Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Diyat

Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Diyat
Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Diyat



Syarah Kitab Al-Ghayah wa At-Taqrib Matan Abu Syuja telah diberikan penjelasan (syarah) oleh para ulama, salah satunya adalah kitab Fathul Qarib al-Mujib atau al-Qaulul Mukhtar fi Syarah Ghayah al-Ikhtishar karya Syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazziy (918 H / 1512 M). Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazi al-Qahiri as-Syafi'i. Beliau lebih dikenal dengan "Ibn al-Gharabili". Beliau lahir di bulan Rajab 859 H/1455 M di Gaza, Palestina dan di kota inilah beliau memulai kehidupan. Tepatnya pada hari Rabu, 6 Muharram 918 H/1512 M beliau wafat.

Dalam kitab fathul qorib al-mujib ini dibahas tentang fiqih Mazhab Imam Syafi'i terdiri dari muqaddimah dan pembahasan ilmu fiqih yang secara garis besar terdiri atas empat bagian, yaitu tentang cara pelaksanaan ibadah, muamalat, masalah nikah, dan kajian hukum Islam yang berbicara tentang kriminalitas atau jinayat

berikut Terjemah Bab Diyat  Kitab Fathul Qorib teks arab berharakat disertai translate arti bahasa indonesia

Bab Diyat

(فَصْلٌ) فِيْ بَيَانِ الدِّيَّةِ

(Fasal) menjelaskan tentang diyat.

وَهِيَ الْمَالُ الْوَاجِبُ بِالْجِنَايَةِ عَلَى حُرٍّ فِيْ نَفْسٍ أَوْ طَرْفٍ

Diyat adalah harta yang wajib dibayar sebab telah melukai orang merdeka baik nyawa atau anggota badan.


Pembagian Diyyat

(وَالدِّيَّةُ عَلَى ضَرْبَيْنِ مُغَلَّظَةٍ وَمُخَفَّفَةٍ) وَلَا ثَالِثَ لَهُمَا

Diyat ada dua macam, mughaladhah (yang berat) dan mukhaffah (yang ringan), dan tidak ada yang ketiga.

(فَالْمُغَلَّظَةُ) بِسَبَبِ قَتْلِ الذَّكَرِ الْحُرِّ الْمُسْلِمِ عَمْدًا (مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ)

Diyat mughallah, sebab membunuh laki-laki merdeka  yang beragama islam dengan sengaja, adalah seratus ekor onta.

وَالْمِائَةُ مُثَلَّثَةٌ (ثَلَاثُوْنَ حِقَّةً وَثَلَاثُوْنَ جَذْعَةٌ) وَسَبَقَ مَعْنَاهُمَا فِيْ كِتَابِ الزَّكَاةِ (وَأَرْبَعُوْنَ خَلِفَةً) بِفَتْحِ الْخَاءِ الْمُعْجَمَةِ وَكَسْرِ اللَّامِ وَبِالْفَاءِ

Seratus onta tersebut dibagi tiga. Tiga puluh ekor berupa onta hiqqah. Tiga puluh ekor berupa onta jadz’ah. Pengertian kedua onta ini telah dijelaskan di dalam kitab “ZAKAT”. Dan empat puluh ekor berupa onta khalifah. Lafadz khalifah dengan membaca fathah huruf kha’nya yang diberi titik satu di atas, membaca kasrah huruf lamnya, dan menggunakan huruf fa’.

وَفَسَّرَهَا الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ (فِيْ بُطُوْنِهَا أَوْلَادُهَا)

Mushannif menafsiri onta khalifah tersebut dengan perkataan beliau, “di dalam perut onta tersebut terdapat anaknya.”

وَالْمَعْنَى أَنَّ الْأَرْبَعِيْنَ حَوَامِلُ وَيَثْبُتُ حَمْلُهَا بِقَوْلِ أَهْلِ الْخُبْرَةِ بِالْإِبِلِ.

Yang dikehendaki, empat puluh ekor onta tersebut adalah onta-onta yang sedang hamil. Kehamilan onta tersebut bisa ditetapkan dengan ucapan pakar ahli tentang onta.

(وَالْمُخَفَّفَةُ) بِسَبَبِ قَتْلِ الذَّكَرِ الْحُرِّ الْمُسْلِمِ (مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ)

Diyat mukhaffah sebab membunuh laki-laki merdeka yang muslim adalah seratus ekor onta.

وَالْمِائَةُ مُخَمَّسَةٌ (عِشْرُوْنَ حِقَّةً وَعِشْرُوْنَ جَذْعَةً وَعِشْرُوْنَ بِنْتَ لَبُوْنٍ وَعِشْرُوْنَ ابْنَ لَبُوْنٍ وَعِشْرُوْنَ بِنْتَ مَخَاضٍ)

Seratus dibagi lima. Dua puluh ekor berupa onta hiqqah, dua puluh ekor berupa onta jadz’ah, dua puluh ekor berupa onta bintu labun, dua puluh ekor berupa onta ibn labun, dan dua puluh ekor berupa onta bintu makhadl.

 


Proses Pengambilan Diyyat

 

وَمَتَّى وَجَبَتِ الْإِبِلُ عَلَى قَاتِلٍ أَوْ عَاقِلَةٍ اُخِذَتْ مِنْ إِبِلِ مَنْ وَجَبَتْ عَلَيْهِ

Ketika onta wajib dibayar oleh si pembunuh atau waris ‘aqilah, maka onta diambil dari ontanya orang yang wajib membayarnya.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ إِبِلٌ فَتُؤْخَذُ مِنْ غَالِبِ إِبِلِ بَلْدَةِ بَلَدِيٍّ أَوْ قَبِيْلَةِ بَدَوِيٍّ

Jika ia tidak memiliki onta, maka diambilkan dari onta yang paling banyak di kota orang yang hidup di perkotaan, atau pedukuan orang yang hidup di pedesaan.

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْ الْبَلْدَةِ أَوِ الْقَبِيْلَةِ إِبِلٌ فَتُؤْخَذُ مِنْ غَالِبِ إِبِلِ أَقْرَبِ الْبِلَادِ أَوِ الْقَبَائِلِ إِلَى مَوْضِعِ الْمُؤَدِّيْ

Jika di kota atau desa tersebut tidak ada onta, maka diambilkan dari onta yang paling banyak di kota atau desa yang paling dekat dengan tempat orang yang wajib membayar diyat.

(فَإِنْ عُدِمَتِ الْإِبِلُ انْتَقَلَ إِلَى قِيْمَتِهَا)

Kemudian, ketika tidak ada onta, maka ia beralih mengeluarkan uang seharga onta tersebut.

وَفِيْ نُسْخَةٍ أُخْرَى فَإِنِ اعْوَزَتِ الْإِبِلُ انْتَقَلَ إِلَى قِيْمَتِهَا

Dalam redaksi yang laing disebutkan, “jika onta tidak ditemukan, maka beralih mengeluarkan uang seharga onta tersebut.”

هَذَا مَا فِيْ الْقَوْلِ الْجَدِيْدِ وَهُوَ الصَّحِيْحُ

Ini adalah pendapat di dalam qaul jadid, dan ini adalah pendapat ash shahih.

(وَقِيْلَ) فِيْ الْقَدِيْمِ (يَنْتَقِلُ إِلَى أَلْفِ دِيْنَارٍ) فِيْ حَقِّ أَهْلِ الذَّهَبِ

Ada satu pendapat di dalam qaul qadim yang mengatakan, “beralih mengeluarkan seribu dinar, bagi orang yang memiliki emas.

(أَوْ) يَنْتَقِلُ إِلَى (اثْنَيْ عَشَرَ أَلْفِ دِرْهَمٍ) فِيْ حَقِّ أَهْلِ الْفِضَّةِ

Atau beralih membayar dua belas ribu dirham, bagi orang yang memiliki perak.

وَسَوَاءٌ فِيْمَا ذُكِرَ الدِّيَّةُ الْمُغَلَّظَةُ وَ الْمُخَفَّفَةُ

Di dalam semua yang dijelaskan tersebut baik diyat al mughaladhdhah atau diyat al mukhaffah.

(وَ إِنْ غُلِّظَتْ) عَلَى الْقَدِيْمِ (زِيْدَ عَلَيْهَا الثُّلُثُ) أَيْ قَدْرُهُ

Berdasarkan pendapat qaul qadim, jika diyat tersebut diberatkan / mughaladhdhah, maka ditambah sepertiga dari jumlah semuanya.

فَفِيْ الدَّنَانِيْرِ أَلْفٌ وَثَلَثُ مِائَةٍ وَثَلَاثَةٌ وَثَلَاثُوْنَ دِيْنَارًا وَثُلُثُ دِيْنَارٍ

Sehingga, dalam permasalahan dinar, harus membayar seribu tiga ratus tiga puluh tiga lebih sepertiga dinar.

وَفِيْ الْفِضَّةِ سِتَّةَ عَشَرَ أَلْفَ دِرْهَمٍ.

Dan di dalam permasalahan perak, harus membayar enam belas ribu dirham.


 


Diyyat Khatha’ Yang Mughaladhah


(وَتُغَلَّظُ دِيَّةُ الْخَطَإِ فِيْ ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ)

Diyat pembunuhan khatha’ menjadi berat / mughaladhdhah di dalam tiga tempat.

أَحَدُهَا (إِذَا قَتَلَ فِيْ الْحَرَمِ) أَيْ حَرَمِ مَكَّةَ

Salah satunya, ketika membunuh di tanah Haram, maksudnya tanah Haram Makkah.

أَمَّا الْقَتْلُ فِيْ حَرَمِ الْمَدِيْنَةِ أَوِ الْقَتْلِ فِيْ حَالِ الْإِحْرَامِ فَلَا تَغْلِيْظَ فِيْهِ عَلَى الْأَصَحِّ

Adapun pembunuhan yang dilakukan di tanah Haram Madinah, atau membunuh saat melaksanakan ihram, maka tidak sampai memberatkan diyat menurut pendapat al ashah.

وَالثَّانِيْ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِ الْمُصَنِّفِ

Yang kedua dijelaskan di dalam perkataan mushannif,

(أَوْ قَتَلَ فِيْ الْأَشْهُرِ الْحَرَمِ) أَيْ ذِيْ الْقَعْدَةِ وَذِيْ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ وَرَجَبَ

Atau membunuh di bulan-bulan Haram, maksudnya bulan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab.

وَالثَّالِثُ مَذْكُوْرٌ فِيْ قَوْلِهِ

Yang ketiga disebutkan di dalam perkataan mushannif,

(أَوْ قَتَلَ) قَرِيْبًا لَهُ (ذَا رَحِمٍ مَحْرَمٍ) بِسُكُوْنِ الْمُهْمَلَةِ

Atau membunuh kerabat sendiri yang masih memiliki ikatan mahram. Lafadz “mahram” dengan membaca sukun huruf ha’nya yang tidak diberi titik.

فَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْرَحِمُ مَحْرَمًا لَهُ كَبِنْتِ الْعَمِّ فَلَا تَغْلِيْظَ فِيْ قَتْلِهَا

Sehingga, jika kerabat yang dibunuh tersebut bukan mahramnya, maka tidak sampai memberatkan diyat.

 


Diyyatnya Wanita & Khuntsa

 

(وَدِيَّةُ الْمَرْأَةِ) وَالْخُنْثَى الْمُشْكِلِ (عَلَى النِّصْفِ مِنْ دِيَّةِ الرَّجُلِ) نَفْسًا وَجَرْحًا

Diyat melukai wanita dan khuntsa musykil adalah separuh dari diyat melukai laki-laki, baik membunuh atau melukai saja.

فَفِيْ دِيَّةِ حُرَّةٍ مُسْلِمَةٍ فِيْ قَتْلِ عَمْدٍ أَوْ شُبْهَةِ عَمْدٍ خَمْسُوْنَ مِنَ الْإِبِلِ خَمْسَةَ عَشَرَ حِقَّةً وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَذْعَةً وَعِشْرُوْنَ خَلِفَةً إِبِلًا حَوَامِلَ

Sehingga, di dalam diyatnya wanita merdeka yang muslim dalam permasalahan membunuh secara sengaja atau syibih ‘amdin adalah lima puluh ekor onta -yang dibagi menjadi tiga-. Lima belas onta hiqqah, lima belas onta jadz’ah dan dua puluh onta khalifah yang sedang mengandung.

وَفِيْ قَتْلِ خَطَإٍ عَشْرُ بَنَاتِ مَخَاضٍ وَعَشْرُ بَنَاتِ لَبُوْنٍ وَعَشْرُ بَنِيْ لَبُوْنٍ وَعَشْرُ حِقَاقٍ وَعَشْرُ جَذَاعٍ

Dan di dalam  membunuh khatha’, wajib membayar sepuluh ekor onta bintu makhadl, sepuluh ekor onta bintu labun, sepuluh ekor ibn labun, sepuluh ekor onta hiqqah dan sepuluh ekor onta jadz’ah.


Diyyat Orang Kafir


(وَدِيَّةُ الْيَهُوْدِ وَالنَّصْرَانِيِّ) وَالْمُسْتَأْمَنِ وَالْمُعَاهَدِ (ثُلُثُ دِيَّةِ الْمُسْلِمِ) نَفْسًا وَجَرْحًا

Diyatnya orang yahudi, nasrani, kafir musta’man, dan kafir mu’ahad adalah sepertiga diyatnya orang islam, baik membunuh atau melukai saja.

(وَأَمَّا المَجُوْسِيُّ فَفِيْهِ ثُلُثَا عُشُرِ دِيَّةِ الْمُسْلِمِ)

Adapun orang majusi, maka diyatnya adalah  dua sepertiga sepersepuluhnya diyat orang muslim.

وَأَحْصَرُ مِنْهُ ثُلُثُ خُمُسِ دِيَّةِ الْمُسْلِمِ

Ungkapan yang lebih ringkas daripada ini adalah sepertiga seperlima diyatnya orang muslim.

 


Diyyat Melukai

 

(وَتُكَمَّلُ دِيَّةُ النَّفْسِ) وَسَبَقَ أَنَّهَا مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ (فِيْ قَطْعِ) كُلٍّ مِنَ (الْيَدَّيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ)

Wajib membayar diyat nafsi secara sempurna, dan sudah dijelaskan bahwa sesungguhnya diyat tersebut adalah seratus onta, di dalam kasus memotong masing-masing dari kedua tangan dan kedua kaki.

فَيَجِبُ فِيْ كُلِّ يَدٍّ أَوْ رِجْلٍ خَمْسُوْنَ مِنَ الْإِبِلِ وَفِيْ قَطْعِهِمَا مِائَةٌ مِنَ الْإِبِلِ

Sehingga di dalam setiap satu tangan atau kaki, wajib membayar lima puluh onta. Dan di dalam kasus memotong dua tangan atau kaki, wajib membayar seratus onta.

(وَ) تُكَمَّلُ الدِّيَّةُ فِيْ قَطْعِ (الْأَنْفِ) أَيْ فِيْ قَطْعِ مَا لاَنَ مِنْهُ وَهُوَ الْمَارِنُ

Wajib membayar diyat secara utuh di dalam kasus hidung, maksudnya memotong bagian hidung yang lentur, yaitu janur hidung.

وَفِيْ قَطْعِ كُلٍّ مِنْ طَرَفَيْهِ وَالْحَاجِزِ ثُلُثُ دِيَّةٍ

Dan di dalam kasus memotong satu dari kedua bagian tepi janur hidung dan pembatas dua lubangnya, wajib membayar sepertiga diyat.

(وَ) تُكَمَّلُ الدِّيَّةُ فِيْ قَطْعِ (الْأُذُنَيْنِ) أَوْ قَلْعِهِمَا بِغَيْرِ إِيْضَاحٍ

Wajib membayar diyat secara utuh/ sempurna di dalam kasus memotong atau mencabut kedua telinga yang tidak sampai menampakkan tulang yang berada di baliknya.

فَإِنْ حَصَلَ مَعَ قَلْعِهِمَا إِيْضَاحٌ وَجَبَ أُرْشُهُ

Jika pencabutan keduanya sampai menyebabkan terlihatnya bagian tulang di baliknya, maka juga wajib membayar ursyu-nya (ganti rugi hal itu).

وَفِيْ كُلِّ أُذُنٍ نِصْفُ دِيَّةٍ

Di dalam memotong satu daun telinga, wajib membayar separuh diyat.

وَلَا فَرْقَ فِيْمَا ذُكِرَ بَيْنَ أُذُنِ السَّمِيْعِ وَغَيْرِهِ

Penjelasan di atas tidak ada bedanya antara telinga orang yang bisa mendengar atau bukan.

وَلَوْ أَيْبَسَ الْأُذُنَيْنِ بِجِنَايَةٍ عَلَيْهِمَا فَفِيْهِمَا دِيَّةٌ

Seandainya kedua telinga tidak bisa digerakkan lagi sebab dilukai, maka keduanya berhak mendapatkan ganti rugi diyat.

(وَالْعَيْنَيْنِ) وَفِيْ كُلٍّ مِنْهُمَا نِصْفُ دِيَّةٍ

-wajib membayar diyat secara utuh- di dalam kasus kedua mata. Dalam kasus melukai salah satunya, wajib membayar separuh diyat.

وَسَوَاءٌ فِيْ ذَلِكَ عَيْنُ أَحْوَلَ أَوْ اَعْوَرَ أَوْ أَعْمَشَ

Dalam hal itu baik matanya orang yang juling, yang tidak bisa melihat salah satu matanya, atau yang selalu berair.

(وَ) فِيْ (الْجُفُوْنِ الْأَرْبَعَةِ) فِيْ كُلِّ جُفْنٍ مِنْهَا رُبُعُ دِيَّةٍ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- di dalam kasus kelopak mata yang berjumlah empat buah. Masing-masing dari ke empatnya berhak mendapatkan ganti rugi seperempat diyat.

(وَاللِّسَانِ) النَّاطِقِ سَلِيْمِ الذَّوْقِ وَلَوْ كَانَ اللِّسَانُ لِأَلْثَغَ وَ أَرَتَّ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- dalam kasus lidah yang bisa bicara dan sehat perasanya, walaupun lidahnya orang yang gagap dan orang yang tidak jelas kata-katanya.

(وَالشَّفَتَيْنِ) وَفِيْ قَطْعِ إِحْدَاهُمَا نِصْفُ دِيَّةٍ.

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- dalam kasus kedua bibir. Di dalam kasus memotong salah satunya, wajib membayar separuh diyat.

(وَذِهَابِ الْكَلَامِ) كُلِّهِ وَفِيْ ذِهَابِ بَعْضِهِ بِقِسْطِهِ مِنَ الدِّيَّةِ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- dalam kasus hilangnya kemampuan bicara seluruhnya. Dan di dalam kasus hilangnya kemampuan bicara sebagian saja, wajib membayar diyat sesuai dengan prosentase yang hilang.

وَالْحُرُوْفُ الَّتِيْ تُوَزَّعُ الدِّيَّةُ عَلَيْهَا ثَمَانِيَّةٌ وَعِشْرُوْنَ حَرْفًا فِيْ لُغَةِ الْعَرَبِ

Huruf yang menjadi tolak ukur pembagian diyat sebanyak dua puluh delapan huruf di dalam bahasa arab.

(وَذِهَابِ الْبَصَرِ) أَيْ إِذْهَابِهِ مِنَ الْعَيْنَيْنِ

Dan di dalam kasus hilangnya penglihatan, maksudnya menghilangkan penglihatan dari kedua mata.

أَمَّا إِذْهَابُهُ مِنْ أَحَدِهِمَا فَفِيْهِ نِصْفُ دِيَّةٍ

Adapun menghilangkan penglihatan dari salah satunya, maka wajib membayar separuh diyat.

وَلَا فَرْقَ فِيْ الْعَيْنِ بَيْنَ صَغِيْرَةٍ وَكَبِيْرَةٍ وَعَيْنِ شَيْخٍ وَطِفْلٍ

Di dalam kasus mata, tidak ada perbedaan antara mata yang kecil dan yang besar, antara mata orang tua dan anak kecil.

(وَذِهَابِ السَّمْعِ) مِنَ الْأُذُنَيْنِ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- dalam kasus hilangnya pendengaran dari kedua telinga.

وَإِنْ نَقَصَ مِنْ أُذُنٍ وَاحِدَةٍ سُدَّتْ وَضُبِطَ مُنْتَهَى سِمَاعِ الْأُخْرَى وَ وَجَبَ قِسْطُ التَّفَاوُتِ وَاُخِذَ بِنِسْبَتِهِ مِنْ تِلْكَ الدِّيَّةِ

Jika daya pendengaran kurang dari satu telinga saja, maka telinga tersebut ditutup dan dibatasi seberapa daya pendengaran telinga yang satunya, maka perbedaan diantara kedua telinga tersebut wajib diberi ganti rugi dan diambilkan sebagian dari diyat tersebut dengan mempertimbangkan perbandingan yang hilang dan yang masih ada.

(وَذِهَابِ الشُّمِّ) مِنَ الْمَنْخَرَيْنِ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh-  dalam kasus hilangnya daya penciuman dari kedua lubang hidung.

وَإِنْ نَقَصَ الشُّمُّ وَضُبِطَ قَدْرُهُ وَجَبَ قِسْطُهُ مِنَ الدِّيَّةِ وَإِلاَّ فَحُكُوْمَةٌ

Jika daya penciuman berkurang dan kira-kiranya bisa dibatasi, maka wajib membayar kadar kekurangan tersebut dari sebagian diyat secara utuh. Jika tidak bisa dibatasi, maka wajib membayar diyat hukumah.

(وَذِهَابِ الْعَقْلِ) فَإِنْ زَالَ بِجُرْحٍ عَلَى الرَّأْسِ لَهُ أُرْشٌ مُقَدَّرٌ أَوْ حُكُوْمَةٌ وَجَبَتِ الدِّيَّةُ مَعَ الْأُرْشِ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh- dalam kasus hilangnya akal. Sehingga, jika akal hilang sebab luka pada kepala dengan bentuk luka yang menetapkan ursy (ganti rugi) atau diyat hukumah, maka wajib membayar diyat sekaligus ursy-nya.

(وَالذَّكَرِ) السَّلِيْمِ وَلَوْ ذَكَرَ صَغِيْرٍ وَشَيْخٍ وَعَنِيْنٍ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh-  dalam kasus penis yang masih berfungsi, walaupun penisnya anak kecil, lansia dan lelaki imponten.

وَقَطْعُ الْحَشَفَةِ كَالذَّكَرِ فَفِيْ قَطْعِهَا وَحْدَهَا دِيَّةٌ

Memotong hasyafah sama seperti memotong penis. Sehingga wajib membayar diyat secara utuh sebab hanya memotong hasyafah saja.

(وَالْأُنْثَيَيْنِ) أَيِ الْبِيْضَتَيْنِ وَلَوْ مِنْ عَنِيْنٍ وَمَجْبُوْبٍ

Dan wajib membayar -diyat secara utuh-  dalam kasus kedua pelir, walaupun miliknya lelaki impoten dan orang yang dipotong penisnya.

وَفِيْ قَطْعِ إِحْدَاهُمَا نِصْفُ دِيَّةٍ.

Wajib membayar separuh diyat sebab memotong salah satu dari keduanya.

(وَفِيْ الْمُوْضِحَةِ)  مِنَ الذَّكَرِ الْحُرِّ الْمُسْلِمِ (وَ) فِيْ (السِّنِّ) مِنْهُ (خَمْسٌ مِنَ الْإِبِلِ

Wajib membayar lima onta di dalam kasus mudlihah terhadap lelaki muslim yang merdeka, dan dalam kasus giginya.

وَفِيْ) إِذْهَابِ (كُلِّ عُضْوٍ لَامَنْفَعَةَ فِيْهِ حُكُوْمَةٌ)

Dan wajib membayar hukumah di dalam kasus menghilangkan setiap anggota yang tidak memiliki manfaat.

وَهِيَ جُزْءٌ مِنَ الدِّيَّةِ نِسْبَتُهُ إِلَى دِيَّةِ النَّفْسِ نِسْبَةُ نَقْصِهَا أَيِ الْجِنَايَةِ مِنْ قِيْمَةِ الْمَجْنِيِّ عَلَيْهِ لَوْكَانَ رَقِيْقًا بِصِفَاتِهِ الَّتِيْ هُوَ عَلَيْهَا

Hukumah adalah bagian dari diyat, yang mana nisbat bagian tersebut pada diyatnya nyawa adalah nisbat kurangnya harga korban yang dilukai seandainya ia adalah seorang budak dengan sifat-sifat yang ia miliki.

فَلَوْ كَانَتْ قِيْمَةُ الْمَجْنِيِّ عَلَيْهِ بِلَا جِنَايَةٍ عَلَى يَدِّهِ مَثَلًا عَشْرَةٌ وَبِهَا تِسْعَةٌ فَالنَّقْصُ عُشُرٌ فَيَجِبُ عُشُرُ دِيَّةِ النَّفْسِ

Sehingga, seandainya harga korban sebelum dilukai tangannya semisal sepuluh, dan setelah dilukai menjadi sembilan, maka kurangnya adalah sepersepuluh, sehingga wajib membayar sepersepuluh dari diyatnya nyawa secara utuh.


Diyyatnya Budak


(وَدِيَّةُ الْعَبْدِ) الْمَعْصُوْمِ (قِيْمَتُهُ) وَالْأَمَّةُ كَذَلِكَ وَلَوْ زَادَتْ قِيْمَةُ كُلٍّ مِنْهُمَا عَلَى دِيَّةِ الْحُرِّ

Diyat seorang budak laki-laki yang dilindungi adalah harga budak tersebut, begitu juga diyat budak perempuan, walaupun harga keduanya lebih dari diyatnya orang merdeka.

وَلَوْ قُطِعَ ذَكَرُ عَبْدٍ وَأُنْثَيَاهُ وَجَبَتْ قِيْمَتَانِ فِيْ الْأَظْهَرِ.

Seandainya penis dan kedua pelir seorang hamba dipotong, maka wajib mengganti dua harga menurut pendapat al adhhar.

 


Diyyat Janin

(وَدِيَّةُ الْجَنِيْنِ الْحُرِّ) الْمُسْلِمِ تَبْعًا لِأَحَدِ أَبَوَيْهِ إِنْ كَانَتْ أُمُّهُ مَعْصُوْمَةً حَالَ الْجِنَايَةِ (غُرَّةٌ) أَيْ نَسِمَةُ مِنَ الرَّقِيْقِ (عَبْدٌ أَوْ أَمَّةٌ) سَلِيْمٌ مِنْ عَيْبٍ شَنِيْعٍ

Diyat janin merdeka yang berstatus islam karena mengikut pada salah satu kedua orang tuanya, jika ibunya adalah wanita yang terjaga saat terjadinya kasus, adalah ghurrah, maksudnya satu orang budak, laki-laki atau perempuan, yang bebas dari cacat yang parah.

وَيُشْتَرَطُ بُلُوْغُ الْغُرَّةِ نِصْفَ عُشُرِ الدِّيَّةِ

Budak tersebut disyaratkan harus mencapai separuh sepersepuluhnya diyat secara utuh.

فَإِنْ فُقِدَتِ الْغُرَّةُ وَجَبَ بَدَلُهَا وَهُوَ خَمْسَةُ أَبْعِرَةٍ

Kemudian, jika tidak ada budak, maka wajib membayar gantinya yaitu lima ekor onta.

وَتَجِبُ الْغُرَّةُ عَلَى عَاقِلَةِ الْجَانِيْ

Budak tersebut wajib dibayar oleh waris ‘aqilah si pelaku.

(وَدِيَّةُ الْجَنِيْنِ الرَّقِيْقِ عُشُرُ قِيْمَةِ أُمِّهِ) يَوْمَ الْجِنَايَةِ عَلَيْهَا

Diyat janin yang berstatus budak adalah sepersepuluh dari harga ibunya di hari saat sang ibu dilukai.

وَيَكُوْنُ مَا وَجَبَ لِسَيِّدِهَا

Sesuatu yang wajib dibayarkan menjadi milik majikan si ibu.

وَيَجِبُ فِيْ الْجَنِيْنِ الْيَهُوْدِيِّ أَوِ النَّصْرَانِيِّ غُرَّةٌ كَثُلُثِ غُرَّةِ مُسلِمٍ وَهُوَ بَعِيْرٌ وَثُلُثَا بَعِيْرٍ

Di dalam kasus janin yang berstatus yahudi atau nasrani, wajib membayar ghurrah dengan ukuran sepertiga dari ghurrah-nya janin muslim, yaitu satu lebih dua pertiga ekor onta.


Posting Komentar untuk "Terjemah Kitab Fathul Qorib Bab Diyat"