Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Pasal Penjelasan Perkara-perkara haram yang dilakukan Pembaca Ketika mulai Membaca Qur'an Kitab Hidayatul Mustafid

 

Terjemah Pasal Pembagian Waqaf Kitab Hidayatul Mustafid

Kitab Hidayatul Mustafid adalah kitab berisi tentang Ilmu Tajwid. Kitab ini biasanya dipelajari dan dihafalkan oleh santri santri di berbagai pondok pesantren di indonesia. pengarang Kitab Hidayatul Mustafid adalah Syekh Muhammad Al-Mahmud. Terjemah Kitab Hidayatul Mustafid tentang dasar-dasar Ilmu Tajwid ke dalam Bahasa Indonesia,  kitab Hidayatul Mustafid terdiri dari pertanyaan dan jawaban di setiap pasalnya

berikut terjemah bab fasal Pasal Penjelasan Perkara-perkara haram yang dilakukan Pembaca Ketika mulai Membaca Qur'an dalam Kitab Hidayatul Mustafid.

Pasal Penjelasan Perkara-perkara haram yang dilakukan Pembaca Ketika mulai Membaca Qur'an - فَصْلٌ فِي بَيَانِ الأمُورِ المُحَرَّمَةِ الَّتِي ابْتَدَعَتْهَا القُرَّاءُ فِي قِرَاءَةِ القُرْآن


س: ا هو الذي ابتدعته قراء زماننا

Apa perkara yang diawali oleh para pembaca Al-Qur'an di zaman kita ?

ج: الذي ابتدعته قراء زماننا في القراءة أشياء كثيرة لا تحل ولا تجوز لأنها تكون في القراءة إما بزيادة عن الحد أو بنقص عنه وذلك بواسطة الأنغام لأجل صرف الناس إلى سماعهم والاصغاء إلى نعماتهم فمن ذلك القراءة بالألحان المطرية المرجعة كترجيع الغناء فإن ذلك ممنوغ لما فيه من إخراج التلاوة عن أوضاعها وتشبيه كلام رب العزة بالأغاني التي يقصد بها الطرب ولم يزل السلف ينهون عن الطريب وهو أن يترنم بالقراءة فيمد في غير محل المد ويزيد في المد ما لا تجيزه العربي ومنها شيء يسمى الترقيص ومعنهاأن الشخص يرقص صوته بالقراءة فيزيد في حروف المد حركات بحيث يصير كالمتكسر الذي يفعل الرقص وقال بعضهم هو أ يروم السكت على الساكن ثم ينقر عنه مع الحركة في عدو وهرولة

ومنها شيئ يسمى بالتحزين وهو أن يترك القارء طباعه وعادته في التلاوة ويأتي بها على وجه آخر كأنه حزين يكان أن يبكي من خشوع وخضوع وإنما نهي عنه لما فيه من الرياء

ومنها شيء يسمى بالترعيد ومعناه أن الشخص يرعد صوته بالقرآن كانه يرعد من شددة برد أو ألم أصابه

ومنها شيء آخر يسمى بالتحريف أحدثه هؤلاء الذين يجتمعون ويقرؤون بصوت واحد فيقطعون القراءة ويأتي بعضهم ببعض الكلمة والآخر ببعضها الآخر ويحافظون على مراعاة الأصوات ولا ينظرون إلى ما يترتب على ذلك من الاخلال بالثواب فضلا عن الاخلال بتعظيم كلام البار

فكل ذلك حرام يمتنع قبوله ويجب رده وإنكاره على مرتكبه

Perkara yang mana diawali oleh para pembaca awal di zaman kita dalam membaca Al-Qur'an ada banyak sekali yang tidak halal dan tidak boleh karena hal itu ada di dalam bacaan Al-Qur'an. Adapun disebabkan karena penambahan batas atau pengurangannya dan hal itu dilakukan lantaran melagukan agar orang-orang cenderung mendengarkan mereka dan memperhatikan lagu mereka. Maka termasuk membaca demikian itu, (yaitu membaca) dengan logat menyanyikan yang diulang-ulang, seperti mengulangi lagu, sesungguhnya hal itu dilarang karena di dalamnya terdapat pengeluaran bacaan dari tempatnya dan menyerupai Kalam Tuhan Yang Maha Mulia dengan lagu-lagu yang bertujuan menyanyikan lagu.

Ulama' salaf tidak hentinya melarang menyanyikan lagu, yaitu jika menyanyikan bacaan Al-Qur'an lalu memanjangkan pada tempat yang bukan panjang atau menambahi panjang pada sesuatu yang tidak diperbolehkan oleh orang-orang Arab.

Di antaranya adalah sesuatu yang dinamakan tarqish, maknanya adalah bahwa seseorang menari-narikan suaranya di dalam membaca Al-Qur'an seperti mutakassir (orang yang memecahkan sesuatu) yang melakukan tarian. Sebagian ulama' mengatakan yaitu jika seseorang sengaja berhenti pada huruf yang mati kemudian tiba-tiba menghentakkannya bersamaan dengan gerakan tubuh seakan sedang melompat atau berjalan cepat.

Di antaranya adalah sesuatu yang dinamakan dengan tahzin, yaitu seseorang yang meninggalkan karakter dan kebiasaannya di dalam membaca Al-Qur'an, dia melakukannya dengan wajah lain seolah dia sedang bersedih yang hampir menangis karena khusyu' dan khudlu' (merendahkan diri). Hal itu dilarang karena di dalamnya terdapat unsur riya'.

Di antaranya adalah sesuatu yang dinamakan dengan tar'id, yaitu seseorang yang menggetarkan suaranya dalam membaca Al-Qur'an seakan-akan suaranya menggelentar karena keadaan sangat dingin atau kesakitan yang menimpanya.

Di antaranya adalah sesuatu yang dinamakan takrif, yang terjadi pada orang yang saling berkumpul, mereka membaca dengan suara satu lalu memutus bacaan. Sebagian dari mereka membaca kalimat (diputus) dan (dilanjutkan) sebagian lain membaca kalimat lain. Mereka berusaha menjaga suara, namun tidak memperhatikan apa yang berurutan dari bacaan itu, baik berupa melalaikan pahala terlebih lagi melalaikan ta'dhim (mengagungkan) pada Kalam Allah Yang Maha Perkasa.

Semua itu hukumnya haram yang dilarang untuk menerimanya dan wajib juga menolak dan mengingkari orang yang melakukannya.