu Abbas ra berkata bahwa menjenguk orang sakit untuk pertama kalinya adalah sunnah dan menjenguk untuk kedua kali dan seterusnya adalah nafilah (sunnah tambahan).
لَا تَجِبُ عِيَادَةُ الْمَرِيْضِ إِلَّا بَعْدَ ثَلَاثةِ أَيَّامٍ
Lā tajibu 'iyādatul-marīdhi illā ba'da tsalātsati ayyām.
"Tidaklah wajib menjenguk orang sakit kecuali sesudah 3 hari (2)."
Catatan (2): Dalam Kitab Tanqihul Qoul oleh Imam Nawawi Al-Banteni, maksud wajib di sini adalah wajib dalam solidaritas dan akhlak, jadi hukumnya adalah sunnah muakkad bukan wajib ain.
مَنْ عَادَ مَرِيْضًا صَالِحًا خَرَجَ مَعَهُ سَبْعُوْنَ مَلَكًا يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُ، وَيَخْرُجُوْنَ مِنْ بَيْتِ الْمَرِيْضِ مَعَهُ وَيَدْخُلُوْنَ إِلَى بَيْتِهِ
Man 'āda marīdhan shālihan kharaja ma'ahu sab'ūna malakan yastaghfirūna lahu, wa yakhrujūna min baitil-marīdhi ma'ahu wa yadkhulūna ilā baitih.
"Barang siapa menjenguk orang sakit yang sholeh, maka keluarlah bersamanya 70 malaikat dan memohonkan ampun kepadanya, mereka keluar dari rumah orang sakit bersamanya dan mereka masuk ke rumahnya (orang yang menjenguk)."
مَنْ عَادَ مَرِيْضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ
Man 'āda marīdhan lam yazal fī khurfatil-jannah.
"Barang siapa menjenguk orang sakit, maka dia tidak henti-hentinya di kebun buah surga."
عَائِدُ الْمَرِيْضِ يَخُوْضُ فِي رَحْمَةِ اللهِ تَعَالٰى فَإِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ انْغَمَسَ فِيْهَا
'Ā'idul-marīdhi yakhūdhu fī rahmatillāhi ta'ālā fa idzā jalasa 'indahu inghamasa fīhā.
"Penjenguk orang sakit itu berjalan di dalam rohmat Allah yang Maha Luhur, kemudian tatkala dia duduk di sisinya maka dia menyelam di dalamnya (rohmat Allah SWT)."
عَدَمُ عِيَادَةِ الْمَرِيْضِ أَشَدُّ عَلَيْهِ مِنْ مَرَضِهِ
'Adamu 'iyādatil-marīdhi asyaddu 'alaihi min maradhih.
"Tidak adanya menjenguk orang sakit itu lebih berat dari sakitnya."
العِيَادَةُ فَوَاقُ نَاقَةٍ
Al-'iyādatu fawāqu nāqah.
"Menjenguk orang sakit itu waktunya seperti memerah susu unta."
وَمِنْ تَمَامِ عِيَادَةِ الْمَرِيْضِ أَنْ يَضَعَ أَحَدُكُمْ يَدَهُ عَلَى وَجْهِهِ أَوْ عَلَى يَدِهِ فَيَسْأَلُهُ كَيْفَ هُوَ وَتَمَامُ تَحِيَّتِكُمْ بَيْنَكُمُ الْمُصَافَحَةُ
Wa min tamāmi 'iyādatil-marīdhi an yadha'a ahadukum yadahu 'alā wajhihi au 'alā yadihi fayas'aluhu kaifa huwa wa tamāmu tahiyyatikum bainakumul-mushāfahah.
"Dan sebagian dari kesempurnaan menjenguk orang sakit adalah meletakkan tangannya (penjenguk) di atas wajahnya (dahi orang yang sakit) atau di atas tangannya (orang yang sakit) kemudian menanyakan bagaimana keadaannya. Dan kesempurnaan penghormatan di antara kalian adalah berjabat tangan."
Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Lubabul Hadits Bab 36 : Keutamaan Menjenguk Orang Sakit Teks Arab Berharakat, Latin, dan Artinya"