Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Kitab Safinatun Najah Bab Puasa Arab Berharakat

Terjemah bab puasa Kitab Matan Safinatun Najah Berharakat Lengkap Artinya
Terjemah bab Puasa Kitab Matan Safinatun Najah Berharakat Lengkap Artinya


Kitab Safinatun Najah yang berarti "Perahu Keselamatan" adalah kitab fikih dasar mazhab Syafi'i yang sangat populer di pesantren Indonesia karena bahasanya ringkas dan mudah dipahami pemula. Kitab panduan ibadah praktis ini ditulis oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami, seorang ulama besar, ahli hukum,  asal Hadramaut, Yaman, yang berhijrah ke Batavia (Jakarta) dan wafat di sana.

Berikut adalah terjemahan lengkap Bab Puasa Kitab Safinatun Najah Arab berharakat beserta artinya:

BAB PUASA

FASAL 1 WAJIB PUASA RAMADHAN

جِبُ صَوْمُ رَمَضَانَ بِأَحَدِ أُمُوْرٍ خَمْسَةٍ:
أَحَدُهَا: بِكَمَالِ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا.
وَثَانِيهَا: بِرُؤْيَةِ الهِلَالِ فِي حَقِّ مَنْ رَآهُ، وَإنْ كَانَ فَاسِقًا.
وَثَالِثُهَا: بِثُبُوْتِهِ فِي حَقِّ مَنْ لَمْ يَرَهُ بِعَدْلِ شَهَادَةٍ.
وَرَابِعُهَا: بِإِخْبَارِ عَدْلِ رِوَايَةٍ مَوْثُوْقٍ بِهِ، سَوَاءٌ وَقَعَ فِي القَلْبِ صِدْقُهُ أَمْ لَا، أَوْ غَيرِ مَوْثُوْقٍ بِهِ، إِنْ وَقَعَ فِي القَلْبِ صِدْقُهُ.
وَخَامِسُهَا: بِظَنِّ دُخُوْلِ رَمَضَانَ بِالِاجْتِهَادِ فِيمَنِ اشْتَبَهَ عَلَيهِ ذَلِكَ


Puasa Ramadhan diwajibkan dengan salah satu ketentuan-ketentuan berikut ini:
1. Dengan mencukupkan bulan Sya‟ban 30 hari.
2. Dengan melihat bulan, bagi yang melihatnya sendiri.
3. Dengan melihat bulan yang disaksikan oleh seorang yang adil di muka hakim.
4. Dengan kabar dari seseorang yang adil riwayatnya juga dipercaya kebenarannya, baik yang mendengar kabar tersebut membenarkan ataupun tidak, atau tidak dipercaya akan tetapi orang yang mendengar membenarkannya.
5. Dengan beijtihad masuknya bulan Ramadhan bagi orang yang meragukan dengan hal tersebut.

FASAL 2 SYARAT SAH PUASA 

شَرُوطُ صِحَّتِهِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: ١- إِسْلَامٌ ٢- وَعَقْلٌ ٣- وَنَقَاءٌ عَنْ نَحْوِ حَيضٍ ٤- وَعِلْمٌ بِكَوْنِ الوَقْتِ قَابِلًا لِلصَّوْمِ


Syarat sah puasa ada empat (4) perkara, yaitu:
1. Islam.
2. Berakal.
3. Suci dari seumpama darah haidh.
4. Dalam waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa.

FASAL 3 SYARAT WAJIB PUASA 

شَرُوْطُ وُجُوْبِهِ خَمْسَةٌ:١- إِسْلَامٌ٢- وَتَكْلِيفٌ٣- وَإِطَاقَةٌ٤- وَصِحَّةٌ٥- وَإِقَامَةٌ.


Syarat wajib puasa ada lima perkara, yaitu:
1. Islam.
2. Taklif (dibebankan untuk berpuasa).
3. Kuat berpuasa.
4. Sehat.
5. Iqamah (tidak bepergian).

FASAL 4 RUKUN PUASA 

أَرْكَانُهُ ثَلَاثَةٌ:١- نِيَّةٌ لَيلًا لِكُلِّ يَوْمٍ فِي الفَرْضِ٢- وَتَرْكُ مُفْطِرٍ ذَاكِرًا مُخْتَارًا غَيرَ جَاهِلٍ مَعْذُوْرٍ٣- وَصَائِمٌ


Rukun puasa Ramadhan ada tiga perkara, yaitu:
1. Niat pada malamnya, yaitu setiap malam selama bulan Ramadhan.
2. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa ketika masih dalam keadaan ingat. Bisa memilih (tidak ada paksaan) dan tidak bodoh yang ma'zur (dimaafkan).
3. orang yang berpuasa.

FASAL 5 QADHA DAN KAFARAT 

وَيَجِبُ - مَعَ القَضَاءِ لِلْصَّوْمِ - الكَفَّارَةُ العُظْمَى وَالتَعْزِيزُ: عَلَى مَنْ أفْسَدَ صَوْمَهُ فِي رَمَضَانَ يَوْمًا كَامِلًا بِجِمَاعٍ تَامٍّ آثِمٍ بِهِ لِلْصَّوْمِ.
وَيَجِبُ مَعَ القَضَاءِ الإِمْسَاكُ لِلصَّوْمِ فِي سِتَّةِ مَوَاضِعَ:
الأَوَّلُ: فِي رَمَضَانَ، لَا فِي غَيرِهِ عَلَى مُتَعَدٍّ بِفِطْرِهِ.
وَالثَّانِي: عَلَى تَارِكِ النِّيَّةِ لَيلًا فِي الفَرْضِ.
وَالثَّالِثُ: عَلَى مَنْ تَسَحَّرَ ظَانًّا بَقَاءَ اللَّيلِ، فَبَانَ خِلَافُهُ.
وَالرَّابعُ: عَلَى مَنْ أَفْطَرَ ظَانًّا الغُرُوْبَ، فَبَانَ خِلَافُهُ أَيضًا.
والخَامِسُ: عَلَى مَنْ بَانَ لَهُ يَوْمُ ثَلَاثِينَ شَعْبَانَ أَنَّهُ مِنْ رَمَضَانَ.
وَالسَّادِسُ: عَلَى مَنْ سَبَقَهُ مَاءُ المُبَالَغَةِ مِنْ مَضْمَضَةٍ وَاسْتِنْشَاقٍ


Diwajibkan: mengqadha puasa, kafarat besar dan teguran terhadap orang yang membatalkan puasanya di bulan Ramadhan satu hari penuh dengan sebab menjima' lagi berdosa sebabnya .
Dan wajib serta qadha: menahan makan dan minum ketika batal puasanya pada enam tempat:
Dalam bulan Ramadhan bukan selainnya,
1. Terhadap orang yang sengaja membatalkannya.
2. Terhadap orang yang meninggalkan niat pada malam hari untuk puasa yang fardhu.
3. Terhadap orang yang bersahur karena menyangka masih malam, kemudian diketahui bahwa fajar telah terbit.
4. Terhadap orang yang berbuka karena menduga matahari sudah tenggelam, kemudian diketahui bahwa matahari belum tenggelam.
5. Terhadap orang yang meyakini bahwa hari tersebut akhir Sya‟ban tanggal tigapuluh kemudian diketahui bahwa awal Ramadhan  telah tiba.
6. Terhadap orang yang terlanjur meminum air dari kumur-kumur atau dari air yang dimasukkan ke hidung.

FASAL 6 PEMBATAL PUASA 

يَبْطُلُ الصَّوْمُ:١- بِرِدَّةٍ٢- وَحَيضٍ٣- وَنِفَاسٍ٤- وَوِلَادَةٍ٥- وَجُنُوْنٍ وَلَوْ لَحْظَةً٦و٧- بِإِغْمَاءٍ وَسُكْرٍ تَعَدَّى بِهِمَا إنْ عَمَّا جَمِيعَ النَّهَارِ


Batal puasa seseorang dengan beberapa macam, yaitu:
1. Sebab-sebab murtad.
2. Haidh.
3. Nifas.
4. Melahirkan.
5. Gila sekalipun sebentar.
6. Pingsan dan mabuk yang sengaja jika terjadi yang tersebut di siang hari pada umumnya.

FASAL 7 PEMBAGIAN IFTHAR

الإِفْطَارُ فِي رَمَضَانَ أَرْبَعَةُ أَنْوَاعٍ:١- وَاجِبٌ كَمَا فِي الحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ٢- وَجَائِزٌ كَمَا فِي المُسَافِرِ وَالمَرِيضِ٣- وَلَا وَلَا كَمَا فِي المَجْنُوْنِ٤- وَمُحَرَّمٌ؛ كَمَنْ أَخَّرَ قَضَاءَ رَمَضَانَ مَعَ تَمَكُّنِهِ حَتَّى ضَاقَ الوَقْتُ عَنْهُ


Membatalkan puasa di siang Ramadhan terbagi empat macam, yaitu:
Diwajibkan, sebagaimana terhadap wanita yang haid atau nifas.
Diharuskan, sebagaimana orang yang berlayar dan orang yang sakit.
Tidak diwajibkan, tidak diharuskan, sebagaimana orang yang gila.
Diharamkan (ditegah), sebagaimana orang yang menunda qadha Ramadhan, padahal mungkin dikerjakan sampai waktu qadha tersebut tidak mencukupi.


وَأَقْسَامُ الإِفْطَارِ أَرْبَعَةٌ أَيضًا:
أَوَّلُهَا: مَا يَلْزَمُ فِيهِ القَضَاءُ وَالفِدْيَةُ، وَهُوَ اثْنَانِ. الأَوَّلُ: الإِفْطَارُ لِخَوْفٍ عَلَى غَيرِهِ. وَالثَّانِي: الإِفْطَارُ مَعَ تَأْخِيرِ قَضَاءٍ مَعَ إِمْكَانِهِ حَتَّى يَأْتِيَ رَمَضَانُ آخَرُ.
وَثَانِيهَا: مَا يَلْزَمُ فِيهِ القَضَاءُ دُوْنَ الفِدْيَةِ، وَهُوَ يَكْثُرُ؛ كَمُغْمَى عَلَيهِ.
وَثَالِثُهَا: مَا يَلْزَمُ فِيهِ الفِدْيَةُ دُوْنَ القَضَاءِ، وَهُوَ شَيخٌ كَبِيرٌ.
وَرَابِعُهَا: لَا وَلَا، وَهُوَ المَجْنُوْنُ الَّذِي لَمْ يَتَعَدَّ بِجُنُوْنِهِ


Kemudian terbagi orang-orang yang telah batal puasanya kepada empat bagian, yaitu:
1. Orang yang diwajibkan qadha dan fidyah, seperti perempuan yang membatalkan puasanya karena takut terhadap orang lain saperti bayinya. Dan seperti orang yang menunda qadha puasanya sampai tiba Ramadhan berikutnya.
2. Orang yang diwajibkan mengqadha tanpa membayar fidyah, seperti orang yang pingsan.
3. Orang yang diwajibkan terhadapnya fidyah tanpa mengqadha, seperti orang yang sangat tua yang tidak kuasa.
4. Orang yang tidak diwajibkan mengqadha dan membayar fidyah, seperti orang gila yang tidak disengaja.

FASAL 8 BUKAN PEMBATAL PUASA

الَّذِي لَا يُفْطِرُ مِمَّا يَصِلُ إلَى الجَوْفِ سَبْعَةُ أَفْرَادٍ:١و٢و٣- مَا يَصِلُ إلَى الجَوْفِ بِنِسْيَانٍ أَوْجَهْلٍ أَوْ إِكْرَاهٍ٤- بِجَرَيَانِ رِيقٍ بِمَا بَينَ أَسْنَانِهِ وَقَدْ عَجَزَ عَنْ مَجِّهِ لِعُذْرِهِ٥- وَمَا وَصَلَ إِلَى الجَوْفِ وَكَانَ غُبَارَ طَرِيقٍ٦- وَمَا وَصَلَ إِلَيهِ وَكَانَ غَرْبَلَةَ دَقِيقٍ٧- أَوْ ذُبَابًا طَائِرًا أَوْ نَحْوَهُ


Perkara-perkara yang tidak membatalkan puasa sesudah sampai ke rongga mulut ada tujuh macam, yaitu:
1. Ketika kemasukan sesuatu seperti makanan ke rongga mulut denga lupa.
2. Atau tidak tahu hukumnya.
3. Atau dipaksa orang lain.
4. Ketika kemasukan sesuatu ke dalam rongga mulut, sebab air liur yang mengalir di antara gigi-giginya, sedangkan ia tidak mungkin mengeluarkannya.
5. Ketika kemasukan debu jalanan ke dalam rongga mulut.
6. Ketika kemasukan sesuatu dari ayakan tepung ke dalam rongga mulut.
7. Ketika kemasukan lalat yang sedang terbang ke dalam rongga mulut.

 

Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Safinatun Najah Bab Puasa Arab Berharakat "