Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bait 28 tentang Hadits Muttafiq - Muftariq Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya

Terjemah Bait 28 tentang Hadits Muttafiq - Muftariq Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya
 Bait 24 tentang Hadits Mu’allal Kitab Al Baiquniyah

Kitab  البيقونية - Baiquniyah adalah salah satu kitab yang membahas ilmu ulumul Hadits. Manzhumah al-Baiquniyah (bahasa Arab: منظومة البيقونية‎) merupakan naskah kecil/saku (matan) pengantar ilmu hadis (musthalah hadits) yang berupa rangkaian bait-bait syair (nazham) yang memuat istilah dan hukum dasar seputar pembagian hadits dan macam-macamnya. pegarang kitab matan baiquni adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni, seorang ahli hadits yang wafat sekitar tahun 1080 H (1669/1670 M).

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana ini di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya. Jumlah keseluruhan 32 macam pembahasan hadits diantaranya hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. 

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Pada bagian ini adalah Terjemah Bait 28 tentang Hadits Muttafiq - Muftariq Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya :

BAIT 28

مُتَّفِقٌ لَفْظاً وَخَطاً مُتَّفِقْ ۞ وَضِدُّهُ فِيمَا ذَكَرْنَا المُفْتَرِقْ


yang cocok lafad dan tulisanya adalah Muttafiq.dan sebaliknya adalah muftariq

Muttaafiq (sama) dari sisi lafadz dan khath (cara penulisan) disebut muttafiq Dan kebalikan dari apa yang telah kami sebutkan (muttafiq) adalah muftariq.

Keduanya adalah istilah yang menjadi satu kesatuan dalam hal mengenal nama-nama, nasab-nasab atau yang lainnya dari para perawi hadis. Muttafiq dan muftariq adalah nama rawi yang sama (muttafiq) dari sisi lafadz dan cara penulisannya, namun berbeda (muftariq) dari sisi orangnya. Seperti nama al-Khalil bin Ahmad. Ada enam orang perawi dengan nama ini.  

Secara bahasa muttafiq artinya yang disetujui, bersatu pendapat, dan bersepakat. Muftariq artinya berbeda, terpecah, berseberangan, dan tidak sama. Maksud hadits muttafiq muftariq adalah hadits yang terdapat perawi yang namanya, ayahnya, atau nasabnya sama dengan perawi lain baik secara lafazh (ucapan) maupun khat (tulisan) tetapi beda orang. Mudahnya, Ahmad bin Ja’far bin Hamdan dalam satu zaman ada 5 orang dengan nama itu. Dari kesamaan nama ini mereka muttafiq tetapi muftariq dari sisi beda orang.

Al-Khathib Al-Baghdadi memiliki kitab yang menghimpun hingga 1500 lebih perawi muttafiq muftariq berjudul Al-Muttafiq wal Muftariq. Sebagai contoh:

1. Anas bin Malik berjumlah 5 orang.
2. Ibrahim bin Yazid ada 14.
3. Ibrahim bin Musa ada 12.
4. Jabir bin ‘Abdillah ada 7.
5. Muhammad bin Aban ada 10.
6. Muhammad bin Salamah ada 14.
7. Yahya bin Sa’id ada 16.