Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Arti Nadzhom Al Imrithi Lengkap Semua Bab (part 5)


Terjemah Arti Nadzhom Al Imrithi Lengkap Semua Bab (part 5)

sebelum membahas terjemah bahasa indonesia matan nadzom al imrithi ada baiknya kita mengulas secara ringkas tentang kitab al imriti yang disusun syeikh  Syarafuddin Yahya bin Badruddin Musa bin Ramadhan bin Umairoh Al-Imrithi

Kitab Nadhom Imrithi (العمريطي) merupakan salah satu kitab ilmu nahwu yang di dalamnya berisi sekitar 254 bait.  Nadhom Imrithi sudah mashur dan banyak dikaji di pondok-pondok pesantren sebagai dasar bagi para santri untuk lebih memahami tentang ilmu nahwu dalam Bahasa Arab.

Kitab Nadhom Imrithi merupakan karya seorang ulama' yang alim dan ikhlas yang bernama Syekh Syarafuddin Yahya bin Badruddin Musa bin Ramadhan bin Umairoh Al-Imrithi yang merupakan ulama' alumni Universitas Al-Azhar Mesir.

Beliau tidak hanya ulama' yang ahli dalam tata bahasa arab, akan tetapi juga ahli dalam bidang fiqih dan ushul fiqih. Nama Al-Imrithi merupakan gelar disandarkan dengan nama desa kelahiran beliau yaitu Desa Amrith - Mesir. Selain Nadhom Imrithi, karya beliau di bidang fiqih dan ushul fiqih misalnya Nihayatut Tadzrib fin Nadzmi Ghoyatut Taqrib, Taisir fi Nadzmit Tahrir, dan Tashilut Turuqot li Nadzmil Waroqot.

Kitab Nadhom Al-Imriethie atau Nazom Imriti adalah matan Kitab Jurumiyyah ; kitab ilmu nahwu yang digubah menjadi bentuk nadhom / natsar / sya’ir serta mengurangi beberapa keterangan dalam Kitab Jurumiyyah yang kurang diperlukan dan menambahi beberapa keterangan yang dianggap cukup penting.

Berikut terjemah arti bahasa indonesia semua bab kitab kitab al Imrithi beserta artinya  (part 5) Bab Isim-Isim Yang Dinashobkan, Masdar, Dhorof, Hal, Tamyiz, Istitsna'

 

بَابُ مَنْصُوْبَاتِ الْاَسْمَاءِ

Bab Isim-Isim Yang Dinashobkan


ثَلاَثَةٌ مِنْ سَائِرِ الْاَسْمَا خَلَتْ # مَنْصُوْبَةً وَهَذِهِ عَشْرٌ تَلَتْ

Ada 3 dari semua isim-isim yang berlalu (disebutkan) # Dari isim yang dinashobkan, dan ini ada sepuluh isim yang menyandingi (sebagai berikut ini)

Catatan :

Isim nashob yang sudah disebutkan adalah khobarnya kana, isimnya inna, dan maf'ulnya dhonna, ditambah lagi 10 isim nashob yang akan dijelaskan sebagai berikut

وَكُلُّهَا تَأْتِيْ عَلَى تَرْتِيْبِهِ # اَوَّلُهَا فِى الذِّكْرِ مَفْعُوْلٌ بِهِ

Semuanya akan datang (dijelaskan) secara urut # Isim nashob pertama yang dijelaskan adalah Maf'ul Bih

وَذٰلِكَ اسْمٌ جَاءَ مَنْصُوْبًا وَقَعْ # عَلَيْهِ فِعْلٌ كَاخْذَرُوْا اَهْلَ الطَّمَعْ

Maf'ul bih adalah isim yang dibaca nashob, yang mana jatuh # Padanya sebuah fi'il (jatuh setelah fi'il), seperti اَخْذَرُوْا اَهْلَ الطَّمَعِ (takutlah kalian pada orang-orang yang ahli tamak/serakah)

فِيْ ظَاهِرٍ ومُضْمَرٍ قَدِ انْحَصَرْ # وَقَدْ مَضَى التَّمْثِيْلُ لِلَّذِيْ ظَهَرْ

(Maf'ul Bih) Diringkas (dibagi) menjadi isim dhohir dan isim dlomir # Contohnya telah berlalu bagi isim yang dhohir

وَغَيْرُهُ قِسْمَانِ اَيْضًا مُتَّصِلْ # كَجَاءَنِيْ وَجَاءَنَا وَمُنْفَـصِلْ

Selain isim dhohir (yaitu isim dlomir) terbagi menjadi dua juga, yaitu isim dlomir muttashil (sambung) # Seperti جَاءَنِيْ (dia datang padaku) جَاءَنَا (dia datang pada kita), dan isim dlomir munfashil (terpisah)

مِثَالُهُ اِيَّايَ اَوْ اِيَّانَا # حُيِّيْتَ اَكْرِمْ بِالَّذِيْ حَيَّانَا

Contohnya (munfashil) adalah اِيَّايَ اَوْ اِيَّانَا حُيِّيْتَ (kepadaku atau kepada kami, Engkau telah menghidupkan) اَكْرِمْ بِالَّذِيْ حَيَّانَا (muliakanlah Dzat yang telah menghidupkan kami)

وَقِسْ بِذَيْنِ كُلَّ مُضْمَرٍ فُصِلْ # وَبِاللَّذَيْنِ قَبْلَ كُلٍّ مُتَّصِلْ

Qiyaskanlah (samakanlah) dengan 2 contoh itu pada setiap dlomir yang munfashil (terpisah) # Dan dengan 2 contoh itu pada sebelumnya masing-masing dlomir muttashil (sambung)

فَكُلُّ قِسْمٍ مِنْهُمَا قَدِ انْحَصَرْ # مَا جَاءَ مِنْ اَنْوَاعِهِ فِيْ اثْنَى عَشَرْ

Dan setiap pembagian dari keduanya telah diringkas # Yaitu dlomir yang telah dijelaskan macam-macanya di dalam 12 pembagian dlomir



بَابُ الْمَصْدَرِ

Bab Masdar


وَاِنْ تُرِدْ تَصْـرِيْفَ نَحْوِ قَامَا # فَقُلْ يَقُوْمُ ثُمَّ قُلْ قِيَامَا

Jika kamu menginginkan tashrifan contoh lafadz قَامَ # Maka katakanlah يَقُوْمُ, kemudian katakan قِيَامًا

فَمَا يَجِيْئُ ثَالِثًا فَالْمَصْدَرُ # وَنَصْبُهُ بِفِعْلِهِ مُقَدَّرُ

Contoh yang datang pada urutan ketika, maka dinamakan Masdar # Nashobnya sebab adanya fi'il adalah dikira-kirakan

فَاِنْ يُوَافِقْ فِعْلَهُ الَّذِيْ جَرَى # فِى اللَّفْظِ وَالْمَعْنَى فَلَفْظِيًا يُرَى

Bila masdar sesuai dengan fi'ilnya yang berlalu # Baik di dalam lafadz dan makna, maka dinamakan Masdar Lafdzi yang terlihat

Catatan :

Terlihat lafadz masdar sama dengan lafadz fi'ilnya

اَوْ وَافَقَ الْمَعْنَى فَقَطْ فَقَدْ رُوِى # بِغَـيْرِ لَفْظِ الْفِعْلِ فَهُوَ مَعْنَوِى

Atau masdar sesuai dengan maknanya saja, maka terlihat # Tanpa adanya lafadz fi'il, maka itu namanya Masdar Maknawi

فَقُمْ قِيَامًا مِنْ قَبِيْلِ الْاَوَّلِ # وَقُمْ وُقُوْفًا مِنْ قَبِيْلِ مَا يَلِى

Maka contohnya قُمْ قِيَامًا dari golongan pertama (Masdar Lafdzi) # Dan قُمْ وُقُوْفًا dari golongan kedua (Masdar Makwani)



بَابُ الظَّرْفِ

Bab Dhorof


هُوَ اسْمُ وَقْتٍ اَوْ مَكَانٍ انْتَصَبْ # كُلٌّ عَلَى تَقْدِيْرِ فِيْ عِنْدَ الْعَرَبْ

Dhorof adalah isim yang menunjukkan waktu atau tempat, yang dinashobkan # Setiap masing-masing mengira-ngirakan makna فِيْ (di dalam) menurut orang Arab

اِذَا اَتَى ظَرْفُ الْمَكَانِ مُبْهَمَا # وَمُطْلَقًا فِيْ غَيْرِهِ فَالْيُعْلَمَا

Ketika Dhorof Makan (tempat) datang secara mubham # Dan secara mutlaq selain mubham (yaitu mukhtash) maka hendaklah diketahui

وَالنَّصْبُ بِالْفِعْلِ الَّذِيْ بِهِ جَرَى # كَسِرْتُ مِيْلًا وَاعْتَكَفْتُ اَشْهُرَا

Nashobnya dhorof sebab adanya fi'il yang berlalu # Seperti سِرْتُ مِيْلًا (aku berjalan satu mil) اِعْتَكَفْتُ اَشْهُرًا (aku i'tikaf selama beberapa bulan)

اَوْ لَيْلَةً اَوْ يَوْمًا اَوْ سِنِيْنَا # اَوْ مُدَّةً اَوْ جُمْعَةً اَوْ حِيْنَا

لَيْلَةً (semalam) يَوْمًا (sehari) سِنِيْنًا (beberapa tahun) # مُدَّةً (masa) جُمْعَةً (hari jum'at) حِيْنًا (masa)

اَوْ قُمْ صَبَاحًا اَوْ مسَاءً اَوْ سَحَرْ # اَوْ غُدْوَةً اَوْ بُكْرَةً اِلَى السَّفَرْ

Atau قُمْ صَبَاحًا اَوْ مسَاءً اَوْ سَحَرًا اَوْ غُدْوَةً اَوْ بُكْرَةً اِلَى السَّفَرِ (berdirilah di waktu pagi, sore, sahur, pagi, atau esok sampai waktu perjalanan)

اَوْ لَيْلَةَ الْاِثْنَيْنِ اَوْ يَوْمَ الْاَحَدْ # اَوْ صُمْ غَدًا اَوْ سَرْمَدًا اَوِ الْاَبَدْ

لَيْلَةَ الْاِثْنَيْنِ (malam Senin) atau يَوْمَ الْاَحَدْ (Hari Ahad) # Atau صُمْ غَدًا اَوْ سَرْمَدًا اَوِ الْاَبَدْ (berpuasalah besok, terus menerus, atau selamanya)

وَاسْمُ الْمَكَانِ نَحْوُ سِرْ اَمَامَهْ # اَوْ خَلْفَهُ وَرَاءَهُ قُدَّامَهْ

Isim yang menunjukkan tempat contohnya سِرْ اَمَامَهُ (berjalanlah di depannya) # خَلْفَهُ (di belakangnya) وَرَاءَهُ (di belakangnya) قُدَّامَهُ (di hadapannya)

يَمِيْنَهُ شِمَالَهُ تِلْقَاءَهُ # اَوْ فَوْقَهُ اَوْ تَحْتَهُ اِزَاءَهُ

يَمِيْنَهُ (di sebelah kanannya) شِمَالَهُ (di sebelah kirinya) تِلْقَاءَهُ (di hadapannya) # فَوْقَهُ (di atasnya) تَحْتَهُ (di bawahnya) اِزَاءَهُ (di hadapannya)

اَوْ مَعْهُ اَوْ حِذَاءَهُ اَوْ عِنْدَهُ # اَوْ دُوْنَهُ اَوْ قَبْلَهُ اَوْ بَعْدَهُ

مَعَهُ (bersamanya) حِذَاءَهُ ( di sisinya) عِنْدَهُ (di sekitarnya) # دُوْنَهُ (di bawahnya) قَبْلَهُ (sebelumnya) بَعْدَهُ (sesudahnya)

هُنَاكَ ثَمَّ فَـرْشَحًا بَرِيْدَا #  وَهَاهُنَا قِفْ مَوْقِفًا سَعِيْدَا

هُنَاكَ (di sana) ثَمَّ (di sana) فَـرْشَحًا (satu farsyakh/satu pos) بَرِيْدًا (satu barid/empat pos) # هَاهُنَا (di sini) قِفْ مَوْقِفًا سَعِيْدًا (berhentilah di tempat yang menguntungkan)


بَابُ الْحَالِ

Bab Hal


اَلْحَالُ وَصْفٌ ذُو انْتِصَابٍ آتِى # مُفَسِّرًا لِمُبْهَمِ الْـهَيْئَاتِ

Hal adalah isim sifat yang dibaca nashob yang datang # Menjelaskan keadaan-keadaan yang samar (belum jelas)

وَاِنَّمَا يُؤْتَى بِهِ مُنَكَّرَا # وَغَالِبًا يُؤْتَى بِهِ مُؤَخَّرَا

Hal didatangkan berupa isim nakiroh # Dan umumnya didatangkan di akhir

كَجَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا مَلْفُوْفَا # وَقَدْ ضَرَبْتُ عَبْدَهُ مَكْـتُوْفَا

Seperti جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا مَلْفُوْفًا (Zaid datang dalam keadaan mengendarai lagi berselimut) # قَدْ ضَرَبْتُ عَبْدَهُ مَكْـتُوْفًا (aku telah memukul budaknya dalam keadaan terikat)

وَقَدْ يَجِيْئُ فِى الْكَلاَمِ اَوَّلَا # وَقَدْ يَجِيْئُ جَامِدًا مُؤَوَّلَا

Hal kadang-kadang datang di awal kalimat # Dan kadang-kadang datang berupa isim jamid yang dita'wil (dari isim musytaq)
 

وَصَاحِبُ الْحَالِ الَّذِيْ تَكَرَّرَا # مُعَرَّفٌ وَقَدْ يَجِى مُنَكَّرَا

Shahibul hal (isim yang dijelaskan keadaannya dengan hal) yang telah ditetapkan # Ialah berupa isim makrifat, dan kadang-kadang shahibul hal datang berupa isim nakiroh



بَابُ التَّمْيِيْزِ

Bab Tamyiz


تَعْرِيْفُهُ اسْمٌ ذُوْ انْتِصَابٍ فَسَّرَا # لِنِسْبَةٍ اَوْ ذَاتِ جِنْسٍ قُدِّرَا

Pengertiannnya adalah isim yang dibaca nashob yang menjelaskan # Nisbat dan dzat suatu jenis yang keduanya dikira-kirakan

كَانْصَبَّ زَيْدٌ عَرَقًا وَقَدْ عَلَا # قَدْرًا وَلٰكِنْ اَنْتَ اَعْلَى مَنْزِلَا

Seperti اِنْصَبَّ زَيْدٌ عَرَقًا (Zaid bercucuran keringat) قَدْ عَلَا قَدْرًا وَلٰكِنْ اَنْتَ اَعْلَى مَنْزِلًا (dia tinggi derajatnya tetapi kamu lebih tinggi derajatnya).

وَكَاشْتَرَيْتُ اَرْبَعًا نِعَـاجَا # اَوِ اشْتَرَيْتُ اَلْفَ رِطْلٍ سَاجَا

Seperti اِشْتَرَيْتُ اَرْبَعًا نِعَـاجًا اَوِ اشْتَرَيْتُ اَلْفَ رِطْلٍ سَاجًا (Aku membeli 4 ekor kambing atau aku membeli 1.000 pon kayu jati)

اَوْ بِعْتُهُ مَكِيْلَةً اَرُزَّا # اَوْ قَدْرَ بَاعٍ اَوْ ذِرَاعٍ خَزَّا

اَوْ بِعْتُهُ مَكِيْلَةً اَرُزًّا اَوْ قَدْرَ بَاعٍ اَوْ ذِرَاعٍ خَزًّا (atau aku menjual kepadanya satu takar beras, atau kira-kira satu depa atau satu hasta sutera)

وَوَاجِبُ التَّمْيِيْزِ اَنْ يُنَكَّرَا # وَاَنْ يَكُوْنَ مُطْلَقًا مُؤَخَّرَا

Tamyiz wajib berupa isim nakiroh # Dan secara mutlaq berada di akhir



بَابُ الْاِسْتِثْنَاءِ

Bab Istitsna'

 

اَخْرِجْ بِهِ مِنَ الْكَلَامِ مَا خَـرَجْ # مِنْ حُكْمِهِ وَكَانَ فِى اللَّفْظِ انْدَرَجْ

Keluarkanlah dengan istisna' dari kalam yang dikecualikan # Dari hukumnya dan itu termasuk di dalam lafadznya

وَلَفْظُ الْاِسْتِثْنَا الَّذِيْ لَهُ حَوَى # اِلَّا وَغَيْرُ وَسِوًى سُوًى سَوَا

Lafadz istisna' terkumpul # Adalah سُوًى, سِوًى, غَيْرُ, اِلَّا dan سَوًا

خَلَا عَدَا حَاشَا فَمَعْ اِلَّا انْصِبِ # مَا اُخْرِجَتْ مِنْ ذِى تَمَامٍ مُوْجَبِ

حَاشَا, عَدَا, خَلَا, maka nashobkanlah dengan اِلَّا # Isim yang dikecualikan (mustasna) dari golongan kalam tam dan kalam mujab

Catatan :

Tam = jika disebutkan mustasna minhu, sedangkan mujab = jika tidak didahului oleh lafadz nafi atau yang menyerupainya.

كَقَامَ كُلُّ الْقَوْمِ اِلَّا وَاحِدَا # وَقَدْ رَاَيْتُ الْقَوْمَ اِلَّا خَالِدَا

Seperti قَامَ كُلُّ الْقَوْمِ اِلَّا وَاحِدًا (semua kaum berdiri kecuali satu orang) # قَدْ رَاَيْتُ الْقَوْمَ اِلَّا خَالِدًا (aku telah melihat kaum kecuali Kholid)

وَاِنْ يَكُنْ مِنْ ذِيْ تَمَامٍ انْتَفَى # فَاَبْدِلَنْ وَالنَّصْبُ فِيْهِ ضُعِّفَا

Bila mustasna dari kalam tam adalah berupa nafi # Maka badalkanlah, nashob di dalamnya (dengan istisna') hukumnya lemah

هَذَا اِذَا اسْتَثْنَيْتَهُ مِنْ جِنْسِهِ # وَمَا سِوَاهُ حُكْمُهُ بِعَكْسِهِ

Ini adalah ketika kamu memustasnakannya dari sejenisnya (istisna' muttashil) # Sedangkan istisna' lainnya (istisna' munqathi'), maka hukumnya adalah sebaliknya

كَلَنْ يَقُوْمَ الْقَوْمُ اِلَّا جَعْفَرُ # وَالنَّصْبُ فِيْ اِلَّا بَعِيْرًا اَكْثَرُ

Seperti لَنْ يَقُوْمَ الْقَوْمُ اِلَّا جَعْفَرُ (tidaklah kaum berdiri kecuali Ja'far - istisna' muttashil) # Sedangkan nashob di dalam lafadz اِلَّا بَعِيْرًا (kecuali unta - istisna' munqathi') itu lebih banyak

وَاِنْ يَكُنْ مِنْ نَاقِصٍ فَاِلَّا # قَدْ اُلْغِيَتْ وَالْعَامِلُ اسْتَقَلَّا

Bila mustasna dari golongan kalam naqis, maka اِلَّا # Harus diilghohkan (tidak mengamalkan dengan nashob) dan amilnya sedikit mengamalkan

كَلَمْ يَقُمْ اِلَّا اَبُوْكَ اَوَّلَا # وَلَا اَرَى اِلَّا اَخَاكَ مُقْبِلَا

Seperti لَمْ يَقُمْ اِلَّا اَبُوْكَ اَوَّلًا (tidaklah berdiri kecuali ayahmu pada awalnya) # وَلَا اَرَى اِلَّا اَخَاكَ مُقْبِلًا (aku tidak melihat kecuali saudaramu yang datang)

وَخَفْضُ مُسْتَثْنًى عَلَى الْاِطْلَاقِ # يَجُوْزُ بَعْدَ سَبْعَةِ الْبَوَاقِى

Jernya mustasna secara mutlak # Diperbolehkan setelah tujuh huruf istisna' (selain اِلَّا)

وَالنَّصْبُ اَيْضًا جَائِزٌ لِمَنْ يَشَا # بِمَا خَلَا وَمَا عَدَا وَمَا حَشَا

Menashobkan juga diperbolehkan bagi orang yang menginginkan # dengan lafadz مَا حَشَا, مَا عَدَا, مَا خَلَا