Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bait 23 tentang Hadits Fard Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya

Terjemah Bait 23 tentang Hadits Fard Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya
 Bait 23 tentang Hadits Fard Kitab Al Baiquniyah

Kitab  البيقونية - Baiquniyah adalah salah satu kitab yang membahas ilmu ulumul Hadits. Manzhumah al-Baiquniyah (bahasa Arab: منظومة البيقونية‎) merupakan naskah kecil/saku (matan) pengantar ilmu hadis (musthalah hadits) yang berupa rangkaian bait-bait syair (nazham) yang memuat istilah dan hukum dasar seputar pembagian hadits dan macam-macamnya. pegarang kitab matan baiquni adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni, seorang ahli hadits yang wafat sekitar tahun 1080 H (1669/1670 M).

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana ini di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya. Jumlah keseluruhan 32 macam pembahasan hadits diantaranya hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. 

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Pada bagian ini adalah Terjemah Bait 23 tentang Hadits Fard Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya :

BAIT 23

وَالْفَــــرْدُ مَا قَيَّدْتَـــهُ بِثِقــةِ ۞ أَوْ جَمْعٍ أوْ قَصْرٍ عَلَى رِوَايَةِ

Hadits fard adalah yang periwayatannya diikat dengan satu perawi tsiqah, banyak, atau terbatas


Secara bahasa (الفَرْدُ) artinya ganjil (الوِتْرُ). Hadits fard ada dua:

Pertama: fard mutlaq (فَرْدٌ مُطْلَقٌ), yaitu perawi tsiqah tafarrud (menyendiri) dalam periwayatan di mana tidak ada perawi-perawi tsiqah lainnya mengambil kecuali darinya. Hadits fard adalah turunan dari hadits gharib di atas. Contohnya hadits Muslim dalam Shahihnya no. 891:

وحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ، حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ، عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ، عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ، قَالَ: سَأَلَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: عَمَّا قَرَأَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَوْمِ الْعِيدِ؟ فَقُلْتُ: بِاقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ، وَق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ

Al-Hafizh Al-‘Iraqi menjelaskan, “Hadits ini dari jalur riwayat Dhamrah bin Sa’id Al-Mazini dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah dari Abu Waqid Al-Laitsi dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hadits ini tidak diriwayatkan para tsiqah kecuali dari Dhamrah.” (At-Tabsirah wat Tadzkirah I/220)

Kedua: fard nisbi (فَرْدٌ نِسْبِيٌّ), yaitu tafarrudnya dikaitkan dengan jamaah atau perawi tertentu. Fard nisbi ada dua:

1. Jamaah tertentu (جَمْع), seperti hadits yang diriwayatkan penduduk negeri tertentu (misal penduduk Madinah, Makkah, Kufah, Bashrah) sementara penduduk-penduduk negeri lain/negerinya sendiri tidak meriwayatkan kecuali dari mereka. Contohnya hadits Muslim no. 973 dalam Shahihnya:

حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ – وَاللَّفْظُ لِابْنِ رَافِعٍ -، قَالَا: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ، أَخْبَرَنَا الضَّحَّاكُ يَعْنِي ابْنَ عُثْمَانَ، عَنْ أَبِي النَّضْرِ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ عَائِشَةَ، لَمَّا تُوُفِّيَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ، قَالَتْ: ادْخُلُوا بِهِ الْمَسْجِدَ حَتَّى أُصَلِّيَ عَلَيْهِ، فَأُنْكِرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا، فَقَالَتْ: «وَاللهِ، لَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ابْنَيْ بَيْضَاءَ فِي الْمَسْجِدِ سُهَيْلٍ وَأَخِيهِ» قَالَ مُسْلِم: سُهَيْلُ بْنُ دَعْدٍ وَهُوَ ابْنُ الْبَيْضَاءِ أُمُّهُ بَيْضَاءُ

Al-Hakim mengomentari, “Penduduk Madinah tafarrud dalam hadits ini dan seluruh perawinya penduduk Madinah. Diriwayatkan juga dengan sanad lain dari Musa bin ‘Uqbah dari ‘Abdul Wahid bin Hamzah dari ‘Abdullah bin Az-Zubair dari ‘Aisyah dan semuanya penduduk Madinah. Tidak ada penduduk lain yang berserikat dengan mereka dalam hadits ini.” (Ma’rifat Ulûmil Hadîts hal. 97)

2. Orang tertentu (قَصْر), misalnya ada seorang perawi tertentu yang mana tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali perawi tertentu juga, meskipun ia juga meriwayatkan dari jalur lain. Contohnya hadits At-Tirmidzi no. 1095 dalam Al-Jâmi’ yang dishahihkan Al-Albani:

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ وَائِلِ بْنِ دَاوُدَ، عَنْ ابْنِهِ، عَنْ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلَمَ عَلَى صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ بِسَوِيقٍ وَتَمْرٍ»: هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ

Ibnu Thahir mengomentarinya dalam Athrâful Gharâ`ib, “Hadits ini gharib dari hadits Bakar bin Wa`il, Wa`il bin Dawud tafarrud, dan tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Sufyan bin ‘Uyainah.” (At-Tabshirah wat Tadzkirah I/218)