Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Kitab Menjelaskan Hukum-Hukum Qadha’ Dan Persaksian

Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Kitab Menjelaskan Hukum-Hukum Qadla’ Dan Persaksian
Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Kitab Menjelaskan Hukum-Hukum Qadha’ Dan Persaksian


Syarah Kitab Al-Ghayah wa At-Taqrib Matan Abu Syuja telah diberikan penjelasan (syarah) oleh para ulama, salah satunya adalah kitab Fathul Qarib al-Mujib atau al-Qaulul Mukhtar fi Syarah Ghayah al-Ikhtishar karya Syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazziy (918 H / 1512 M). Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazi al-Qahiri as-Syafi'i. Beliau lebih dikenal dengan "Ibn al-Gharabili". Beliau lahir di bulan Rajab 859 H/1455 M di Gaza, Palestina dan di kota inilah beliau memulai kehidupan. Tepatnya pada hari Rabu, 6 Muharram 918 H/1512 M beliau wafat.

Dalam kitab fathul qorib al-mujib ini dibahas tentang fiqih Mazhab Imam Syafi'i terdiri dari muqaddimah dan pembahasan ilmu fiqih yang secara garis besar terdiri atas empat bagian, yaitu tentang cara pelaksanaan ibadah, muamalat, masalah nikah, dan kajian hukum Islam yang berbicara tentang kriminalitas atau jinayat

berikut Terjemah Bab Kitab Menjelaskan Hukum-Hukum Qadha’ Dan Persaksian Kitab Fathul Qorib teks arab berharakat disertai translate arti bahasa indonesia

Bab Kitab Menjelaskan Hukum-Hukum Qadha’ Dan Persaksian


وَالْأَقْضِيَةُ جَمْعُ قَضَاءٍ بِالْمَدِّ وَهُوَ لُغَةً إِحْكَامُ الشَّيْئِ وَ إِمْضَاؤُهُ

Al aqdiyah adalah bentuk kalimat jama’ dari lafadz qadha’ dengan dibaca mad (panjang). qadha’ secara bahasa adalah mengokohkan sesuatu dan meluluskannya.

وَشَرْعًا فَصْلُ الْحُكُوْمَةِ بَيْنَ خَصْمَيْنِ بِحُكْمِ اللهِ تَعَالَى

Dan secara syara’ adalah menetapkan keputusan diantara dua orang yang berseteru dengan hukumnya Allah Swt.

وَالشَّهَادَاتُ جَمْعُ شَهَادَةٍ مَصْدَرِ شَهِدَ مَأْخُوْذٍ مِنَ الشُّهُوْدِ بِمَعْنَى الْحُضُوْرِ

Asy syahadat adalah jama’ dari lafadz syahadah, kalimat masdarnya lafadz syahida yang diambil dari kata asy syuhud yang bermakna hadir.


Hukum Qadha’

وَالْقَضَاءُ فَرْضُ كِفَايَةٍ فَإِنْ تَعَيَّنَ عَلَى شَخْصٍ لَزِمَهُ طَلَبُهُ

Qadha’ hukumnya adalah fardlu kifayah. Namun jika qadha’ hanya tertentu pada satu orang saja, maka wajib baginya untuk memintanya.


Syarat Qadhi

 

(وَلَايَجُوْزُ أَنْ يَلِيَ الْقَضَاءَ إِلَّا مَنِ اسْتَكْمَلَتْ فِيْهِ خَمْسَةَ عَشَرَ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ خَمْسَ عَشَرَةَ (خَصْلَةً)

Tidak diperkenankan menjadi qadhi kecuali orang yang memenuhi lima belas sifat. Dalam sebagian redaksi dengan menggunakan bahada “khamsa ‘asyarah.”

أَحَدُهَا (إِسْلَامُ) فَلَا تَصِحُّ وِلَايَةُ الْكَافِرِ وَلَوْ كَانَتْ عَلَى كَافِرٍ مِثْلِهِ

Salah satunya adalah islam, sehingga tidak sah  kekuasaan orang kafir walaupun pada orang kafir yang sesamanya.

قَالَ الْمَاوَرْدِيْ وَمَا جَرَتْ بِهِ عَادَةُ الْوُلَّاةِ مِنْ نَصْبِ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ فَتَقْلِيْدُ رِيَاسَةٍ وَ زِعَامَةٍ لَا تَقْلِيْدُ حُكْمٍ وَقَضَاءٍ وَلَا يَلْزَمُ أَهْلَ الذِّمَّةِ الْحُكْمُ بِإِلْزَامِهِ بَلْ بِالْتِزَامِهِمْ.

Imam al Mawardi berkata, “mengenai kebiasaan para penguasa yang mengangkat seorang laki-laki dari ahli dzimmah, maka hal itu merupakan pengangkatan sebagai tokoh dan panutan bukan pengangkatan sebagai hakim dan qadhi. Dan bagi penduduk ahli dzimmah tidak harus menuruti hukum yang telah ditetapkan laki-laki tersebut, akan tetapi bisa menjadi dengan kesanggupannya mereka.”

(وَ) الثَّانِيْ وَ الثَّالِثُ (الْبُلُوْغُ وَالْعَقْلُ) فَلَا وِلَايَةَ لِصَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ أَطْبَقَ جُنُوْنُهُ أَوْ لَا

Yang kedua dan yang ketiga adalah baligh dan berakal, sehingga wilayah tidak sah  bagi anak kecil dan orang gila yang gilanya terus menerus atau terputus-putus.

(وَ) الرَّابِعُ (الْحُرِّيَّةُ) فَلَا تَصِحُّ وِلَايَةُ رَقِيْقٍ كُلُّهُ أَوْ بَعْضُهُ

Yang ke empat adalah merdeka, sehingga tidak sah  wilayahnya seorang budak yang secara total atau sebagian saja.

(وَ) الْخَامِسُ (الذُّكُوْرَةُ) فَلَا تَصِحُّ وِلَايَةُ امْرَأَةٍ وَلَا خُنْثًى حَالَ الْجَهْلِ

Yang ke lima adalah laki-laki sehingga tidak sah  wilayahnya seorang wanita dan orang huntsa ketika masih belum jelas status kelaminnya.

وَلَوْ وَلَّى الْخُنْثَى حَاَل الْجَهْلِ فَحَكَمَ ثُمَّ بَانَ ذَكَرًا لَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ فِيْ الْمَذْهَبِ

Dan seandainya ada seorang huntsa yang diangkat menjadi hakim saat belum diketahui kelaminnya lalu ia memutuskan hukum. dan kemudian baru nampak jelas bahwa ia adalah laki-laki, maka hukum yang telah ia putuskan tidak sah  menurut pendapat al madzhab.

(وَ) السَّادِسُ (الْعَدَالَةُ) وَسَيَأْتِيْ بَيَانُهَا فِيْ فَصْلِ الشَّهَادَاتِ

Yang ke enam adalah adil. Dan adil akan dijelaskan di dalam fasal syahadah.

فَلَا وِلَايَةَ لِفَاسِقٍ بِشَيْئٍ لَا شُبْهَةَ لَهُ فِيْهِ.

Sehingga tidak ada hak wilayah bagi orang fasiq dalam permasalahan yang sama sekali tidak ada syubhat di sana.

(وَ) السَّابِعُ (مَعْرِفَةُ أَحْكَامِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ) عَلَى طَرِيْقِ الْاِجْتِهَادِ

Yang ke tujuh adalah mengetahui hukum-hukum di dalam Al Qur’an dan As Sunnah dengan metode ijtihad.

وَلَايُشْتَرَطُ حِفْظُ آيَاتِ الْأَحْكَامِ وَلَا أَحَادِيْثِهَا الْمُتَعَلِّقَاتِ بِهَا عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ

Tidak disyaratkan harus hafal luar kepala ayat-ayat yang menjelaskan tentag hukum-hukum dan hadits-hadits yang berhubungan dengannya.

وَخَرَجَ بِالْأَحْكَامِ الْقِصَصُ وَالْمَوَاعِظُ

Dikecualikan dari hukum-hukum, yaitu tentang cerita-cerita dan petuah-petuah.

(وَ) الثَّامِنُ (مَعْرِفَةُ الْإِجْمَاعِ)

Yang ke delapan adalah mengetahui ijma’.

وَهُوَ اتِّفَاقُ أَهْلِ الْحِلِّ وَالْعَقْدِ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَمْرٍ مِنَ الْأُمُوْرِ

Ijma’ adalah kesepakatan ahlu hilli wal ‘aqdi (pakar hukum) dari ummatnya Nabi Muhammad Saw terhadap satu permasalahan dari berbagai permasalahan.

وَلَا يُشْتَرَطُ مَعْرِفَتُهُ لِكُلِّ فَرْدٍ مِنْ أَفْرَادِ الْإِجْمَاعِ

Tidak disyaratkan harus mengetahui satu-persatu permasalahan ijma’.

بَلْ يَكْفِيْهِ فِيْ الْمَسْأَلَةِ الَّتِيْ يُفْتِيْ بِهَا أَوْ يَحْكُمُ فِيْهَا أَنَّ قَوْلَهُ لَا يُخَالِفُ الْإِجْمَاعَ فِيْهَا

Bahkan cukup baginya mengetahui permasalahan yang sedang ia fatwakan atau ia putuskan bahwa pendapatnya tidak bertentangan dengan ijma’ dalam permasalahan tersebut.

(وَ) التَّاسِعُ (مَعْرِفَةُ الْاِخْتِلَافِ) الْوَاقِعِ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ

Yang ke sembilan adalah mengetahui perbedaan pendapat yang terjadi di antara ulama’.

(وَ) الْعَاشِرُ (مَعْرِفَةُ طُرُقِ الْاِجْتِهَادِ) أَيْ كَيْفِيَّةِ الْاِسْتِدْلَالِ مِنْ أَدِلَّةِ الْأَحْكَامِ

Yang ke sepuluh adalah mengetahui cara-cara ijtihad, maksudnya tata cara menggali hukum dari dalil-dalil yang menjelaskan tentang hukum.

(وَ) الْحَادِيَ عَشَرَ (مَعْرِفَةُ طَرْفٍ مِنْ لِسَانِ الْعَرَبِ) مِنْ لُغَةٍ وَصَرْفٍ وَنَحْوٍ (وَمَعْرِفَةُ تَفْسِيْرِ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى.

Yang ke sebelas adalah mengetahui bagian dari bahasa arab baik lughat, sharaf dan nahwu, dan mengetahui tafsir Kitabullah ta’ala.

(وَ) الثَّانِيَ عَشَرَ (أَنْ يَكُوْنَ سَمِيْعًا وَلَوْ بِصِيَاحٍ فِيْ أُذُنَيْهِ

Yang ke dua belas adalah bisa mendengar walaupun dengan berteriak di kedua telingannya.

فَلاَ يَصِحُّ تَوْلِيَّةُ أَصَمَّ

Sehingga tidak sah  mengangkat orang yang tuli sebagai hakim.

(وَ) الثَّالِثَ عَشَرَ (أَنْ يَكُوْنَ بَصِيْرًا) فَلَا تَصِحُّ تَوْلِيَّةُ الْأَعْمَى

Yang ke tiga belas adalah bisa melihat, sehingga tidak sah  mengangkat orang yang buta sebagai hakim.

وَيَجُوْزُ كَوْنُهُ أَعْوَرَ كَمَا قَالَ الرَّوْيَانِيُّ

Diperkenankan jika dia adalah orang yang buta salah satu matanya sebagaimana yang diungkapkan oleh imam ar Rauyani.

(وَ) الرَّابِعَ عَشَرَ (أَنْ يَكُوْنَ كَاتِبًا)

Yang ke empat belas adalah bisa menulis.

وَمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ مِنِ اشْتِرَاطِ كَوْنِ الْقَاضِيْ كَاتِبًا وَجْهٌ مَرْجُوْحٌ وَالْأَصَحُّ خِلَافُهُ

Apa yang telah disebutkan oleh mushannif yaitu persyaratan bahwa sang qadhi harus bisa menulis adalah pendapat yang lemah, sedangkan pendapat al ashah berbeda dengannya (tidak disyaratkan).

(وَ) الْخَامِسَ عَشَرَ (أَنْ يَكُوْنَ مُسْتَيْقِظًا)

Yang kelima belas adalah kuat ingatannya.

فَلَا تَصِحُّ تَوْلِيَّةُ مُغْفِلٍ بِأَنِ اخْتَلَّ نَظَرُهُ أَوْ فِكْرُهُ إِمَّا لِكِبَرٍ أَوْ مَرَضٍ أَوْ غَيْرِهِ

Sehingga tidak sah  mengangkat orang yang pelupa sebagai hakim. Dengan gambaran nadhar atau pikirannya cacat adakalanya karena terlalu tua, sakit atau karena yang lain.

وَلَمَّا فَرَغَ الْمُصَنِّفُ مِنْ شُرُوْطِ الْقَاضِيْ شَرَعَ فِيْ آدَبِهِ فَقَالَ

Setelah mushannif selesai dari penjelasan syarat-syarat qadhi, maka beliau beranjak menjelaskan tentang etika seorang qadhi. Beliau berkata,

 


Etika Seorang Hakim

 

(وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَجْلِسَ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ أَنْ يَنْزِلَ أَيِ الْقَاضِيْ (فِيْ وَسَطِ الْبَلَدِ) إِذَا اتَّسَعَتْ خِطَّتُهُ

Bagi qadhi disunnahkan untuk duduk, dalam sebagian redaksi dengan bahasa, “untuk bertempat” di tengah daerah ketika batas daerahnya luas.

فَإِنْ كَانَتِ الْبَلَدُ صَغِيْرَةً نَزَلَ حَيْثُ شَاءَ إِنْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ مَوْضِعٌ مُعْتَادٌ تَنْزِلُهُ الْقُضَّاةُ

Sehingga, jika daerahnya kecil, maka ia tidak masalah bertempat di manapun yang ia kehendaki, jika di sana tidak ada tempat yang sudah biasa ditempati oleh para qadhi.

وَيَكُوْنُ جُلُوْسُ الْقَاضِيْ (فِيْ مَوْضِعٍ) فَسِيْحٍ (بَارِزٍ) أَيْ ظَاهِرٍ (لِلنَّاسِ) بِحَيْثُ يَرَاهُ الْمُسْتَوْطِنُ وَالْغَرِيْبُ وَالْقَوِيُّ وَالضَّعِيْفُ

Dan keberadaan duduknya sang qadhi di tempat luas yang jelas, maksudnya nampak jelas bagi penduduk, sekira ia bisa terlihat oleh penduduk setempat, pengunjung, orang yang kuat dan orang yang lemah.

وَيَكُوْنُ مَجْلِسُهُ مَصُوْنًا مِنْ أَذَى حَرٍّ وَبَرْدٍ

Keberadaan tempat duduknya terjaga dari panas dan dingin.

بِأَنْ يَكُوْنَ فِيْ الصَّيْفِ فِيْ مَهَبِّ الرِّيْحِ وَفِيْ الشِّتَاءِ فِي كُنٍّ

Dengan artian di musim kemarau tempat duduknya berada di tempat yang semilir angin, dan di musim dingin berada di tenda.

(وَلَا حِجَابَ لَهُ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَلَا حَاجِبَ دُوْنَهُ

Dan tidak ada pembatas baginya. Dalam sebagian redaksi menggunakan bahasa, “tidak ada penjaga saat hendak melapor padanya.”

فَلَوِ اتَّخَذَ حَاجِبًا أَوْ بَوَّابًا كُرِهَ

Sehingga, seandainya ia mengangkat security atau penjaga pintu, maka hukumnya dimakruhkan.

(وَلَا يَقْعُدُ) الْقَاضِيْ (لِلْقَضَاءِ فِيْ الْمَسْجِدِ)

Sang qadhi tidak duduk di masjid untuk memutuskan hukum.

فَإِنْ قَضَى فِيْهِ كُرِهَ

Sehingga, jika ia memutuskan hukum di masjid, maka hukumnya dimakruhkan.

فَإِنِ اتَّفَقَ وَقْتُ حُضُوْرِهِ فِيْ الْمَسْجِدِ لِصَلَاةٍ وَغَيْرِهَا خُصُوْمَةً لَمْ يُكْرَهْ فَصْلُهَا فِيْهِ

Namun, jika saat ia berada di masjid untuk melaksanakan sholat dan yang lainya kebetulan bertepatan dengan terjadinya kasus, maka tidak dimakruhkan memutuskan kasus tersebut di masjid.

وَكَذَا لَوِ احْتَاجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لِعُذْرٍ مِنْ مَطَرٍ وَنَحْوِهِ.

Begitu juga seandainya ia butuh ke masjid karena ada udzur hujan dan sesamanya.



Wajib Bagi Seorang Hakim 

(وَيُسَوِّيْ) الْقَاضِيْ وُجُوْبًا (بَيْنَ الْخَصْمَيْنِ فِيْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ)

Bagi qadhi wajib menyetarakan kedua belah pihak yang berseteru di dalam tiga perkara :

أَحَدُهَا التَّسْوِيَّةُ (فِيْ الْمَجْلِسِ)

Salah satunya menyetarakan tempat duduk.

فَيُجَلِّسُ الْقَاضِيْ الْخَصْمَيْنِ بَيْنَ يَدَّيْهِ إِذَا اسْتَوَيَا شَرَفًا

Sehingga qadhi memposisikan kedua orang yang seteru tepat di hadapannya ketika status kemuliaan keduanya setara.

أَمَّا الْمُسْلِمُ فَيُرْفَعُ عَلَى الذِّمِّيِّ فِيْ الْمَجْلِسِ

Adapun orang islam, maka tempat duduknya harus lebih ditinggikan daripada tempat duduknya kafir dzimmi.

(وَ) الثَّانِيْ التَّسْوِيَّةُ فِيْ (اللَّفْظِ) أَيِ الْكَلاَمِ

Yang kedua menyetarakan di dalam lafadz, maksudnya ucapan.

فَلَا يَسْمَعُ كَلَامَ أَحَدِهِمَا دُوْنَ الْآخَرِ

Sehingga tidak diperkenankan sang qadhi hanya mendengarkan ucapan salah satu dari keduanya tidak pada yang satunya lagi.

(وَ) الثَّالِثُ التَّسْوِيَّةُ فِيْ (اللَّحْظِ) أَيِ النَّظَرِ

Yang ketiga menyetarakan di dalam pandangan.

فَلَا يَنْظُرُ أَحَدَهُمَا دُوْنَ الْآخَرِ

Sehingga sang qadhi tidak diperkenankan memandang salah satunya tidak pada yang lainnya.

 


Hadiah Untuk Hakim 

(وَلَا يَجُوْزُ) لِلْقَاضِيْ (أَنْ يَقْبَلَ الْهَدِيَّةَ مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ)

Bagi sang qadhi tidak diperkenankan menerima hadiah dari ahli amalnya (penduduk yang berada di daerah kekuasaannya).

فَإِنْ كَانَتِ الْهَدِيَّةُ فِيْ غَيْرِ عَمَلِهِ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِ لَمْ يَحْرُمْ فِيْ الْأَصَحِّ

Sehingga, jika hadiah itu diberikan di selain daerah kekuasaannya dari selain penduduk daerah kekuasaannya, maka hukumnya tidak haram menurut pendapat al ashah.

وَإِنْ أَهْدَى إِلَيْهِ مَنْ هُوَ فِيْ مَحَلِّ وِلَايَتِهِ وَلَهُ خُصُوْمَةٌ وَلَا عَادَةَ لَهُ بِالْهَدِيَّةِ قَبْلَهَا حَرُمَ عَلَيْهِ قَبُوْلُهَا.

Jika ia diberi hadiah oleh orang yang berada di daerah kekuasaannya yang sedang memiliki kasus serta tidak biasa memberi hadiah sebelumnya, maka bagi qadhi haram untuk menerimanya.


Makruh Bagi Hakim 

(ويَجْتَنِبُ) الْقَاضِيْ (الْقَضَاءَ) أَيْ يُكْرَهُ لَهُ ذَلِكَ (فِيْ عَشْرَةِ مَوَاضِعَ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ أَحْوَالٌ

Sang qadhi hendaknya menghindari untuk memutuskan hukum, maksudnya dimakruhkan bagi sang qadhi memutuskan hukum di dalam sepuluh tempat. Dalam sebagian redaksi, “di dalam sepuluh keadaan.”

(عِنْدَ الْغَضَبِ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ فِيْ الْغَضَبِ

Yaitu, ketika marah. Dalam sebagian redaksi, “di dalam marah.”

قَالَ بَعْضُهُمْ وَإِذَا أَخْرَجَهُ الْغَضَبُ عَنْ حَالَةِ الْاِسْتِقَامَةِ حَرُمَ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ حِيْنَئِذٍ

Sebagian ulama’ berkata, “ketika emosi telah menyebabkan sang qadhi tidak terkontrol lagi, maka bagi dia haram memutuskan hukum saat seperti itu.”

(وَالْجُوْعِ) وَالْشَبْعِ الْمُفْرِطَيْنِ (وَالْعَطْشِ وَشِدَّةِ الشَّهْوَةِ وَالْحُزْنِ وَالْفَرَحِ الْمُفْرِطِ

Saat sangat lapar dan kekenyangan. Saat haus, birahi memuncak, sangat sedih dan sangat gembira yang terlalu.

وَعِنْدَ الْمَرَضِ) أَيِ الْمُؤْلِمِ (وَمُدَافَعَةِ الْأَخْبَثَيْنِ) أَيِ الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ

Saat sakit, maksudnya yang menyakitkan badannya. Saat menahan dua hal yang menjijikkan, maksudnya kencing dan berak.

(وَعِنْدَ الْنُعَاسِ وَ) عِنْدَ (شِدَّةِ الْحَرِّ وَالْبَرْدِ)

Saat ngantuk, saat cuacanya terlalu panas dan terlalu dingin.

وَالضَّابِطُ الْجَامِعُ لِهَذِهِ الْعَشْرَةِ وَغَيْرِهَا أَنَّهُ يُكْرَهُ لِلْقَاضِيْ الْقَضَاءُ فِيْ كُلِّ حَالٍ يُسَوِّءُ خُلُقَهُ

Kesimpulan yang bisa mencakup sepuluh hal ini dan yang lainnya adalah sesungguhnya bagi qadhi dimakruhkan memutuskan hukum di setiap keadaan yang bisa membuat keadaannya tidak stabil.

وَإِذَا حَكَمَ فِيْ حَالٍ مِمَّا تَقَدَّمَ نَفَذَ حُكْمُهُ مَعَ الْكَرَاهَةِ.

Ketika ia tetap memutuskan hukum dalam keadaan-keadaan yang telah dijelaskan di atas, maka keputusannya tetap berjalan namun hukumnya makruh.


 


Pengadilan 

(وَلَايَسْأَلُ) وُجُوْبًا أَيْ إِذَا جَلَسَ الْخَصْمَانِ بَيْنَ يَدَّيِ الْقَاضِيْ لَا يَسْأَلُ (الْمُدَّعَى عَلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ كَمَالِ) أَيْ بَعْدَ فَرَاغِ الْمُدَّعِيْ مِنَ (الدَّعْوَى) الصَّحِيْحَةِ

Wajib bagi qadhi untuk tidak bertanya, maksudnya ketika kedua orang yang berseteru duduk dihadapan sang qadhi, maka bagi qadhi tidak diperkenankan bertanya pada orang yang dituduh kecuali setelah sempurnya, maksudnya setelah pihak penuduh selesai mengungkapkan tuduhannya yang sah.

وَحِيْنَئِذٍ يَقُوْلُ الْقَاضِيْ لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ اُخْرُجْ مِنْ دَعْوَاهُ

Dan saat itulah sang qadhi berkata pada pihak yang dituduh, “keluarkanlah dirimu dari tuduhan tersebut.”

فَإِنْ أَقَرَّ بِمَا ادَّعَى بِهِ لَزِمَهُ مَا أَقَرَّ بِهِ وَلَا يُفِيْدُهُ بَعْدَ ذَلِكَ رُجُوْعُهُ

Kemudian, jika ia mengakui apa yang telah dituduhkan oleh pihak penuduh, maka bagi pihak tertuduh wajib memberikan apa yang telah ia akui, dan setelah itu bagi ia tidak bisa menarik kembali pengakuannya.

وَإِنْ أَنْكَرَ مَا ادَّعَى بِهِ عَلَيْهِ فَلِلْقَاضِيْ أَنْ يَقُوْلَ لِلْمُدَّعِيْ أَلَكَ بَيِّنَةٌ أَوْ شَاهِدٌ مَعَ يَمِيْنِكَ إِنْ كَانَ الْحَقُّ مِمَّا يَثْبُتُ بِشَاهِدٍ وَ يَمِيْنٍ

Dan jika pihak tertuduh mengingkari dakwaan pada dirinya, maka bagi qadhi berhak berkata pada pihak penuduh, “apakah engkau punya bukti atau saksi yang disertai sumpahmu”, jika memang hak yang dituntut termasuk hak yang bisa ditetapkan dengan satu saksi dan sumpah.

(وَلَا يَحْلِفُهُ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَلَا يَسْتَحْلِفُهُ أَيْ لَا يَحْلِفُ الْقَاضِيْ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ (إِلَّا بَعْدَ سُؤَالِ الْمُدَّعِيْ) مِنَ الْقَاضِيْ أَنْ يَحْلِفَ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ.

Qadhi tidak berhak menyumpah pihak tertuduh, dalam sebagian redaksi, “qadhi tidak berhak menyuruh pihak tertuduh”, maksudnya, qadhi tidak berhak menyumpah pihak terdakwa kecuali setelah ada permintaan dari pihak pendakwa kepada sang qadhi agar menyumpah pihak terdakwa.

(وَلَايُلَقِّنُ) الْقَاضِيْ (خَصْمًا حُجَّةً)

Tidak diperkenankan bagi qadhi mengajarkan argumen kepada orang yang berseteru.

أَيْ لَا يَقُوْلُ لِكُلٍّ مِنَ الْخَصْمَيْنِ قُلْ كَذَا وَكَذَا

Maksudnya, sang qadhi tidak diperkenankan berkata pada masing-masing dari dua orang yang berseteru, “ucapkanlah begini dan begini.”

أَمَّا اسْتِفْسَارُ الْخَصْمِ فَجَائِزٌ

Sedangkan untuk meminta kejelasan dari orang yang berseteru, maka tidak dipermasalahkan.

كَأَنْ يَدَّعِيَ شَخْصٌ قَتْلًا عَلَى شَخْصٍ فَيَقُوْلُ الْقَاضِيْ لِلْمُدَّعِيْ قَتَلَهُ عَمْدًا أَوْ خَطَأً

Seperti seseorang menuduhkan pembunuhan pada orang lain, kemudian sang qadhi berkata pada pihak penuduh, “apakah pembunuhan yang sengaja atau yang tidak sengaja.”

(وَلَا يُفْهِمُهُ كَلَامًا) أَيْ لَايُعَلِّمُهُ كَيْفَ يَدَّعِيْ

Bagi qadhi tidak diperkenankan memahamkan perkataan pada orang yang sedang berseteru, maksudnya, tidak mengajarkan padanya bagaimana caranya menuntut.

وَهَذِهِ الْمَسْأَلَةُ سَاقِطَةٌ فِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ

Permasalahan ini tidak tercantum di dalam sebagian redaksi matan.

(وَلَا يَتَعَنَّتُ بِالشُّهَدَاءِ)

Qadhi tidak diperkenankan mempersulit saksi-saksi.

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ وَلَا يَتَعَنَّتُ بِشَاهِدٍ كَأَنْ يَقُوْلَ لَهُ الْقَاضِيْ  كَيْفَ تَحَمَّلْتَ وَلَعَلَّكَ مَا شَهِدْتَ.

Dalam sebagian redaksi, “tidak mempersulit pada saksi”, seperti sang qadhi berkata pada saksi, “bagaimana keadaanmu ketika engkau menyaksikan kejadian. Mungkin kamu tidak jadi bersaksi.”

(وَلَا يَقْبَلُ الشَّهَادَةَ إِلَّا مِمَّنْ) أَيْ شَخْصٍ (ثَبَتَتْ عَدَالَتُهُ)

Bagi qadhi tidak diperkenankan menerima persaksian kecuali dari orang yang telah ditetapkan keadilannya.

فَإِنْ عَرَفَ الْقَاضِيْ عَدَالَةَ الشَّاهِدِ عَمِلَ بِشَهَادَتِهِ

Jika sang qadhi telah mengetahui keadilan saksi, maka ia berhak menerima persaksian saksi tersebut.

أَوْ عَرَفَ فِسْقَهُ رَدَّ شَهَادَتَهُ

Atau mengetahui kefasikan saksi, maka sang qadhi harus menolak persaksiannya.

فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ عَدَالَتَهُ وَلَا فِسْقَهُ طَلَبَ مِنْهُ التَّزْكِيَّةَ

Jika sang qadhi tidak mengetahui adil dan fasiknya saksi, maka sang qadhi meminta agar si saksi melakukan tazkiyah (persaksian atas keadilan diri).

وَلَا يَكْفِيْ فِيْ التَّزْكِيَّةِ قَوْلُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ أَنَّ الَّذِيْ شَهِدَ عَلَيَّ عَدْلٌ

Di dalam tazkiyah tidak cukup hanya dengan ucapan pihak terdakwa, “sesungguhnya orang bersaksi atas diriku adalah orang yang adil.”

بَلْ لَابُدَّ مِنْ إِحْضَارِ مَنْ يَشْهَدُ عِنْدَ الْقَاضِيْ بِعَدَالَتِهِ فَيَقُوْلُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَدْلٌ

Bahkan harus mendatangkan orang yang bersaksi atas keadilan saksi tersebut di hadapan qadhi kemudian orang tersebut berkata, “saya bersaksi sesungguhnya saksi tersebut adalah orang yang adil.”

وَيُعْتَبَرُ فِيْ الْمُزَكِّيْ شُرُوْطُ الشَّاهِدِ مِنَ الْعَدَالَةِ وَعَدَمِ الْعَدَاوَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ

Pada orang yang mentazkiyah juga dipertimbangkan syarat-syarat orang yang menjadi saksi yaitu adil, tidak ada permusuhan, dan syarat-syarat yang lain.

وَيُشْتَرَطُ مَعَ هَذَا مَعْرِفَتُهُ بِأَسْبَابِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيْلِ وَخُبْرَةُ بَاطِنِ مَنْ يُعَدِّلُهُ بِصُحْبَةٍ أَوْ جِوَارٍ أَوْ مُعَامَلَةٍ

Disamping itu, dia juga disayaratkan harus tahu terhadap sebab-sebab yang menjadikan fasiq dan menstatuskan adil serta mengetahui dalamnya orang yang mau ia statuskan adil sebab bersahabat, bertetangga atau melakukan transaksi.

(وَلَايَقْبَلُ) الْقَاضِيْ (شَهَادَةَ عَدُوٍّ عَلَى عَدُوِّهِ)

Bagi qadhi tidak diperkenankan menerima persaksian seseorang atas musuhnya.

وَالْمُرَادُ بِعَدُوِّ الشَّخْصِ مَنْ يَبْغَضُهُ

Yang dikehendaki dengan musuhnya seseorang adalah orang yang membencinya.

(وَلَا) يَقْبَلُ الْقَاضِيْ (شَهَادَةَ وَالِدٍ) وَإِنْ عَلَا (لِوَلَدِهِ)

Bagi sang qadhi tidak diperkenankan menerima persaksian orang tua walaupun seatasnya untuk anaknya sendiri.

وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخ ِلِمَوْلُوْدِهِ أَيْ وَإِنْ سَفُلَ

Dalam sebagian redaksi, “untuk orang yang dilahirkannya, maksudnya hingga ke bawah.”

(وَلَا) شَهَادَةَ (وَلَدٍ لِوَالِدِهِ) وَإِنْ عَلَا

Dan tidak menerima persaksian seorang anak untuk orang tuanya sendiri walaupun hingga ke atasnya.

أَمَّا الشَّهَادَةُ عَلَيْهِمَا  فَتُقْبُ

Sedangkan persaksian yang memberatkan keduanya, maka dapat diterima.

(وَلَايُقْبَلُ كِتَابُ قَاضٍ إِلَى قَاضٍ آخَرَ فِيْ الْأَحْكَامِ إِلَّا بَعْدَ شَهَادَةِ شَاهِدَيْنِ يَشْهَدَانِ) عَلَى الْقَاضِيْ الْكَاتِبِ (بِمَا فِيْهِ) أَيِ الْكِتَابِ عِنْدَ الْمَكْتُوْبِ إِلَيْهِ

Surat seorang qadhi kepada qadhi yang lain dalam urusan  pemutusan hukum tidak bisa diterima kecuali setelah ada persaksian dua saksi yang bersaksi atas qadhi yang mengirim surat tentang apa yang terdapat dalam surat tersebut di hadapan qadhi yang dikirimi surat.

وَأَشَارَ الْمُصَنِّفُ بِذَلِكَ إِلَى أَنَّهُ إِذَا ادَّعَى شَخْصٌ عَلَى شَخْصٍ غَائِبٍ بِمَالٍ وَثَبَتَ الْمَالُ عَلَيْهِ فَإِنْ كَانَ لَهُ مَالٌ حَاضِرٌ قَضَاهُ الْقَاضِيْ مِنْهُ

Mushannif mengisyarahkan hal tersebut pada kasus bahwa sesungguhnya ketika ada seseorang yang mendakwakan harta pada orang yang ghaib (tidak satu daerah) dan telah terbukti bahwa orang tersebut memiliki tanggungan harta yang dituntutkan, maka, jika terdakwa memiliki harta yang berada di tempat pendakwa, maka sang qadhi melunasi tanggungan terdakwa dari harta tersebut.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ حَاضِرٌ وَسَأَلَ الْمُدَّعِيْ إِنْهَاءَ الْحَالِ إِلَى قَاضِيْ بَلَدِ الْغَائِبِ أَجَابَهُ لِذَلِكَ

Dan jika terdakwa tidak memiliki harta yang berada di tempat pendakwa dan pendakwa meminta agar menyampaikan keadaan seperti ini kepada qadhi daerah terdakwa, maka qadhi daerah pendakwa harus mengabulkan permintaan si pendakwa tersebut.

وَفَسَّرَ الْأَصْحَابُ إِنْهَاءَ الْحَالِ بِأَنْ يُشْهِدَ قَاضِيْ بَلَدِ الْحَاضِرِ عَدْلَيْنِ بِمَا ثَبَتَ عِنْدَهُ مِنَ الْحُكْمِ عَلَى الْغَائِبِ

Al ashhab mentafsiri “menyampaikan keadaan” dengan gambaran sang qadhi daerah pendakwa mengangkat dua orang saksi adil yang bersaksi atas hukum yang telah ditetapkan terhadap terdakwa yang tidak berada di daerah sang qadhi .”

– وَصِفَةُ الْكِتَابِ – بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ حَضَرَ عِنْدَنَا عَافَانَا اللهُ وَإِيَّاكَ فُلَانٌ وَادَّعَى عَلَى فُلَانٍ  الْغَائِبِ الْمُقِيْمِ فِيْ بَلَدِكَ بِالشَّيْئِ الْفُلَانِيْ وَأَقَامَ عَلَيْهِ شَاهِدَيْنِ وَهُمَا فُلَانٌ وَفُلَانٌ وَقَدْ عَدَلَا عِنْدِيْ وَحَلَفْتُ الْمُدَّعِيَ وَحَكَمْتُ لَهُ بِالْمَالِ وَأَشْهَدْتُ بِالْكِتَابِ فُلَانًا وَفُلَانًا

Bentuk suratnya adalah :

“bismillahirrahmanirrahim. Semoga Allah menyelamatkan aku dan anda, telah ada seseorang yang datang padaku dan mendakwakan sesuatu pada seseorang yang tidak ada di daerahku dan ia bertempat di daerah anda, pendakwa telah mendatangkan dua orang saksi yaitu fulan dan fulan dan menurut saya keduanya adalah orang adil, dan saya sudah menyumpah pendakwa dan menetapkan bahwa ia berhak atas harta yang didakwakan. Dan saya mengangkat fulan dan fulan sebagai saksi atas surat ini.”

وَيُشْتَرَطُ فِيْ شُهُوْدِ الْكِتَابِ وَالْحُكْمِ ظُهُوْرُ عَدَالَتِهِمْ عِنْدَ الْقَاضِيْ الْمَكْتُوْبِ إِلَيْهِ

Di dalam saksi-saksi surat dan putusan hukum disyaratkan harus nampak jelas sifat adilnya menurut qadhi yang dikirimi surat.

وَلَا تَثْبُتُ عَدَالَتُهُمْ عِنْدَهُ بِتَعْدِيْلِ الْقَاضِيْ الْكَاتِبِ إِيَّاهُمْ.

Sifat adil mereka tidak bisa ditetapkan hanya dengan pernyataan adil yamg di sampaikan oleh qadhi yang mengirim surat.


Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Kitab Menjelaskan Hukum-Hukum Qadha’ Dan Persaksian"