Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bait 10 -11 tentang Hadits Musalsal Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya

Terjemah Bait 10 -11 tentang Hadits Musalsal Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya
 Bait 10 -11 tentang Hadits Musalsal Kitab Al Baiquniyah

Kitab  البيقونية - Baiquniyah adalah salah satu kitab yang membahas ilmu ulumul Hadits. Manzhumah al-Baiquniyah (bahasa Arab: منظومة البيقونية‎) merupakan naskah kecil/saku (matan) pengantar ilmu hadis (musthalah hadits) yang berupa rangkaian bait-bait syair (nazham) yang memuat istilah dan hukum dasar seputar pembagian hadits dan macam-macamnya. pegarang kitab matan baiquni adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni, seorang ahli hadits yang wafat sekitar tahun 1080 H (1669/1670 M).

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana ini di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya. Jumlah keseluruhan 32 macam pembahasan hadits diantaranya hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. 

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Pada bagian ini adalah Terjemah Bait 10-11 tentang Hadits Musalsal  Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya :


BAIT 10 - 11

مُسَلْسَلٌ قُلْ مَا عَلَى وَصْفٍ أَتَى ۞ مِثْلُ أَمَا وَاللهِ أنْبأنِي الْفَتَى

musalsal katakan pada hadis yang menetapi suatu sifat,.... seperti ama wa allah anbani fata

كذَاكَ قَدْ حَدَّثَنِيهِ قَائما ۞أَوْ بَعْدَ أَنْ حَدَّثَنِي تَبَسَّمَا

begitu juga ia telah menceritakan ku dalam keadaan berdiri,...... atau setelah menceritaiku ia tersenyum

Secara bahasa, musalsal artinya adalah berantai. Hadis muslasal adalah hadis yang secara berturut-turut diriwayatkan oleh masih-masih perowinya dengan sifat periwayatan tertentu. Musalsal ada dua macam: Pertama, musalsal qauly (dalam perkataan). Contohnya adalah yang disebutkan penulis, “mengabarkan kepadaku seorang yang adil”. Disebut musalsal karena setiap rowi dalam sanadnya mengatakan ungkapan tersebut ketika meriwayatkan kepada perawi yang dibawahnya.  

كَـذَاكَ قـَدْ حَدَّثَنِيهِ قَـائِمَا          أَوْ بَعْدَ أَنْ حَدَّثَنِيْ تَبَسّـَمَا

Begitu juga “ia telah menyampaikan kepadaku dalam keadaan berdiri”

Atau “setelah menyampaikan kepadaku ia tersenyum”

Bait ini contoh untuk jenis musalsal yang kedua, musalsal fi’ly (dalam perbuatan). Setiap rowi yang meriwayatkan hadis mengatakan “ia telah menyampaikan kepadaku dalam keadaan berdiri”, atau, “setelah menyampaikan kepadaku ia tersenyum” 

Menurut bahasa, merupakan isim maf’ul dari kata as-salsalatu, yang berarti bersambungnya sesuatu dengan sesuatu yang lain, sebagaimana rantai besi. Dinamakan seperti itu karena aspek kesinambungan dan keserupaan antar bagiannya mirip dengan rantai. Menurut istilah, hadits yang para perawinya dalam sanadnya berkesinambungan pada sifat-sifat atau kondisi tertentu, dan kadangkala pada riwayat lain. [Taysir Musthalah Hadits, Mahmud Thahhan].

Musalsal itu adalah hadits yang para perawi sanadnya berurutan pada:

a. Bersekutu pada satu sifat

b. Bersekutu pada satu kondisi

c. Bersekutu pada satu sifat dalam riwayat

Berdasarkan penjelasan terhadap definisi, jelas bahwa musalsal itu jenisnya ada tiga, yaitu: musalsal dengan keadaan para perawi, musalsal dengan sifat para perawi, dan musalsal dengan sifat-sifat periwayatannya. 

Berikut ini paparan masing-masingnya:

a. Musalsal dengan keadaan para perawi: keadaan para perawi menyangkut perkataan-perkataannya, atau perbuatan perbuatannya, atau perkataan dengan perbuatan secara bersamaan.

– Musalsal dengan keadaan para perawi yang menyangkut perkataan. 

Contohnya adalah hadits Muadz bin Jabal, bahwa Nabi saw. bersabda kepadanya: “Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintaimu maka bacalah setiap kali akhir shalat, Wahai Allah bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu dan berbadah dengan baik kepada-Mu.” Hadist ini musalsal dengan ucapan setiap perwinya, yaitu : “Dan aku ini mencintaimu, maka bacalah.”

– Musalsal dengan kedaan para perawi yang menyangkut perbuatan. 

Contohnya hadits Abu Hurairah, yang berkata: “Abu al-Qasim telah menjajarkan tanganku seraya bersabda: “Allah telah menciptakan bumi pada hari Sabtu.” 

Hadits ini musalsal dengan menjajarkan tangannya pada setiap rawi dari riwayatnya.

– Musalsal dengan keadaan para perawi yang menyangkut perkataan dan perbuatan secara bersamaan. 

Contohnya hadits Anas, yang berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seorang hamba tidak akan menjumpai manisnya iman sampai ia beriman kepada qadar, baik buruknya, manis pahitnya.” Kemudian Rasulullah menggenggam jenggotnya dan bersabda lagi, "aku telah beriman kepada qadar, baik buruknya, manis pahitnya.” 

Hadits ini musalsal pada setiap rawi dalam meriwayatkannya dengan menggenggam jenggotnya, dan pada perkataan: “Aku telah beriman kepada qadar, baik buruknya, manis pahitnya.”

b. Musalsal dengan sifat para perawi: sifat-sifat para perawi itu menyangkut perkataan atau perbuatan.

– Musalsal pada perawi yang menyangkut perkataan. 

Contohnya hadits musalsal mengenai bacaan surah as-Shaff. Musalsal dengan perkataan setiap rawi: “Maka si fulan membacakan seperti ini.” Dalam hal ini al-‘Iraqi berkata: “Sifat-Sifat rawi yang menyangkut perkataan, dan kondisi ucapan mereka itu bukan hanya berdekatan melainkan amat serupa.”

– Musalsal pada perawi yang menyangkut perbuatan. Seperti kesamaan nama-nama perawi dengan Muhammad; atau kesamaan dalam hal keahlian, seperti para perawi sama-sama fuqaha atau huffadh; atau keamaan nasab, seperti para perawi sama-sama dari Damaskus atau Mesir.

c. Musalsal dengan sifat periwayatan: sifat periwayatan ini bisa menyangkut bentuk penyampaian, atau waktu riwayat, atau tempatnya.

– Musalsal dalam bentuk periwayatan. Contohnya adalah hadits musalsal dengan perkataan setiap perawinya: sami’tu [aku telah mendengar] atau akhbaranaa [telah mengabarkan kepada kami].

– Musalsal yang menyangkut waktu pada riwayat. Seperti hadits musalsal yang meriwayatkan hari ‘Ied.

– Musalsal yang menyangkut tempat pada riwayat. Seperti hadits musalsal yang menyangkut ijabahnnya doa di multazam.

Yang paling utama adalah yang menunjukkan kesinambungan pada as sima’ dan tidak adanya tadlis.

Manfaatnya, karena menambah kedlabitan para perawi.

Karena periwayatan hadis musalsal terkait dengan keadaan atau sifat tertentu pada perawi, setidaknya hadis musalsal bisa musalsal qauli (secara perkataan), fi’li (secara perbuatan) atau keduanya.

Sebagai contoh adalah hadis berikut:

عَنْ مُعَاذٍ قَالَ: لَقِيَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ “. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَأَنَا وَاللهِ أُحِبُّكَ. قَالَ: ” فَإِنِّي أُوصِيكَ بِكَلِمَاتٍ تَقُولُهُنَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ: اللهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ “

Artinya: Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal: Aku berjumpa Rasulullah SAW, beliau berkata: Wahai Mu’adz, sungguh aku mencintaimu (sebagai sahabat). Kemudian aku menjawab, “Begitupun aku wahai Rasulullah,”

Kemudian Nabi bersabda, “Sungguh, aku mewasiatkanmu dengan doa yang hendaknya kamu baca ketika usai shalat: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.”

Hadis tersebut diriwayatkan dalam Musnad Ahmad bin Hanbal. Dalam proses periwayatan, para perawi disebutkan meriwayatkan hadis itu sebagaimana Nabi melakukannya, yaitu dengan mengucapkan “Ya Fulan, inni lauhibbuk” (Wahai Fulan, sungguh aku mencintaimu). Hadis ini adalah contoh periwayatan hadis musalsal secara perkataan.

Kemudian ada juga yang terkait suatu perbuatan. Seperti dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi,

شَبَّكَ بِيَدِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَافِعٍ، وَقَالَ لِي شَبَّكَ بِيَدِي أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ لِي: شَبَّكَ بِيَدِي أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ لِي: “خَلَقَ اللَّهُ الْأَرْضَ يَوْمَ السَّبْتِ”

Artinya: (Perawi sebelumnya berkata) tanganku digenggam oleh Abdullah bin Rofi’, lalu ia berkata bahwa: tanganku digenggam oleh Abu Hurairah, dan ia juga berkata: Abul Qasim Rasulullah SAW menggenggam tanganku, dan bersabda: Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu.

Sebagaimana disebutkan, hadis tersebut diriwayatkan para perawi dengan meniru cara menjalinkan tangan (tasybik) sebagaimana Nabi lakukan. Tentu masih banyak contoh terkait hadis musalsal ini. Anda bisa merujuk kitab-kitab hadis khusus untuk itu, semisal kitab Al Musalsalat al Kubra karya Imam Jalaluddin as Suyuthi atau At Thali’us Sa’id al Muntakhab minal Musalsalat wal Asanid, karya Sayyid Muhammad al-Maliki.

Selain diriwayatkan secara khas dalam perkataan atau perbuatan, hadis musalsal juga bisa disampaikan perawi pada muridnya di tempat atau momen tertentu. Semisal, momen bulan Ramadan atau hadis musalsal berdoa di Multazam.

Apa faedah hadis musalsal ini? Menurut para ahli hadis model periwayatan hadis musalsal ini memperkuat hapalan seseorang tentang suatu hadis, karena dalam sebuah hadis, ada hal lain yang menunjang untuk diingat. Jika merekam satu keadaan, tentu hadis yang sudah dihapal dan diketahui tadi bisa tercetus untuk diingat kembali.

Namun perlu Anda ketahui, bahwa hadis musalsal ini, meskipun diriwayatkan secara khas, bahkan hingga masa sekarang, tetap harus dicek kualitas hadisnya, baik dari sanad atau matan. Jadi kualitas hadis ini bisa shahih, hasan, atau dla’if, sehingga tetap berdampak pada aspek ajaran Islam.