Terjemah Kitab Safinatun Najah Bab Jenazah Arab Berharakat
| Terjemah bab Jenazah Kitab Matan Safinatun Najah Berharakat Lengkap Artinya |
Kitab Safinatun Najah yang berarti "Perahu Keselamatan" adalah kitab fikih dasar mazhab Syafi'i yang sangat populer di pesantren Indonesia karena bahasanya ringkas dan mudah dipahami pemula. Kitab panduan ibadah praktis ini ditulis oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami, seorang ulama besar, ahli hukum, asal Hadramaut, Yaman, yang berhijrah ke Batavia (Jakarta) dan wafat di sana.
Berikut adalah terjemahan lengkap Bab Jenazah Kitab Safinatun Najah Arab berharakat beserta artinya:
BAB JENAZAH
FASAL 1 MENGURUS JENAZAH
الَّذِي يَلْزَمُ لِلْمَيِّتِ أَرْبَعُ خِصَالٍ: ١- غُسْلُهُ ٢- وَتَكْفِينُهُ ٣- وَالصَّلَاةُ عَلَيهِ ٤- وَدَفْنُهُ
Kewajiban muslim terhadap saudaranya yang meninggal dunia ada empat perkara,
yaitu:
1. Memandikan.
2. Mengkafani.
3. Menshalatkan (shalat jenazah).
4. Memakamkan.
FASAL 2 MEMANDIKAN MAYIT
أَقَلُّ الغُسْلِ: تَعْمِيمُ بَدَنِهِ بِالمَاءِ
وَأَكْمَلُهُ: أَنْ يَغْسِلَ سَوْأَتَيهِ، وَأَنْ يُزِيلَ القَذَرَ مِنْ أَنْفِهِ، وَأَنْ يُوَضِّئَهُ، وَأَنْ يَدْلُكَ بِالسِّدْرِ، وَأَنْ يَصُبَّ المَاءَ عَلَيهِ ثَلَاثًا
Cara memandikan seorang muslim yang meninggal dunia:
Minimal (paling sedikit): membasahi seluruh badannya dengan air dan bisa disempurnakan dengan membasuh qubul dan duburnya, membersihkan hidungnya dari kotoran, mewudhukannya, memandikannya sambil diurut/digosok dengan air daun sidr (Bidara) dan menyiramnya tiga (3) kali.
FASAL 3 CARA MENGKAFANI
أَقَلُّ الكَفَنِ: ثَوْبٌ يَعُمُّهُ
وَأَكْمَلُهُ لِلرَّجُلِ: ثَلَاثُ لَفَائِفَ، وَلِلْمَرْأَةِ: قَمِيصٌ، وَخِمَارٌ، وَإِزَارٌ، وَلِفَافَتَانِ
Cara mengkafan:
Minimal: dengan sehelai kain yang menutupi seluruh badan. Adapun cara yang sempurna bagi laki-laki: menutup seluruh badannya dengan tiga helai kain, sedangkan untuk wanita yaitu dengan baju, khimar (penutup kepala), sarung dan 2 helai kain.
FASAL 4 RUKUN SHALAT JENAZAH
أَرْكَانُ صَلَاةِ الجَنَازَةِ سَبْعَةٌ
الأَوَّلُ: النِّيَّةُ
الثَّانِي: أَرْبَعُ تَكْبِيرَاتٍ
الثَّالِثُ: القِيَامُ عَلَى القَادِرِ
الرَّابعُ: قِرَاءَةُ الفَاتِحَةِ
الخَامِسُ: الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ بَعْدَ الثَّانِيَةِ
السَّادِسُ: الدُّعَاءُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ الثَّالِثَةِ
السَّابِعُ: السَّلَامُ
Rukun shalat jenazah ada tujuh (7), yaitu:
1. Niat.
2. Empat kali takbir.
3. Berdiri bagi orang yang mampu.
4. Membaca surat Al-Fatihah.
5. Membaca shalawat atas Nabi ﷺ sesudah takbir yang kedua.
6. Do‟a untuk si mayat sesudah takbir yang ketiga.
7. Salam.
FASAL 5 RUKUN SHALAT JENAZAH
أَقَلُّ القَبْرِ: حُفْرَةٌ تَكْتُمُ رَائِحَتَهُ وَحَرْسُهُ مِنَ السِّبَاعِ
وَأَكْمَلُهُ: قَامَةٌ وَبَسْطَةٌ، وَيُوْضَعُ خَدُّهُ عَلَى التُّرَابِ، وَيَجِبُ تَوْجِيهُهُ إِلَى القِبْلَةِ
Sekurang-kurang menanam (mengubur) mayat adalah dalam lubang yang menutup bau mayat dan menjaganya dari binatang buas. Yang lebih sempurna adalah setinggi orang dan luasnya, serta diletakkan pipinya di atas tanah. Dan wajib menghadapkannya ke arah kiblat.
FASAL 6 RUKUN SHALAT JENAZAH
يُنْبَشُ المَيِّتُ لِأَرْبَعِ خِصَالٍ:١- لِلْغُسْلِ إذَا لَمْ يَتَغَيَّرْ٢- وَلِتَوْجِيهِهِ إِلَى القِبْلَةِ٣- وَلِلْمَالِ إذَا دُفِنَ مَعَهُ٤- وَلِلْمَرْأَةِ إذَا دُفِنَ جَنِينُهَا مَعَهَا، وَأَمْكَنَتْ حَيَاتُهُ
Mayat boleh digali kembali, karena ada salah satu dari empat perkara, yaitu:
1. Untuk dimandikan apabila belum berubah bentuk.
2. Untuk menghadapkannya ke arah kiblat.
3. Untuk mengambil harta yang tertanam bersama mayat.
4. Wanita yang janinnya tertanam bersamanya dan ada kemungkinan janin tersebut masih hidup.
FASAL 7 HUKUM ISTIANAH
الِاسْتِعَانَاتُ أَرْبَعُ خِصَالٍ:١- مُبَاحَةٌ٢- وَخِلَافُ الأَوْلَى٣- وَمَكْرُوْهَةٌ٤- وَوَاجِبَةٌ.فَالمُبَاحَةُ: هِيَ تَقْرِيبُ المَاءِ.وَخِلَافُ الأَوْلَى: هِيَ صَبُّ المَاءِ عَلَى نَحْوِ المُتَوَضِّئِ.وَالمَكْرُوْهَةُ: هِيَ لِمَنْ يَغْسِلُ أَعْضَاءَهُ.وَالوَاجِبَةُ: هِيَ لِلْمَرِيضِ عِنْدَ العَجْزِ.
Hukum isti'anah (minta bantuan orang lain dalam bersuci) ada empat (4) perkara, yaitu:
1. Boleh.
2. Khilaf Aula.
3. Makruh
4. Wajib.
Boleh (mubah) meminta untuk mendekatkan air.
Khilaf aula (menyelisihi yang lebih utama) meminta menuangkan air atas orang yang berwudhu.
Makruh meminta menuangkan air bagi orang yang membasuh anggota-anggota (wudhu)nya.
Wajib meminta menuangkan air bagi orang yang sakit ketika ia lemah (tidak mampu untuk melakukannya sendiri).
jnk
Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Safinatun Najah Bab Jenazah Arab Berharakat "