Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bait 29 tentang Hadits Mu’talif Mukhtalif Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya

Terjemah Bait 29 tentang Hadits Mu’talif Mukhtalif Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya
 Bait 29 tentang Hadits Mu’talif Mukhtalif Kitab Al Baiquniyah

Kitab  البيقونية - Baiquniyah adalah salah satu kitab yang membahas ilmu ulumul Hadits. Manzhumah al-Baiquniyah (bahasa Arab: منظومة البيقونية‎) merupakan naskah kecil/saku (matan) pengantar ilmu hadis (musthalah hadits) yang berupa rangkaian bait-bait syair (nazham) yang memuat istilah dan hukum dasar seputar pembagian hadits dan macam-macamnya. pegarang kitab matan baiquni adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni, seorang ahli hadits yang wafat sekitar tahun 1080 H (1669/1670 M).

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana ini di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya. Jumlah keseluruhan 32 macam pembahasan hadits diantaranya hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. 

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Pada bagian ini adalah Terjemah Bait 29 tentang Hadits Mu’talif Mukhtalif Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya :

BAIT 29

مُؤْتَلِفٌ مُتَّقِقُ الخَطِّ فَقَطْ ۞ وَضِدُّهُ مُخْتَلِفُ فَاخْشَ الْغَلَطْ

mu’talif adalah cocok cara penulisan (khath) nya saja, dan sebaliknya adalah mukhtalif. maka takutlah salah


Mu`talif dan mukhtalif adalah nama atau yang lainnya (nasab, nama bapak dll) yang sama (mu`talif) dari sisi cara penulisannya saja, sementara dalam hal lainnya berbeda (mukhtalif). Contohnya nama سلّام Sallaam (dengan mentasydidkan huruf lam) dengan Salaam  سلام (dengan tanpa tasydid).

Secara bahasa mu`talif artinya yang disatukan atau diselaraskan. Mukhtalif artinya yang berbeda dan menyelisihi. Mu`talif mukhtalif mirip muttafiq muftariq bedanya yang sama hanya khatnya saja (lafazh dan orangnya beda). Penulisan bahasa ‘Arab zaman dulu belum memakai syakl (harakat) dan nuqthah (titik) sehingga huruf sin bisa dibaca sa, si, atau su dan huruf sin dan syin ditulis sama tanpa titik. Perawi yang tidak jeli terkadang salah membaca sehingga salah orang.

Imam Ad-Daruquthni memiliki kitab yang menghimpun perawi-perawi ini dalam kitabnya Al-Mu`talif wal Mukhtalif. Sekedar contoh di hal. 247-248 disebutkan bab nama dengan lafazh (ــرك). Perawi dengan khat ini ada tiga orang:

1. (بَرْك) bernama lengkap (البَرْك بن وَبَرة أخو كلب بن وَبَرة بن حُلْوان بن عِمْران بن الحاف بن قُضَاعَة)
2. (بُرَك) bernama asli (عَوْف بن مالك بن ضُبَيْعَة بن قَيْس بن ثَعْلَبة). Ada pula Burak lain yaitu (البُرَك بن عبد الله الخارجي) dan dialah yang mau membunuh Mu’awiyah tetapi justru terbunuh.
3. (تُرْك) ia adalah muqri` (ahli qiaraah dengan qiraah Hamzah) yang mengambil qiraah dari ‘Abdurrahman bin Qaluq dan Sulaim bin Hamzah.
Hasilnya, (بَرْك) dan (بُرَك) termasuk mu`talif mukhtalif dari sisi syakl, sementara (بُرَك) dengan (تُرْك) dari sisi nuqthah.