Terjemah Kitab Safinatun Najah Bab Bersuci / Thaharah Arab Berharakat
| Terjemah Kitab Matan Safinatun Najah Bersuci / Thaharah Berharakat Lengkap Artinya |
Kitab Safinatun Najah yang berarti "Perahu Keselamatan" adalah kitab fikih dasar mazhab Syafi'i yang sangat populer di pesantren Indonesia karena bahasanya ringkas dan mudah dipahami pemula. Kitab panduan ibadah praktis ini ditulis oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami, seorang ulama besar, ahli hukum, asal Hadramaut, Yaman, yang berhijrah ke Batavia (Jakarta) dan wafat di sana.
Berikut adalah terjemahan lengkap Bab Bersuci / Thaharah Kitab Safinatun Najah Arab berharakat beserta artinya:
BAB BERSUCI
FASAL 1 TANDA BALIG
عَلَامَاتُ البُلُوْغِ ثَلَاثٌ: تَمَامُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً فِي الذَّكَرِ وَالأُنْثَى وَالِاحْتِلَامُ فِي الذَّكَرِ وَالأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِينَ وَالحَيضُ فِي الأُنْثَى لِتِسْعِ سِنِينَ
Adapun tanda-tanda baligh (mencapai usia remaja) seseorang ada tiga, yaitu:
1. Berumur seorang laki-laki atau perempuan limabelas tahun.
2. Bermimpi (junub) terhadap laki-laki dan perempuan ketika melewati sembilan tahun.
3. Keluar darah haidh sesudah berumur sembilan tahun.
FASAL 2 SYARAT ISTINJA
شُرُوْطُ إِجْزَاءِ الحَجَرِ ثَمَانِيَةٌ: أَنْ يَكُوْنَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ وَأَنْ يُنْقِيَ المَحَلَّ وَأَنْ لَا يَجِفَّ النَجَسُ وَأَنْ لَا يَنْتَقِلَ وَلَا يَطْرَأَ عَلَيهِ آخَرُ وَأَنْ لَا يُجَاوِزَ صَفْحَتَهُ وَحَشَفَتَهُ وَأَنْ لَا يُصِيبَهُ مَاءٌ وَأَنْ تَكُوْنَ الأَحْجَارُ طَاهِرَةً
Syarat boleh menggunakan batu untuk beristinja ada delapan, yaitu:
1. Menggunakan tiga batu.
2. Mensucikan tempat keluar najis dengan batu tersebut.
3. Najis tersebut tidak kering.
4. Najis tersebut tidak berpindah.
5. Tempat istinja tersebut tidak terkena benda yang lain sekalipun tidak najis.
6. Najis tersebut tidak berpindah tempat istinja (lubang kemaluan belakang dan kepala kemaluan depan).
7. Najis tersebut tidak terkena air.
8. Batu tersebut suci.
FASAL 3 RUKUN WUDHU
فُرُوْضُ الوُضُوْءِ سِتَّةٌ: الأَوَّلُ: النِّيَّةُ الثَّانِي: غَسْلُ الوَجْهِ الثَّالِثُ: غَسْلُ اليَدَينِ مَعَ المِرْفَقَينِ الرَّابعُ: مَسْحُ شَيْءٍ مِنَ الرَّأْسِ الخَامِسُ: غَسْلُ الرِّجْلَينِ مَعَ الكَعْبَينِ السَّادِسُ: التَّرْتِيبُ
Rukun wudhu ada enam, yaitu:
1. Niat.
2. Membasuh muka.
3. Membasuh kedua tangan serta siku.
4. Menyapu sebagian kepala.
5. Membasuh kedua kaki serta buku lali.
Tertib.
FASAL 4 ARTI NIAT DAN TARTIB
النِّيَّةُ: قَصْدُ الشَّيءِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ. وَمَحَلُّهَا: القَلْبُ. وَالتَّلَفُّظُ بِهَا: سُنَّةٌ. وَوَقْتُهَا: عِنْدَ غَسْلِ أَوَّلِ جُزْءٍ مِنَ الوَجْهِ
Niat adalah menyengaja suatu (perbuatan) berbarengan (bersamaan) dengan perbuatannya di dalam hati. Adapun mengucapkan niat tersebut maka hukumnya sunnah, dan waktunya ketika pertama membasuh sebagian muka.
وَالتَّرْتِيبُ: أَنْ لَا يُقَدَّمَ عُضْوٌ عَلَى عُضْوٍ
Adapun tertib yang dimaksud adalah tidak mendahulukan satu anggota terhadap anggota yang lain (sebagaimana yang telah tersebut)
FASAL 5 HUKUM AIR
المَاءُ: قَلِيلٌ وَكَثِيرٌ فَالقَلِيلُ: مَا دُوْنَ القُلَّتَينِ. وَالكَثِيرُ: قُلَّتَانِ فَأَكْثَرُ.
وَالقَلِيلُ: يَتَنَجَّسُ بِوُقُوْعِ النَّجَاسَةِ فِيهِ، وَإِن لَمْ يَتَغَيَّرْ وَالمَاءُ الكَثِيرُ: لَا يَتَنَجَّسُ إِلَّا إِذَا تَغَيَّرَ طَعْمُهُ، أَوْ لَوْنُهُ، أَوْ رِيحُهُ
Air terbagi kepada dua macam; Air yang sedikit. Dan air yang banyak.
Adapun air yang sedikit adalah air yang kurang dari dua qullah . Dan air yang banyak itu adalah yang sampai dua qullah atau lebih.
Air yang sedikit akan menjadi najis dengan sebab tertimpa najis ke dalamnya, sekalipun tidak berubah. Adapun air yang banyak maka tdak akan menjadi najis kecuali air tersebut telah berubah warna, rasa atau baunya
FASAL 6 YANG MEWAJIBKAN MANDI
مُوْجِبَاتُ الغُسْلِ سِتَّةٌ: إِيلَاجُ الحَشَفَةِ فِي الفَرْجِ وَخُرُوُجُ المَنِيِّ وَالحَيضُ وَالنِّفَاسُ وَالوِلَادَةُ وَالمَوْتُ
Yang mewajibkan mandi ada enam perkara, yaitu:
1. Memasukkan kemaluan (kepala dzakar) ke dalam farji (kemaluan) perempuan.
2. Keluar air mani.
3. Mati.
4. Keluar darah haidh (datang bulan).
5. Keluar darah nifas (darah yang keluar setelah melahirkan).
6. Melahirkan.
FASAL 7 RUKUN MANDI
فُرُوْضُ الغُسْلِ اثْنَانِ: النِّيَّةُ وَتَعْمِيمُ البَدَنِ بِالمَاءِ
Fardhu-fardhu (rukun) mandi yang diwajibkan ada dua perkara, yaitu:
1. Niat mandi wajib.
2. Menyampaikan air ke seluruh tubuh dengan sempurna.
FASAL 8 SYARAT WUDHU
شُرُوْطُ الوُضُوْءِ عَشَرَةٌ: الإِسْلَامُ وَالتَّمْيِيزُ وَالنَّقَاءُ عَنِ الحَيضِ، وَالنِّفَاسِ وَعَمَّا يَمْنَعُ وُصُوْلَ المَاءِ إِلَى البَشَرَةِ وَأَنْ لَا يَكُوْنَ عَلَى العُضْوِ مَا يُغَيِّرُ المَاءَ وَالعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهِ وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فَرُوْضِهِ سُنَّةً وَالمَاءُ الطَّهُوْرُ وَدُخُوْلُ الوَقْتِ وَالمُوَالَاةُ لِدَائِمِ الحَدَثِ
Syarat-syarat wudhu` ada sepuluh, yaitu:
1. Islam.
2. Tamyiz (cukup umur dan berakal).
3. Suci dari haidh dan nifas.
4. Lepas dari segala hal dan sesuatu yang bisa menghalang sampai air ke kulit.
5. Tidak ada sesuatu disalah satu anggota wudhu` yang merubah keaslian air.
6. Mengetahui bahwa hukum wudhu` tersebut adalah wajib.
7. Tidak boleh beri`tiqad (berkeyakinan) bahwa salah satu dari fardhu–fardhu wudhu` hukumnya sunnah (tidak wajib).
8. Kesucian air wudhu` tersebut.
9. Masuk waktu shalat yang dikerjakan.
10. Muwalat (berturut-turut tidak jeda lama) bagi yang sering berhadats.
Dua syarat terakhir ini khusus untuk da`im al-hadats .
FASAL 9 PEMBATAL WUDHU
نَوَاقِضُ الوُضُوْءِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الأَوَّلُ: الخَارجُ مِنْ أَحَدِ السَّبِيلَينِ، مِنْ قُبُلٍ أَوْ دُبُرٍ، رِيحٌ أَوْ غَيرُهُ، إِلَّا المَنِيَّ الثَّانِي: زَوَالُ العَقْلِ بِنَوْمٍ أَوْ غَيرِهِ إِلَّا قَاعِدٍ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَتَهُ مِنَ الأَرْضِ الثَّالِثُ: اِلْتِقَاءُ بَشَرَتَي رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ كَبِيرَينِ أَجْنَبِيَّينِ مِنْ غَيرِ حَائِلٍ الرَّابعُ: مَسُّ قُبُلِ الآدَمِيِّ، أَوْ حَلْقَةِ دُبُرِهِ بِبَطْنِ الرَّاحَةِ، أَوْ بُطُوْنِ الأَصَابِعِ
Yang membatalkan wudhu` ada empat, yaitu:
1. Apabila keluar sesuatu dari salahsatu kemaluan seperti angin dan lainnya, kecuali air mani.
2. Hilang akal seperti tidur dan lain lain, kecuali tidur dalam keadaan duduk rapat bagian punggung dan pantatnya dengan tempat duduknya, sehingga yakin tidak keluar angin sewaktu tidur tersebut.
3. Bersentuhan antara kulit laki-laki dengan kulit perempuan yang bukan muhrim baginya dan tidak ada penghalang antara dua kulit tersebut seperti kain dll. ”Mahram”: (orang yang haram dinikahi seperti saudara kandung).
4. Menyentuh kemaluan orang lain atau dirinya sendiri atau menyentuh tempat pelipis dubur (kerucut sekeliling) dengan telapak tangan atau telapak jarinya.
FASAL 10 LARANGAN ORANG BERHADATS
مَنِ انْتَقَضَ وُضُوْءُهُ حَرُمَ عَلَيهِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلَاةُ وَالطَّوَافُ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ
Larangan bagi orang yang berhadats kecil ada 4, yaitu:
1. Shalat, fardhu maupun sunnah.
2. Thawaf (keliling Ka`bah tujuh kali).
3.4. Menyentuh kitab suci Al-Qur`an atau mengangkatnya.
وَيَحْرُمُ عَلَى الجُنُبِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: الصَّلَاةُ وَالطَّوَافُ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَاللُّبْثُ فِي المَسْجِدِ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ
Larangan bagi orang yang berhadats besar (junub) ada lima, yaitu:
1. Shalat.
2. Thawaf.
3. Menyentuh Al-Qur`an.
4. Membawa Al-Qur`an.
5. I`tikaf (berdiam di masjid).
وَيَحْرُمُ بِالحَيضِ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلَاةُ وَالطَّوَافُ وَمَسُّ المُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَاللُّبْثُ فِي المَسْجِدِ وَقِرَاءَةُ القُرْآنِ وَالصَّوْمُ وَالطَّلَاقُ وَالمُرُوْرُ فِي المَسْجِدِ إِنْ خَافَتْ تَلْوِيثَهُ وَالِاسْتِمْتَاعُ بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ
Larangan bagi perempuan yang sedang haidh ada sepuluh, yaitu:
1. Sholat,
2. thowaf,
3.4. menyentuh mushaf dan membawanya,
5. berdiam diri di Masjid,
6. membaca Al-Qur’an,
7. puasa,
8. tholaq,
9. melewati Masjid jika takut mengotorinya, dan
10. istimta’ (bercumbu) di sekitar daerah antara pusar dan lutut.
FASAL 11 SEBAB TAYAMUM
أَسْبَابُ التَّيَمُّمِ ثَلَاثَةٌ: فَقْدُ المَاءِ وَالمَرَضُ وَالِاحْتِيَاجُ إِلَيهِ لِعَطَشِ حَيَوَانٍ مُحْتَرَمٍ
Sebab-sebab yang membolehkan tayammum ada tiga hal, yaitu:
1. Tidak ada air untuk berwudhu`.
2. Ada penyakit yang mengakibatkan tidak boleh memakai air.
3. Ada air hanya sekedar mencukupi kebutuhan minum manusia atau binatang yang muhtaram .
غَيرُ المُحْتَرَمِ سِتَّةٌ : تَارِكُ الصَّلَاةِ وَالزَّانِي المُحْصَنُ وَالمُرْتَدُّ وَالكَافِرُ الحَرْبِيُّ وَالكَلْبُ العَقُوْرُ وَالخِنْزِيرُ.
Adapun selain muhtaram (Yang tidak dihormati) ada enam macam, yaitu:
1. Orang yang meninggalkan shalat wajib.
2. Penzina dalam keadaan Ihshan (orang yang sudah beraqad nikah yang sah)
3. Murtad.
4. Kafir Harbiy (yang boleh dibunuh).
5. Anjing yang menyalak (tidak mentaati pemiliknya atau tidak boleh dipelihara).
6. Babi.
FASAL 12 SYARAT TAYAMUM
شُرُوْطُ التَّيَمُّمِ عَشَرَةٌ: أَنْ يَكُوْنَ بِتُرَابٍ وَأَنْ يَكُوْنَ التُّرَابُ طَاهِرًا وَأَنْ يَكُوْنَ مُسْتَعْمَلًا وَأَنْ لَا يُخَالِطَهُ دَقِيقٌ وَنَحْوُهُ وَأَنْ يَقْصِدَهُ وَأنْ يَمْسَحَ وَجْهَهُ وَيَدَيهِ بِضَرْبَتَينِ وَأَنْ يُزِيلَ النَّجَاسَةَ أَوَّلًا وَأَنْ يَجْتَهِدَ فِي القِبْلَةِ قَبْلَهُ وَأَنْ يَكُوْنَ التَّيَمُّمُ بَعْدَ دُخُوْلِ الوَقْتِ وَأَنْ يَتَيَمَّمَ لِكُلِّ فَرْضٍ
Syarat-syarat mengerjakan tayammum ada sepuluh, yaitu:
1. Bertayammum dengan tanah.
2. Menggunakan tanah yang suci tidak terkena najis.
3. Tidak pernah dipakai sebelumnya (untuk tayammaum yang fardhu).
4. Murni dari campuran yang lain seperti tepung dan seumpamanya.
5. Mengqoshod atau menghendaki (berniat) bahwa sapuan dengan tanah tersebut untuk dijadikan tayammum.
6. Menyapu muka dan dua tangannya dengan dua kali mengusap tanah tayammum secara masing-masing (terpisah)
7. Menghilangkan segala najis di badan terlebih dahulu.
8. Berhati-hati dan bersungguh-sungguh dalam mencari arah kiblat sebelum memulai tayammum.
9. Masuk waktu shalat fardhu tersebut, sebelum tayammum.
10. Bertayammum tiap kali shalat fardhu tiba.
FASAL 13 RUKUN TAYAMUM
فُرُوْضُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةٌ: الأَوَّلُ: نَقْلُ التُّرَابِ الثَّانِي: النِّيَّةُ الثَّالِثُ: مَسْحُ الوَجْهِ الرَّابعُ: مَسْحُ اليَدَينِ إِلَى المِرْفَقَين الخَامِسُ: التَّرْتِيبُ بَينَ المَسْحَتَينِ.
Rukun-rukun tayammum ada lima, yaitu:
1. Memindah debu.
2. Niat.
3. Mengusap wajah.
4. Mengusap kedua belah tangan sampai siku.
5. Tertib antara dua usapan.
FASAL 14 YANG MEMBATALKAN TAYAMUM
مُبْطِلَاتُ التَّيَمُّمِ ثَلَاثَةٌ: مَا أَبْطَلَ الوَضُوْءَ وَالرِّدَّةُ وَتَوَهُّمُ المَاءِ إِنْ تَيَمَّمَ لِفَقْدِهِ
Perkara yang membatalkan tayammum ada tiga, yaitu:
1. Semua yang membatalkan wudhu.
2. Murtad.
3. Ragu-ragu terdapatnya air, apabila dia bertayammum karena tidak ada air.
FASAL 15 NAJIS YANG BISA SUCI
الَّذِي يَطْهُرُ مِنَ النَّجَاسَاتِ ثَلَاثَةٌ: الخَمْرُ إِذَا تَخَلَّلَتْ بِنَفْسِهَا وَجِلْدُ المَيتَةِ إِذَا دُبِغَ وَمَا صَارَ حَيَوَانًا
Perkara yang menjadi suci dari yang asalnya najis ada tiga, yaitu:
1. Khamar (air yang diperah dari anggur) apabila telah menjadi cuka.
2. Kulit binatang yang disamak.
3. Semua najis yang telah berubah menjadi binatang.
FASAL 16 JENIS NAJIS
النَّجَاسَاتُ ثَلَاثٌ
مُغَلَّظَةٌ، وَمُخَفَّفَةٌ، وَمُتَوَسِّطَةٌ
المُغَلَّظَةُ: نَجَاسَةُ الكَلْبِ وَالخِنْزِيرِ وَفَرْعِ أَحَدِهِمَا
وَالمُخَفَّفَةُ: بَوْلُ الصَّبِيِّ الَّذِي لَمْ يَطْعَمْ غَيرَ اللَّبَنِ وَلَمْ يَبْلُغِ الحَوْلَينِ
وَالمُتَوَسِّطَةُ: سَائِرُ النَّجَاسَاتِ
Macam macam najis ada tiga, yaitu:
1. Najis besar (Mughalladzah), yaitu anjing, babi atau yang lahir dari salah satunya.
2. Najis ringan (Mukhaffafah), yaitu air kencing bayi yang tidak makan, selain susu dari ibunya, dan umurnya belum sampai dua tahun.
3. Najis sedang (Mutawassithah), yaitu semua najis selain dua yang di atas.
FASAL 17 CARA MENGHILANGKAN NAJIS
المُغَلَّظَةُ تَطْهُرُ بِسَبْعِ غَسَلَاتٍ -بَعْد إِزَالَةِ عَينِهَا- إِحْدَاهُنَّ بِتُرَابٍوَالمُخَفَّفَةُ تَطْهُرُ بِرَشِّ المَاءِ عَلَيهَا مَعَ الغَلَبَةِ وَإِزَالَةِ عَينِهَا
Fasal: Mughollazhoh disucikan dengan 7 basuhan setelah dihilangkan najisnya terlebih dahulu di mana salah satu basuhan dengan debu. Mukhoffafah disucikan dengan memercikkan air di atasnya secara merata disertai menghilangkan najisnya (urin bayi).
وَالمُتَوَسِّطَةُ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَينِ: عَينِيَّةٌ، وَحُكْمِيَّةٌ
العَينِيَّةُ: الَّتِي لَهَا لَوْنٌ وَرِيحٌ وَطَعْمٌ، فَلَا بُدَّ مِنْ إِزَالَةِ لَونِهَا وَرِيحِهَا وَطَعْمِهَا
وَالحُكْمِيَّةُ: الَّتِي لَا لَوْنَ وَلَا رَيْحَ وَلَا طَعْمَ لَهَا، يَكْفِيكَ جَرْيُ المَاءِ عَلَيهَا
Mutawassithoh dibagi dua, yaitu ainiyah dan hukmiyah. [1] Najis aini adalah najis yang memiliki warna, aroma, dan rasa sehingga cara mensucikannya harus menghilangkan warna, aroma, dan rasanya. [2] Najis hukmi adalah najis yang tidak berwarna, beraroma, dan berasa sehingga cukup mengalirkan air di atasnya.
FASAL 18 HAID DAN NIFAS
أَقَلُّ الحَيضِ: يَوْمٌ وَلَيلَةٌ. وَغَالِبُهُ: سِتٌّ أَوْ سَبْعٌ. وَأَكْثَرُهُ: خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا بِلَيَالِيهَا
Sedikitnya haidh adalah sehari semalam, umumnya 6 atau 7 hari, dan terbanyak adalah 15 sehari semalam.
أَقَلُّ الطُّهْرِ بَينَ الحَيضَتَينِ: خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا. وَغَالِبُهُ: أَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ يَوْمًا، أَوْ ثَلَاثَةٌ وَعِشْرُوْنَ يَوْمًا. وَلَا حَدَّ لِأَكْثَرِهِ
Sedikitnya masa suci antara dua haidh adalah 15 hari, umumnya 24 atau 23 hari, tetapi terkadang seseorang lebih lama dari itu.
أَقَلُّ النِّفَاسِ: مَجَّةٌ. وَغَالِبُهُ: أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا. وَأَكْثَرُهُ: سِتُّوْنَ يَوْمًا
Masa nifas paling sedikit adalah setetes darah, umumnya 40 hari, dan maksimal 60 hari
Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Safinatun Najah Bab Bersuci / Thaharah Arab Berharakat "