Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Bayyinah (Saksi)

Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Bayyinah (Saksi)
Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Bayyinah (Saksi)


Syarah Kitab Al-Ghayah wa At-Taqrib Matan Abu Syuja telah diberikan penjelasan (syarah) oleh para ulama, salah satunya adalah kitab Fathul Qarib al-Mujib atau al-Qaulul Mukhtar fi Syarah Ghayah al-Ikhtishar karya Syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazziy (918 H / 1512 M). Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazi al-Qahiri as-Syafi'i. Beliau lebih dikenal dengan "Ibn al-Gharabili". Beliau lahir di bulan Rajab 859 H/1455 M di Gaza, Palestina dan di kota inilah beliau memulai kehidupan. Tepatnya pada hari Rabu, 6 Muharram 918 H/1512 M beliau wafat.

Dalam kitab fathul qorib al-mujib ini dibahas tentang fiqih Mazhab Imam Syafi'i terdiri dari muqaddimah dan pembahasan ilmu fiqih yang secara garis besar terdiri atas empat bagian, yaitu tentang cara pelaksanaan ibadah, muamalat, masalah nikah, dan kajian hukum Islam yang berbicara tentang kriminalitas atau jinayat

berikut Terjemah Bab Bayyinah (Saksi) Kitab Fathul Qorib teks arab berharakat disertai translate arti bahasa indonesia

Bab Bayyinah (Saksi)

(فَصْلٌ) فِيْ الْحُكْمِ بِالْبَيِّنَةِ

(Fasal) menjelaskan memutuskan hukum dengan bayyinah / saksi.

(وَإِذَا كَانَ مَعَ الْمُدَّعِيْ بَيِّنَةٌ سَمِعَهَا الْحَاكِمُ وَحَكَمَ لَهُ بِهَا) إِنْ عَرَفَ عَدَالَتَهَا

Ketika pendakwa memiliki saksi, maka sang hakim harus mendengar saksi tersebut dan memutuskan hukum bagi pendakwa dengan saksi tersebut jika sang hakim mengetahui sifat adil saksi tersebut.

وَإِلَّا طَلَبَ مِنْهَا التَّزْكِيَّةَ

Jika tidak, maka sang hakim meminta si saksi agar melakukan tazkiyah (persaksian atas keadilan dirinya).

(وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ) أَيِ الْمُدَّعِيْ (بَيِّنَةٌ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بِيَمِيْنِهِ)

Jika pihak pendakwa tidak memiliki saksi, maka ucapan yang diterima adalah ucapan pihak terdakwa disertai dengan sumpahnya.

وَالْمُرَادُ بِالْمُدَّعِيْ مَنْ يُخَالِفُ قَوْلُهُ الظَّاهِرَ

Yang dikehendaki dengan pendakwa aalah orang yang ucapannya bertolak belakang dengan apa yang dhahir.

وَالْمُدَّعَى عَلَيْهِ مَنْ يُوَافِقُ قَوْلُهُ الظَّاهِرَ

Dan yang dimaksud dengan terdakwa adalah orang yang ucapannya sesuai dengan apa yang dhahir.

(فَإِنْ نَكَلَ) أَيِ امْتَنَعَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ (عَنِ الْيَمِيْنِ) الْمَطْلُوْبَةِ مِنْهُ (رُدَّتْ  عَلَى الْمُدَّعِيْ

Kemudian, jika pihak terdakwa tidak mau melakukan sumpah yang diperintahkan padanya, maka hak sumpah diberikan kepada pihak pendakwa.

فَيَحْلِفُ) حِيْنَئِذٍ (وَيَسْتَحِقُّ) الْمُدَّعَى بِهِ

Maka saat itulah pihak pendakwa melakukan sumpah dan berhak mendapatkan apa yang didakwakan.

وَالنُّكُوْلُ أَنْ يَقُوْلَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بَعْدَ عَرْضِ الْقَاضِيْ عَلَيْهِ الْيَمِيْنَ “أَنَا نَاكِلٌ عَنْهَا”

Nukul / tidak mau bersumpah adalah ucapan terdakwa, “saya tidak mau bersumpah”, setelah qadli menawarkan padanya untuk bersumpah.

أَوْ يَقُوْلَ لَهُ الْقَاضِيْ “احْلِفْ” فَيَقُوْلُ “لاَ أَحْلِفُ”.

Atau qadli berkata pada terdakwa, “bersumpahlah”. Namun terdakwa menjawab, “saya tidak akan bersumpah.”

(إِذَا تَدَاعَيَا) أَيِ اثنَانِ (شَيْئًا فِيْ يَدِّ أَحَدِهِمَا فَالْقَوْلُ قَوْلُ صَاحِبِ الْيَدِّ بِيَمِيْنِهِ) أَيْ أَنَّ الَّذِيْ فِيْ يَدِّهِ لَهُ

Ketika ada dua orang yang saling mengaku berhak atas sesuatu yang berada di tangan salah satu dari mereka, maka ucapan yang diterima adalah ucapan orang yang memegangnya disertai dengan sumpahnya, maksudnya sesungguhnya barang yang ada di tangannya adalah milik dia.

(وَإِنْ كَانَ فِيْ أَيْدِيْهِمَا) أَوْ لَمْ يَكُنْ فِيْ يَدِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا (تَحَالَفَا وَجُعِلَ) الْمُدَّعَى بِهِ (بَيْنَهُمَا) نِصْفَيْنِ

Jika perkara tersebut berada di tangan keduanya atau tidak ada pada keduanya, maka keduanya melakukan sumpah dan barang yang dituntut dibagi sama rata pada keduanya.

(وَمَنْ حَلَفَ عَلَى فِعْلِ نَفْسِهِ) إِثْبَاتًا أَوْ نَفْيًا (حَلَفَ عَلَى الْبَتِّ وَالْقَطْعِ)

Barang siapa bersumpah atas perbuatan dirinya, baik menetapkan perbuatan atau mentiadakan, maka ia harus bersumpah al batt wal qath’i.

وَالْبَتُّ بِمُوَحَّدَةٍ فَمُثَنَّاةٍ فَوْقِيَّةٍ مَعْنَاهُ الْقَطْعُ

Al batt dengan menggunakan ba’ yang diberi titik satu kemudian huruf ta’ yang diberi titik dua di atas, maknanya adalah memutus.

وَحِيْنَئِذٍ فَعَطْفُ الْمُصَنِّفِ الْقَطْعَ عَلَى الْبَتِّ مِنْ عَطْفِ التَّفْسِيْرِ

Kalau demikian, maka mushannif mengathafkan lafadz “al qath’u” pada lafadz “al batt” adalah athaf tafsir.

(وَمَنْ حَلَفَ عَلَى فِعْلِ غَيْرِهِ) فَفِيْهِ تَفْصِيْلٌ

Barang siapa bersumpah atas perbuatan orang lain, maka terdapat perincian dalam hal ini,

فَإِنْ كَانَ إِثْبَاتًا حَلَفَ عَلَى الْبَتِّ وَالْقَطْعِ

Jika sumpahnya adalah menetapkan, maka ia bersumpah al batt wal qath’i.

وَإِنْ كَانَ نَفْيًا) مُطْلَقًا (حَلَفَ عَلَى نَفْيِ الْعِلْمِ)

Jika sumpahnya adalah mentiadakan secara mutlak, maka ia bersumpah bahwa tidak tahu.

وَهُوَ أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ أَنَّ غَيْرَهُ فَعَلَ كَذَا

Yaitu, sesungguhnya ia tidak tahu bahwa orang lain tersebut melakukan hal itu.

أَمَّا النَّفْيُ الْمَحْصُوْرُ فَيَحْلِفُ فِيْهِ الشَّخْصُ عَلَى الْبَتِّ

Adapun mentiadakan yang dibatasi, maka dalam hal ini seseorang bersumpah dengan cara al batt.


Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Bayyinah (Saksi)"