Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab syarat-syarat saksi

Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab syarat-syarat saksi
Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab syarat-syarat saksi


Syarah Kitab Al-Ghayah wa At-Taqrib Matan Abu Syuja telah diberikan penjelasan (syarah) oleh para ulama, salah satunya adalah kitab Fathul Qarib al-Mujib atau al-Qaulul Mukhtar fi Syarah Ghayah al-Ikhtishar karya Syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazziy (918 H / 1512 M). Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazi al-Qahiri as-Syafi'i. Beliau lebih dikenal dengan "Ibn al-Gharabili". Beliau lahir di bulan Rajab 859 H/1455 M di Gaza, Palestina dan di kota inilah beliau memulai kehidupan. Tepatnya pada hari Rabu, 6 Muharram 918 H/1512 M beliau wafat.

Dalam kitab fathul qorib al-mujib ini dibahas tentang fiqih Mazhab Imam Syafi'i terdiri dari muqaddimah dan pembahasan ilmu fiqih yang secara garis besar terdiri atas empat bagian, yaitu tentang cara pelaksanaan ibadah, muamalat, masalah nikah, dan kajian hukum Islam yang berbicara tentang kriminalitas atau jinayat

berikut Terjemah Bab syarat-syarat saksi Kitab Fathul Qorib teks arab berharakat disertai translate arti bahasa indonesia

Bab syarat-syarat saksi

(فَصْلٌ) فِيْ شُرُوْطِ الشَّاهِدِ

(Fasal) menjelaskan syarat-syarat saksi.

(وَلَا تُقْبَلُ الشَّهَادَةُ إِلَّا مِمَّنْ) أَيِ الشَّخْصِ (اجْتَمَعَتْ فِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ)

Persaksian tidak bisa diterima kecuali dari orang yang memiliki lima sifat/ keadaan.

أَحَدُهَا (الْإِسْلَامُ) وَلَوْ بِالتَّبْعِيَّةِ

Salah satunya adalah islam walaupun sebab mengikut.

فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ كَافِرٍ عَلَى مُسْلِمٍ أَوْ كَافِرٍ

Sehingga tidak bisa diterima persaksian orang kafir terhadap orang islam atau orang kafir yang lain.

(وَ) الثَّانِيْ (الْبُلُوْغُ) فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ صَبِيٍّ وَلَوْ مُرَاهِقًا

Yang kedua adalah baligh, sehingga tidak bisa diterima persaksian anak kecil walaupun hampir baligh.

(وَ) الثَّالِثُ (الْعَقْلُ) فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ مَجْنُوْنٍ

Yang ketiga adalah berakal, sehingga tidak bisa diterima persaksian orang gila.

(وَ) الرَّابِعُ (الْحُرِّيَّةُ) وَلَوْ بِالدَّارِ

Ke empat adalah merdeka, walaupun sebab daerahnya.

فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ رَقِيْقٍ قِنًّا كَانَ أَوْمُدَبَّرًا أَوْ مُكَاتَبًا

Sehingga tidak bisa diterima persaksian seorang budak, baik budak murni, mudabbar atau mukattab.

(وَ) الْخَامِسُ (الْعَدَالَةُ)

Yang ke lima adalah adil.

وَهِيَ لُغَةً التَّوَسُّطُ وَشَرْعًا مَلَكَةٌ فِيْ النَّفْسِ تَمْنَعُهَا مِنِ اقْتِرَافِ الْكَبَائِرِ وَالرَّذَائِلِ الْمُبَاحَةِ.

Adil secara bahasa adalah tengah-tengah. Dan secara syara’ adalah watak yang menancap di dalam hati yang bisa mencegah diri dari melakukan dosa-dosa besar atau perbuatan-perbuatan mubah yang hina / rendah. 

 


Syarat Adil

 

(وَلِلْعَدَالَةِ خَمْسُ شَرَائِطَ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ خَمْسَةُ شُرُوْطٍ

Sifat adil memiliki lima syarat. Dalam sebagian redaksi dengan bahasa, “khamsu syurut (lima syarat).”

أَحَدُهَا (أَنْ يَكُوْنَ) الْعَدْلُ (مُجْتَنِبًا لِلْكَبَائِرِ) أَيْ لِكُلِّ فَرْدٍ مِنْهَا

Salah satunya, orang yang adil harus menjauhi perbuatan dosa besar, maksudnya setiap dosa besar.

فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ صَاحِبِ كَبِيْرَةٍ كَالزِّنَا وَقَتْلِ النَّفْسِ بِغَيْرِ حَقٍّ

Sehingga tidak diterima persaksian orang yang pernah melakukan dosa besar seperti zina dan membunuh seseorang tanpa ada alasan yang benar. 

وَالثَّانِيْ أَنْ يَكُوْنَ الْعَدْلُ (غَيْرَ مُصِرٍّ عَلَى الْقَلِيْلِ مِنَ الْصَغَائِرِ)

Yang kedua, orang yang adil harus tidak terus menerus melakukan dosa-dosa kecil.

فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْمُصِرِّ عَلَيْهَا

Sehingga tidak diterima persaksian orang yang melakukan dosa kecil secara terus menerus.

وَعَدُّ الْكَبَائِرِ مَذْكُوْرٌ فِيْ الْمُطَوَّلَاتِ

Untuk penghitungan dosa-dosa besar telah disebutkan di dalam kitab-kitab yang luas pembahasannya.

وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُوْنَ الْعَدْلُ (سَلِيْمَ السَّرِيْرَةِ) أَيِ الْعَقِيْدَةِ

Yang ke tiga, orang yang adil harus selamat hatinya, maksudnya akidahnya.

فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ مُبْتَدِعٍ يَكْفُرُ أَوْ يَفْسُقُ بِبِدْعَتِهِ

Sehingga tidak bisa diterima persaksian orang yang melakukan bid’ah, baik yang kufur atau hanya fasiq sebab bid’ahnya.

فَالْأَوَّلُ كَمُنْكِرِ الْبَعْثِ وَالثَّانِيْ كَسَابِّ الصَّحَابَةِ

Untuk yang pertama -yang kufur- seperti orang yang mengingkari bangkit dari kubur. Dan yang kedua -hanya fasiq- seperti orang yang mencela / mencaci para sahabat Nabi Saw.

أَمَّا الَّذِيْ لَا يَكْفُرُ وَلَا يَفْسُقُ بِبِدْعَتِهِ فَتُقْبَلُ شَهَادَتُهُ

Sedangkan orang yang tidak sampai kufur dan tidak sampai fasiq sebab bid’ahnya, maka persaksiannya bisa diterima.

وَيُسْتَثْنَى مِنْ هَذَا الْخِطَابِيَّةُ فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَتُهُمْ

Namun dikecualikan dari ini adalah orang kaum al Khithabiyah, maka persaksiannya tidak bisa diterima.

وَهُمْ فِرْقَةٌ يُجَوِّزُوْنَ الشَّهَادَةَ لِصَاحِبِهِمْ إَذَا سَمِعُوْهُ يَقُوْلُ لِيْ عَلَى فُلَانٍ كَذَا

Mereka adalah golongan yang memperkenankan bersaksi untuk temannya ketika mereka mendengar temannya tersebut berkata, “saya berhak atas ini pada si fulan.”

فَإِنْ قَالُوْا رَأَيْنَاهُ يُقْرِضُهُ كَذَا قُبِلَتْ شَهَادَتُهُمْ

Sehingga, jika mereka mengatakan, “aku melihat temanku itu telah menghutangi si fulan barang tersebut,” maka persaksiannya bisa diterima.

وَالرَّابِعُ أَنْ يَكُوْنَ الْعَدْلُ (مَأْمُوْنَ الْغَضَبِ)

Yang ke empat, orang yang adil tersebut harus bisa mengontrol emosi.

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ مَأْمُوْنًا عِنْدَ الْغَضَبِ

Dalam sebagian redaksi, “harus bisa terkontrol ketika emosi.”

فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ مَنْ لَايُؤْمَنُ عِنْدَ غَضَبِهِ

Sehingga tidak bisa diterima persaksian orang yang tidak bisa mengontrol diri saat emosi.

وَالْخَامِسُ أَنْ يَكُوْنَ الْعَدْلُ (مُحَافِظًا عَلَى مُرُوْأَةِ مِثْلِهِ)

Yang kelima, orang yang adil harus bisa menjaga muru’ah (harga diri) sesamanya.

وَالْمُرُوْأَةُ تَخَلُّقُ الْإِنْسَانِ بِخُلُقِ أَمْثَالِهِ مِنْ أَبْنَاءِ عَصْرِهِ فِيْ زَمَانِهِ وَمَكَانِهِ

Al muru’ah adalah perilaku seseorang yang sesuai dengan orang-orang sesamanya dari orang-orang yang semasa dengannya dilihat dari waktu dan tempatnya.

فَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ مَنْ لَا مُرُوْأَةَ لَهُ كَمَنْ يَمْشِيْ فِيْ السُّوْقِ مَكْشُوْفَ الرَّأْسِ أَوِ الْبَدَنِ غَيْرِ الْعَوْرَةِ وَلَا يَلِيْقُ بِهِ ذَلِكَ

Sehingga tidak bisa diterima persaksiannya orang yang tidak memiliki muru’ah. Seperti orang yang berjalan di pasar dengan terbuka kepala atau badannya selain aurat, dan hal itu tidak pantas baginya.

أَمَّا كَشْفُ الْعَوْرَةِ فَحَرَامٌ

Adapun membuka aurat, maka hukumnya adalah haram.


Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab syarat-syarat saksi"