Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Arti Nadzhom Al Imrithi Lengkap Semua Bab (part 4)

Terjemah Arti Nadzhom Al Imrithi Lengkap Semua Bab

sebelum membahas terjemah bahasa indonesia matan nadzom al imrithi ada baiknya kita mengulas secara ringkas tentang kitab al imriti yang disusun syeikh  Syarafuddin Yahya bin Badruddin Musa bin Ramadhan bin Umairoh Al-Imrithi

Kitab Nadhom Imrithi (العمريطي) merupakan salah satu kitab ilmu nahwu yang di dalamnya berisi sekitar 254 bait.  Nadhom Imrithi sudah mashur dan banyak dikaji di pondok-pondok pesantren sebagai dasar bagi para santri untuk lebih memahami tentang ilmu nahwu dalam Bahasa Arab.

Kitab Nadhom Imrithi merupakan karya seorang ulama' yang alim dan ikhlas yang bernama Syekh Syarafuddin Yahya bin Badruddin Musa bin Ramadhan bin Umairoh Al-Imrithi yang merupakan ulama' alumni Universitas Al-Azhar Mesir.

Beliau tidak hanya ulama' yang ahli dalam tata bahasa arab, akan tetapi juga ahli dalam bidang fiqih dan ushul fiqih. Nama Al-Imrithi merupakan gelar disandarkan dengan nama desa kelahiran beliau yaitu Desa Amrith - Mesir. Selain Nadhom Imrithi, karya beliau di bidang fiqih dan ushul fiqih misalnya Nihayatut Tadzrib fin Nadzmi Ghoyatut Taqrib, Taisir fi Nadzmit Tahrir, dan Tashilut Turuqot li Nadzmil Waroqot.

Kitab Nadhom Al-Imriethie atau Nazom Imriti adalah matan Kitab Jurumiyyah ; kitab ilmu nahwu yang digubah menjadi bentuk nadhom / natsar / sya’ir serta mengurangi beberapa keterangan dalam Kitab Jurumiyyah yang kurang diperlukan dan menambahi beberapa keterangan yang dianggap cukup penting.

Berikut terjemah arti bahasa indonesia semua bab kitab kitab al Imrithi beserta artinya (part 4) Bab Na'at, athaf, taukid, badal.

بَابُ النَّعْتِ

Bab Na'at


النَّعْتُ اِمَّا رَافِعٌ لِمُضْمَرِ # يَعُوْدُ لِلْمَنْعُـوْتِ اَوْ لِمُظْـهَرِ

Na'at adakalanya merofakkan pada isim dlomir (Na'at Hakiki) # Yang kembali kepada man'utnya, atau merofakkan pada isim dhohir (Na'at Sababi)

فَأَوَّلُ الْقِسْمَيْنِ مِنْهُ اَتْبِعِ # مَنْعُوْتَهُ مِنْ عَشْرَةٍ لِاَرْبَعِ

Yang pertama (Na'at Hakiki) dari 2 pembagian na'at, ikutkanlah # Pada man'utnya pada empat dari 10 perkara

Catatan :
Maksud dari kata "empat" yaitu pertama dari segi i'robnya (rofak, jer, dan nashob), kedua dari segi jumlahnya (mufrod, tasniyah, dan jamak), ketiga dari segi jenisnya (muannas dan mudzakkar), keempat dari segi keumuman dan kekhususannya (nakiroh dan makrifat). Jika dihitung, semuanya ada 10 perkara yang harus diikuti na'at dari man'utnya.

فِيْ وَاحِدٍ مِنْ اَوْجُهِ الْاِعْرَابِ # مِنْ رَفْعٍ اَوْ خَفْضٍ اَوِ اْنتِصَابِ

Yaitu di dalam salah satu dari segi macam-macam i'rob # Termasuk rofak, jer, atau nashob

كَـذَا مِنَ الْاِفْرَادِ وَالتَّذْكِيْرِ # وَالضِّدِّ وَالتَّعْرِيْفِ وَالتَّنْكِيْرِ

Demikian pula dari segi mufrad dan segi mudzakkar # Segi lawan keduanya (mufrad lawannya tasniyah dan jamak, sedangkan mudzakkar lawannya muannas), segi makrifat, dan segi nakirohnya

كَقَوْلِنَا جَاءَ الْغُلاَمُ اْلفَاضِلُ # وَجَاءَ مَعْهُ نِسْوَةٌ حَوَامِلُ

Seperti ucapan kita جَاءَ الْغُلاَمُ اْلفَاضِلُ (telah datang pemuda yang utama) # وَجَاءَ مَعْهُ نِسْوَةٌ حَوَامِلُ (Dan telah datang bersamanya wanita-wanita yang hafal Al-Qur'an)

وَثَانِيْ الْقِسْمَيْنِ مِنْهُ اَفْرِدِ # وَاِنْ جَرَى الْمَنْعُوْتُ غَيْرَ مُفْرَدِ

Yang kedua (Na'at Sababi) dari 2 pembagian na'at, mufrodkan (na'atnya) # Meskipun man'utnya berlalu tanpa mufrod

وَاجْعَلْهُ فِى التَّأْنِيْثِ وَالتَّذْكِيْرِ # مُطَابِقًا لِلْمُظْهَرِ الْمَذْكُوْرِ

Jadikan na'at menjadi muannas dan mudzakkar # Sesuai dengan isim dhohir yang telah disebutkan

مِثَالُهُ قَدْ جَاءَ حُرَّتَانِ # مُنْطَلِقٌ زَوْجَاهُمَا اْلعَبْدَانِ

Contohnya adalah قَدْ جَاءَ حُرَّتَانِ (telah datang dua wanita merdeka) # مُنْطَلِقٌ زَوْجَاهُمَا اْلعَبْدَانِ (yang mana kedua suaminya yang menjadi budak telah pergi)

وَمِثْلُهُ اَتىَ غُلاَمٌ سَائِلَةْ # زَوْجَتُهُ عَنْ دَيْنِهَا الْمُحْتَاجِ لَهْ

Contohnya اَتىَ غُلاَمٌ سَائِلَةٌ زَوْجَتُهُ عَنْ دَيْنِهَا الْمُحْتَاجِ لَهُ (telah datang pemuda yang mana istrinya meminta hutangnya yang sangat dibutuhkan oleh pemuda itu.



بَابُ الْعَطْفِ

Bab Athof

وَاَتْبَعُوْا الْمَعْطُوْفَ بِالْمَعْطُوْفِ # عَلَيْهِ فِيْ اِعْرَابِهِ الْمَعْرُوْفِ

Para ulama nahwu mengikutkan ma'tuf dengan ma'tuf alaihnya # Di dalam i'rob yang diketahui

وَتَسْتَوِى الْاَسْمَاءُ وَالْاَفْعَالُ فِى # اِتْبِاعِ كُلٍّ مِثْلَهُ اِنْ يُعْطَفِ

Isim-isim dan fi'il-fi'il sama di dalam # Mengikuti setiap apapun jika diathofkan pada sejenisnya

بِالْوَاوِ وَالْفَا اَوْ وَاَمْ وَثُمَّ # حَتَّــى وَبَلْ وَلَا وَلَكِنْ اِمَّا

Dengan wawu (dan), fa' (lalu), اَوْ (atau), اَمْ (atau) ثُمَّ (kemudian) # حَتَّــى (sehingga/sampai) بَلْ (namun/bahkan) لَا (tidak/bukan) لَكِنْ (tetapi) اِمَّا (adakalanya)

كَجَاءَ زَيْدٌ ثُمَّ عَمْرٌو اَكْرِمِ # زَيْدًا وَعَمْرًا بِاللِّقَا وَالْمَطْعَمِ

Seperti جَاءَ زَيْدٌ ثُمَّ عَمْرٌو، اَكْرِمِ زَيْدًا وَعَمْرًا بِاللِّقَا وَالْمَطْعَمِ (telah datang Zaid kemudian Amr, muliakanlah Zaid dan Amr dengan penyambutan dan penyuguhan makanan

وَفِئَة ٌلَمْ يَأْكُلُوْا اَوْ يَحْضُرُوْا # حَتَّى يَفُوْتَ اَوْ يَزُوْلَ الْمُنْكَرُ

فِئَة ٌلَمْ يَأْكُلُوْا اَوْ يَحْضُرُوْا حَتَّى يَفُوْتَ اَوْ يَزُوْلَ الْمُنْكَرُ (Pasukan/kelompok tidak akan makan dan hadir sampai sirna atau hilanglah kemungkaran)



بَابُ التَّوْكِيْدِ

Bab Taukid

وَجَائِزٌ فِى الْاِسْمِ اَنْ يُؤَكَّدَا # فَيَتْبَعُ الْمُؤَكِّدُ الْمُؤَكَّدَا

Isim boleh ditaukidi (dikuatkan) # Maka muakkid (isim yang menaukidi) mengikuti muakkad (isim yang ditaukidi)

فِيْ اَوْجُهِ اْلاِعْرَابِ وَالتَّعْرِيْفِ لَا # مُنَكَّرٍ فَعَنْ مُؤَكَّدٍ خَلَا

Di dalam macam-macam i'rob dan makrifatnya, tidak # Nakirohnya, maka muakkad tersepikan dari isim nakiroh

وَلَفْظُهُ الْمَشْهُوْرُ فِيْهِ اَرْبَعُ # نَفْسٌ وَعَيْنٌ ثُمَّ كُلٌّ اَجْمَعُ

Lafadnya muakkid yang dikenal ada empat # Yaitu نَفْسٌ (diri sendiri) عَيْنٌ (keadaan), kemudian كُلٌّ (setiap) اَجْمَعُ (semua)

وَغَيْرُهَا تَوَابِعٌ لِاَجْمَعَا # مِنْ اَكْتَعٍ وَاَبْتَعٍ وَاَبْصَعَا

Selainnya mengikuti lafadz اَجْمَعُ # Termasuk  اَكْتَعَ، اَبْتَعَ، اَبْصَعَ

كَجَاءَ زَيْدٌ نَفْسُهُ وَقُلْ اَرَى # جَيْسَ الْاَمِيْرِ كُلَّهُ تَأَخَّرَا

Seperti جَاءَ زَيْدٌ نَفْسُهُ (telah datang Zaid, yaitu dirinya sendiri) قُلْ اَرَى جَيْسَ الْاَمِيْرِ كُلَّهُ تَأَخَّرَا (katakan aku melihat tentara pemimpin semuanya mundur)

وَطُفْتُ حَوْلَ الْقَوْمِ اَجْمَعِيْنَ # مَتْبُوْعَةً بِنَحْوِ اَكْتَعِيْنَ

طُفْتُ حَوْلَ الْقَوْمِ اَجْمَعِيْنَ (aku berkeliling di sekitar kaum, semuanya) # Dengan diikuti seumpama lafadz اَكْتَعِيْنَ

وَاِنْ تُؤَكِّدْ كِلْمَةً اَعَدْتَهَا # بِلَفْظِهَا كَقَوْلِكَ انْتَهَى انْتَهَى

Jika kamu menaukidi kalimat (dengan selain kalimat taukid yang disebutkan di atas), maka kamu harus mengulanginya # Dengan lafadz kalimat itu, seperti ucapanmu انْتَهَى انْتَهَى (selesai selesai)



بَابُ الْبَدَلِ

Bab Badal

اِذَا اسْمٌ اَوْ فِعْلٌ لِمِثْلِهِ تَلَا # وَالْحُكْمُ لِلثَّانِيْ وَعَنْ عَطْفٍ خَلَا

Ketika ada isim dan fi'il yang menyandingi semisalnya # Hukumnya ada pada kalimat kedua, dan disepikan dari athof

فَاجْعَلْهُ فِيْ اِعْرَابِهِ كَالْاَوَّلِ # مُلَقِّبًا لَهُ بِلَفْظِ الْبَدَلِ

Maka jadikan kalimat kedua seperti kalimat pertama di dalam i'robnya # Dengan menggunakan lafadz badal sebagai julukan baginya

كُلٌّ وَبَعْضٌ وَاشْتِمَالٌ وَغَـلَـطْ # كَذَاكَ اِضْرَابٌ فَبِاْلخَمْسِ انْضَبَطْ

Yaitu Badal Kullun (semua), Badal Ba'dun (sebagian), Badal Isytimal (mencakup), Badan Gholath (kekeliruan) # Demikian juga Badal Idhrob (mencakup), maka badal dikategorikan menjadi 5 macam

كَجَاءَنِيْ زَيْدٌ اَخُوْكَ وَاَكَلْ # عِنْدِيْ رَغِيْفًا نِصْفَهُ وَقَدْ وَصَلْ

Seperti جَاءَنِيْ زَيْدٌ اَخُوْكَ (telah datang kepadaku, Zaid, saudaramu) dan اَكَلَ عِنْدِيْ رَغِيْفًا نِصْفَهُ (dia memakan roti di sebelahku, yaitu separuh roti)

اِلَيَّ زَيْدٌ عِلْمُهُ الَّذِىْ دَرَسْ # وَقَدْ رَكِبْتُ الْيَوْمَ بَكْرًا الْفَرَشْ

قَدْ وَصَلَ اِلَيَّ زَيْدٌ عِلْمُهُ الَّذِىْ دَرَسْ (telah sampai kepadaku Zaid, yaitu ilmunya yang mana dia belajar) # قَدْ رَكِبْتُ الْيَوْمَ بَكْرًا الْفَرَشَ (Pada hari ini, aku telah menaiki Bakar, yaitu kudanya)

Catatan :

Contoh diurutkan berdasarkan pembagian lima badal di atas. Adapun perbedaan badal Gholath dan Badal Idhrob, bisa dilanjut bait selanjutnya.

اِنْ قُلْتَ بَكْرًا دُوْنَ قَصْدٍ فَغَلَطْ # اَوْ قُلْتَهُ قَصْدًا فَاِضْرَابٌ فَقَطْ

(Lihat contoh keempat) Jika kamu mengatakan Bakar tanpa kesengajaan, maka disebut Badal Gholath (kekeliruan) # Atau kamu mengatakan Bakar dengan sengaja maka disebut badal Idhrob saja.

وَالْفِعْلُ مِنْ فِعْلٍ كَمَنْ يُؤْمِنْ يُثَبْ # يَدْخُلْ جِنَانًا لَمْ يَنَلْ فِيْهَا تَعَبْ

Badal fi'il dari mubdal minhu fi'il, seperti مَنْ يُؤْمِنْ يُثَبْ يَدْخُلْ جِنَانًا لَمْ يَنَلْ فِيْهَا تَعَبٌ (barang siapa beriman, maka dia akan diganjar, memasuki surga-surga, tidak memperoleh kesusahan di dalamnya)

 

>> baca lanjut Terjemah Arti Nadzhom Al Imrithi Lengkap Semua Bab (part 5)