Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bab Pasal Maqthu’ dan Maushul - Kitab Matan Al-Jazariyah

  Terjemah Bab Pasal Maqthu’ dan Maushul dan Hukum Ta’ - Kitab Matan Al-Jazariyah

Kitab Matan Al-Jazariyah (متن الجزرية) merupakan salah satu kitab yang membahas ilmu Tajwid yang terdiri dari 109 bait. kitab ini dikarang oleh Syamsuddin Abul Khair Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Yuusuf Al-Jazariy Ad-Dimasyqi Asy-Syaafi’i. Ibnul Jazariy dilahirkan pada Sabtu malam, setelah shalat tarawih, tanggal 25 Ramadhan 751 H di Damaskus, Syam (sekarang Suriah). bertepatan dengan 30 November 1350 di wilayah yang bernama al Khat al Qashain di Damaskus. Ahli bidang ilmu tajwid ini meninggal atau wafat pada tahun 833 H di Syiraz, saat masa sekarang berada termasuk wilayah Iran. Imam al-Jazari al-Dimasyqi adalah ulama dari negeri Syam yang memiliki kelebihan dalam bidang ilmu tajwid dan ilmu-ilmu al-Qur’an.

Di dalam Matan Kitab Al-Jazariyah membahas beberapa bab Pasal Fasal namun berikut ini terjemah Bab Pasal Maqthu’ dan Maushul   Kitab Matan Al-Jazariyah arab berharakat  dengan terjemah arti dalam bahasa indonesia:

المقطوع والموصول   - maqthu’ dan maushul 


(79) … وَاعرِفْ لِمَقْطُوعٍ وَمَوْصُولٍ وَتَا ۞ فِي مُصْحَفِ الإِمامِ فِيمَا قَدْ أَتَى

Dan ketahuilah permasalahan maqthu’ (dua kata yang ditulis terpisah) dan maushul (dua kata yang ditulis bersambung), serta permasalahan penulisan huruf Ta, apakah ditulis dengan Ta marbuthah atau ditulis dengan Ta maftuhah pada mushaf Imam (Utsmani). Karena pengetahuan terhadap penulisan ini erat kaitannya dengan persoalan waqaf dan ibtida`. Khususnya saat waqaf dan ibtida` yang darurat atau waqaf
dan ibtida` ikhtibariy (sebagai bentuk ujian dan pengajaran).

(80) … فَاقْطَعْ بعَشْرِ كَلِمَاتٍ أنْ لاَّ ۞ مَعْ مَلْجَإٍ وَلاَ إِلهَ إِلاَّ

Pisahkan pada sepuluh kalimat penulisan (أن) dan (ل), yakni saat berhadapan dengan “malja`a” (At-Taubah 118), “laailaaha” (Huud 14),

(81) … وَتَعْبُدُوا يَاسينَ ثَانِي هُودَ لاَ ۞ يُشْرِكْنَ تُشْرِكْ يَدْخُلَنْ تَعْلوا عَلَى

 Juga bila (أن) dan (ل) berhadapan dengan “ta’budu” pada surat Yasin (ayat 60) &
Hud (ayat 26), “laa yusyrikna” (Mumtahanah 12), “tusyrik” (Al-Hajj 26), “yadkhulan” (Al-Qalam 24), “ta’lu ‘ala” (Ad-Dukhaan 19),

(82) … أَن لاَّ يَقُولُوا لاَ أَقُولَ إِن مَّا ۞ بِالرَّعْدِ وَالمَفُتُوحَ صِلْ وَعَن مَّا

Juga bila (أن) dan (ل) berhadapan “laa yaqulu” (Al-A’raaf 169) dan “laa aquula” (Al-A’raaf 105). Dan pisahkan juga kata (إن) dan (ما) pada surat Ar-Ra’du (ayat 40), dan bila difathahkan Hamzahnya maka sambungkanlah, yakni kata (أم) dan (ما).
Dan juga pisahkanlah kata (عن) dan (ما)…

(83) … نُهُوا اقْطَعوا مِن مَّا بِرُومٍ وَالنِّسَا ۞ خُلْفُ المُنَافِقِين أَم مَّنْ أَسَّساَ

 Sebelum kata “nuhuu” (Al-A’raaf 166).
Dan pisahkanlah (من) dan (ما) pada QS. Ar-Ruum (28) & An-Nisaa (25). Sedangkan pada QS. Al-Munafiqun 10 para Ulama berbeda pendapat apakah penulisan (من) dan (ما) disambung atau dipisah.
Dan pisahkanlah (أم) dan (من) sebelum “assasa” (QS. At-Taubah 109),

(84) … فُصِّلَتِ الَّنسَا وَذِبْحِ حَيْثُ مَا ۞ وَأَن لَّمِ المَفْتُوحَ كَسْرُ إِنَّ مَا

Juga pisahkanlah (أم) dan (من) pada surat Fushshilat 40, An-Nisa 109, dan surat yang menceritakan penyembelihan (dzibhin), yakni QS. Ash-Shaaffat 11. Dan pisahkan juga (حيث) dan (ما) pada semua tempat di dalam Al-Quran, dengan kesepakatan para Ulama. Juga pisahkanlah (أن) dan (لم) pada semua tempat di dalam Al-Quran, dengan kesepakatan para Ulama.
Dan pisahkanlah (ن إ) dan (ما) pada…

(85) … اَلانْعَامِ وَالمَفْتُوحَ يَدْعُونَ مَعَاَ ۞ وَخُلْفُ الاَنْفَالِ وَنَحْلٍ وَقَعَا

urat Al-An’aam 134, dan terjadi perbedaan pendapat pada Surat An-Nahl.
Dan pisahkanlah (ن أ) dan (ما) pada sebelum kata “yad’uuna” (QS. Al-Hajj 62 & Luqman 30). Serta terjadi perbedaan pendapat pada Surat Al-Anfaal (28 & 41), dimana dalam riwayat dari Imam Hafsh disambung.

(86) … وَكُلَّ مَا سَأَلتُمُوهُ وَاخْتُلِفْ ۞ رُدُّوا كَذَا قُلْ بِئْسَمَا وَالوَصْلُ صِفْ

Dan pisahkanlah (كل) dan (ما) pada sebelum kata “sa`altumuhu” (QS. Ibrahim 34). Serta terjadi perbedaan pendapat pada sebelum kata “ruddu” (QS. An-Nisaa 91), dimana dalam riwayat Hafash dipisah penulisannya.

uga (terjadi perbedaan pendapat) pada penulisan (بئ) dan (َسمـا) pada قل بئسما
(Al-Baqarah 93) dan sambungkan (بئ) dan (َسمـا)

(87) … خَلَفْتُمُوِنى وَاشْتَرَوْا في مَا قْطَعَا ۞ أُوحِى أَفَضْتُمُ اشْتَهَتْ يَبْلُو مَعَا

Sebelum “khalaftumuuni” (Al-A’raaf 150) dan “wasytaraw” (Al-Baqarah 90).
Lalu pisahkanlah (في) dan (ما) sebelum “uuhii” (Al-An’aam 145), “afadhtum” (An- Nuur 14), “isytahat” (Al-Anbiya 102), setelah “liyabluwakum” (Al-Maaidah 48 & Al- An’aam 165), dan juga…

(88) … ثَانِي فَعَلْنَ وَقَعَتْ رُومٌ كِلاَ ۞ تَنْزِيلُ شُعَرَاءٍ وَغَيْرَ ذي صِلاَ

 Sebelum “fa’alna” yang kedua (Al-Baqarah 240), Al-Waqiah (61), Ruum (28), dua tempat pada Tanzil (Az-Zumar 3 & 46), dan Syu’ara (146). Sedangkan selainnya disambungkan.

(89) … فَأَيْنَمَا كَالنَّحْلِ صِلْ وَ مُخْتَلِفْ ۞ في الشُّعَرَا الأَحْزَابِ وَالنِّسَا وُصِفْ

Dan sambungkanlah (أين) dan (ما) pada (َمـا ْينَ فَأَ Al-Baqarah 115) & An-Nahl (76), dan para Ulama berbeda pendapat apakah penulisannya disambung atau dipisah pada Asy-Syu’ara (92), Al-Ahzaab (61), & An-Nisaa (78).

(90) … وَصِلْ فَإِلَّمْ هُودَ أَلْن نَّجْعَلاَ ۞ نَجْمَعَ كَيْلاَ تَحْزَنُوا تَأْسَوْا عَلَى

 Dan sambungkanlah (إن) dan (لم) pada (فَإلَّـم ) Surat Huud (14). Juga sambungkanlah (أن) dan (لن) sebelum kata “naj’ala” (Al-Kahfi 48) & “najma’a” (Al- Qiyaamah 3).

Dan sambungkanlah (كي) dan (لا) sebelum kata “tahzanu” (Aali Imran 154) & “ta’saw ‘alaa” (Al-Hadid 23),

(91) … َحجُّ عَلَيْكَ حََرجٌ وَقَطَعْهُمْ ۞ عَن مَّن يَشَاءُ مَن تَوَلَّى يَوْمَ هُمْ

 Juga pada surat Al-Hajj (5), dan sebelum “’alayka harajun” (Al-Ahzab 50).
Dan pisahkanlah (عن) dan (من) sebelum kata “yasyaa” (An-Nuur 43) & pada “man tawalla” (An-Najm 29). Dan juga pisahkanlah kata (يوم) dan (هم).

(92) … ومَالِ هَذَا وَالَّذينَ هَؤْلاَ ۞ تَحِينَ في الإِمَامِ صِلْ وَوُهِّلاَ

 Dan pisahkanlah (َمــال ) dengan kata setelahnya bila kata tersebut “haadza” (Al- Kahfi 49 & Al-Furqan 7), “alladziina” (Al-Ma’arij 36), dan “haa-ulaa” (An-Nisaa 78).
Dan kata (لات) dan (حين) dalam (mushaf) Imam terdapat keraguan apakah disambungan (atau dipisahkan). Adapun pendapat terpilih dalam riwayat Imam Hafsh: dipisahkan.

(93) … وَوَزَنُوهُمُ وَكَالُوهُمُ صِلِ ۞ كَذاَ مِنَ أل وَهَا وَيَا لاَ تَفْصِلِ

Dan sambungkanlah kata (ََ وَ زَنُـوا) dan (ُهــم ), juga sambungkan kata (َكـالُـو ) dan (ْهـم ُ).
Cara menyambungkannya adalah dengan menghilangkan Alif setelah Wawu jamak.
Begitu pula jangan pernah pisahkan penulisan (ال ta’rif) dengan kata setelahnya
(baik itu Qamariyyah atau Syamsiyyah). Sama halnya dengan (يَـا nida) dan (هـا tanbih) dengan kata setelahnya