Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bab Akhbar serta Penjelasannya - Kitab Al Waraqat

Terjemah Kitab Ushulul Fiqh : Al - Waraqat
Kitab Ushulul Fiqh : Al - Waraqat

Kitab Al Waraqat lengkapnya Al-Waraqat fi Ushul Al-Fiqh (الورقات في أصول الفقه) kitab yang membahas ushul fikih mazhab Asy-Syafi’i. Kitab Waraqat tidak membahas fikih dan  akidah. Pembahasan ushul fikih membahas ilmu kaidah dan rambu-rambu bagaimana fikih diproduksi. Jadi ilmu ushul fikih itu ilmu kerangka pikir. Ilmu ushul fikih adalah ilmu yang membentuk metode berpikir fikih dan nalar syar’i dalam Islam.

Secara bahasa, waraqat berarti lembaran-lembaran kertas. Materi yang tertulis di dalamnya adalah seputar definisi-definisi penting seputar ushul fikih, tanpa menjelaskan satu demi satu dengan penjabaran yang panjang lebar. Artinya, al-Waraqat hanyalah kitab pengantar ushul fikih

Nama Pengarang Kitab al-Waraqat adalah Imam Haramain. Imam Haramain bernama lengkap Abu al-Ma’ali Dliya’ ad-Din Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad al-Juwaini. Al-Juwaini itu nisbat kepada daerah asalnya, Juwain, yang masuk wilayah Nisyapur atau Naisabur, sebuah kota di Iran. Imam Haramain lahir  tanggal 18 Muharram 419 H. Julukan Imam Haramain disematkan pada dirinya karena ia pernah menjadi mufti sekaligus guru ilmu fikih madzhab syafi’i di Makkah dan Madinah, atau disebut Haramain (dua tanah suci).

Berikut Terjemah Arti Bab Macam macam Hukum dalam kitab Al Waraqat dengan dengan tulisan arab berharakat

Akhbar - الأخبار


وَأما الْأَخْبَار فَالْخَبَر مَا يدْخلهُ الصدْق وَالْكذب

dan adapun khabar maka khabar adalah perkara yang mungkin benar dan salah

وَالْخَبَر يَنْقَسِم إِلَى قسمَيْنِ آحَاد ومتواتر

dan khabar terbagi menjadi dua bagian: ahad dan mutawatir

فالمتواتر مَا يُوجب الْعلم وَهُوَ أَن يرْوى جمَاعَة لَا يَقع التواطؤ على الْكَذِب من مثلهم إِلَى أَن يَنْتَهِي إِلَى الْمخبر عَنهُ وَيكون فِي الأَصْل عَن مُشَاهدَة أَو سَماع لَا عَن اجْتِهَاد

mutawatir adalah khabar yang menetapkan ilmu, mutawtir harus diriwayatkan oleh kelompok yang kesepakatan berdusta tidak mungkin terjadi dari mereka, sampai pada orang yang di khabari, dan mutawatir pada asalnya dari pengelihatan atau pendengaran, tidak dari ijtihad

والآحاد هُوَ الَّذِي يُوجب الْعَمَل وَلَا يُوجب الْعلم

dan ahad adalah khabar yang menetapkan perbuatan dan tidak menetapkan pengetahuan

وينقسم إِلَى مُرْسل ومسند

dan terbagi menjadi mursal dan musnad

فَالْمُسْنَدُ مَا اتَّصل إِسْنَاده والمرسل مَا لم يتَّصل إِسْنَاده

musnad adalah khabar yang sambung sanadnya, mursal adalah yang tidak sambung sanadnya

فَإِن كَانَ من مَرَاسِيل غير الصَّحَابَة فَلَيْسَ ذَلِك حجَّة إِلَّا مَرَاسِيل سعيد بن الْمسيب فَإِنَّهَا فتشت فَوجدت مسانيد عَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم

jika mursal itu termasuk mursal selain shahabat maka hal tersebut bukan hujjah, kecuali mursal said bin musaayyab , maka sesungguhnya musnadnya itu diteliti dan ditemukan  sambung dari nabi SAW

والعنعنة تدخل على الْأَسَانِيد

dan khabar an’anah masuk dalam musnad

وَإِذا قَرَأَ الشَّيْخ يجوز للراوي أَن يَقُول حَدثنِي أَو أَخْبرنِي

dan jika guru membaca maka boleh bagi rowi mengatakan haddasani atau akhbaroni

وَإِذا قَرَأَ هُوَ على الشَّيْخ فَيَقُول أَخْبرنِي وَلَا يَقُول حَدثنِي

dan jika ia membaca terhadap guru maka ia mengucapkan akhbaroni, dan tidak haddasani

وَإِن أجَازه الشَّيْخ من غير قِرَاءَة فَيَقُول أجازني أَو أَخْبرنِي إجَازَة

dan jika seorang guru memberinya ijazah tanpa membaca maka ia mengucapkan ajazani atau akhbaroni ijazatan

penjelasannya:

Khabar adalah perkataan yang berpeluang dimasuki penilaian benar dan bohong. Karena perkataan tersebut memungkinkan dinilai benar dan bohong dipandang dari hal itu sebagai khabar. Seperti ucapanmu, ‘قَامَ زَيْدٌ’ (Zaid berdiri), maka mungkin hal itu benar dan mungkin juga bohong. Dan terkadang dapat dipastikan benarnya atau bohongnya berdasarkan amrin khariji (faktor eksternal) bukan karena dzatiahnya. Yang pertama (pasti benar) adalah seperti khabar Allah swt dan yang kedua (pasti bohong) adalah seperti ucapanmu, “dua hal yang bertolak belakang berkumpul menjadi satu”.
Khabar terbagi menjadi ahad dan mutawatir. Mutawatir adalah khabar yang menetapkan yakin, yaitu yang diriwayatkan jamaah (banyak orang) yang tidak bersepakat dalam kebohongan dari sesamanya dan seterusnya sampai mukhbar ‘anhu (pembawa khabar pertama). Maka pada asalnya (tingkat pertama) dihasilkan dari musyahadah (menyaksikan langsung) atau sama’ (mendengar langsung), bukan dari ijtihad. Seperti contoh, mengkhabarkan melihat langsung kota Makkah atau mendengar langsung khabar Allah swt dari Nabi saw. Lain halnya dengan mengkhabarkan hasil ijtihad, seperti khabar dari para filosof

الْفَلَاسَفَةِ بِقِدَمِ الْعَالَمِ (وَالْأَحَادُ) وَهُوَ مُقَابِلُ الْمُتَوَاتِرِ (وَهُوَ الَّذِى يُوْجِبُ الْعَمَلَ وَلاَ يُوْجِبُ الْعِلْمَ) لِاحْتِمَالِ الْخَطَاءِ فِيْهِ

tentang sifat qidam (dahulu) alam semesta.
Berikutnya khabar ahad, yakni pembanding mutawatir. Adalah khabar yang menetapkan amal (diberlakukan) namun tidak menetapkan yakin, karena adanya kemungkinan salah di dalamnya.

Sedangkan khabar ahad adalah khabar yang menetapkan amal (diberlakukan) namun tidak menetapkan yakin, karena adanya kemungkinan salah di dalamnya. Baik berbentuk gharib, ‘aziz, masyhur atau mustafidh. Khabar ahad tidak diamalkan dalam persoalan akidah
Khabar ahad terbagi menjadi dua bagian, mursal dan musnad. Musnad adalah khabar yang muttasil (bersambung) sanadnya. Dengan cara para perawi menjelaskan sanadnya secara keseluruhan.
Dan mursal adalah khabar yang tidak bersambung sanadnya. Dengan cara sebagian perawinya ditiadakan. Apabila termasuk khabar-khabar mursal selain shahabat ra, maka tidak bisa dijadikan hujjah. Karena ada kemungkinan perawi yang ditiadakan dinilai cacat. Kecuali khabar-khabar mursal Said ibn Musayyab ra dari kalangan Tabi’in. Beliau meniadakan seorang perawi shahabat dan menyandarkan langsung pada Nabi saw. (Khabar beliau ini) dapat dijadikan hujjah, lantaran setelah diteliti, ditemukan khabar-khabar (yang diriwayatkan) ternyata khabar-khabar musnad. Dalam arti, diriwayatkan langsung kepada beliau oleh

الَّذِى أَسْقَطَهُ عَنِ النَّبِىِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِى الْغاَلِبِ صِهْرُهُ اَبُو زَوْجَتِهِ اَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عنه. أَمَّا مَرَاسِيْلِ الصَّحَابَةِ بِاَنْ يَرْوِيَ صَحَابِيٌّ عَنِ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ يُسْقِطُ الثَّانِى فَحُجَّةٌ لِاَنَّ الصَّحَابَةَ كُلُّهُمْ عُدُوْلٌ

seorang shahabat dari Nabi saw. Dan shahabat tersebut mayoritas mertuanya sendiri, bapak dari istrinya, Abu Hurairah ra. Sedangkan khabar-khabar mursal shahabat, yaitu seorang shahabat meriwayatkan dari shahabat yang lain dari nabi saw, kemudian shahabat kedua ditiadakan, maka tetap menjadi hujjah, karena para shahabat semuanya dinilai adil.

Khabar ‘an’anah, yakni yang diucapkan dengan حَدَّثَنَا فُلاَنٌ عَنْ فُلاَنٍ الخ (telah meriwayatkan hadits kepadaku, fulan dari fulan dst), maka termasuk musnad, atau sama hukumnya dengan musnad. Sehingga hadits yang diriwayatkan dengan ‘an’anah dihukumi musnad, bukan mursal, karena sanadnya secara lahiriah bersambung.
Apabila seorang guru membaca dan yang lain mendengarkannya, maka diperbolehkan bagi perawi mengatakan حَدَّثَنِى (telah menyampaikan hadits padaku), atau أَخْبَرَنِى (telah memberi khabar padaku). Apabila orang tersebut membaca di depan guru, maka boleh mengatakan أَخْبَرَنِى tidak boleh mengatakan حَدَّثَنِى, karena guru tersebut tidak menyampaikan hadits padanya. Sebagian ulama memperbolehkan bahasa حَدَّثَنِى. Dan pendapat ini yang terpakai sebagai urf (kebiasaan) ahli hadits, karena tujuannya adalah memberitahukan tentang adanya riwayat dari guru. Apabila guru mengijazahi tanpa membaca, maka dia boleh mengatakan اَجَازَنِى (telah memberi ijazah padaku) atauأَخْبَرَنِى اِجَازَةً (telah memberi khabar padaku dengan ijazah).
Ijazah ada beberapa macam.
1) Ijazah khusus dalam riwayat khusus, contoh “Aku ijazahkan padamu riwayat al-Bukhari”.
2) Ijazah khusus dalam riwayat umum, contoh “Aku ijazahkan padamu riwayat semua hadits yang aku dengar”.
3) Ijazah umum dalam riwayat khusus, contoh “Aku ijazahkan pada orang yang berjumpa denganku riwayat Muslim”.
4) Ijazah umum dalam riwayat umum, contoh “Aku ijazahkan pada orang yang semasa denganku riwayat semua hadits yang aku dengar”.