Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bait 27 tentang Hadits Mudabbaj Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya

Terjemah Bait 27 tentang Hadits Mudabbaj Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya
 Bait 27 tentang Hadits Mudabbaj Kitab Al Baiquniyah

Kitab  البيقونية - Baiquniyah adalah salah satu kitab yang membahas ilmu ulumul Hadits. Manzhumah al-Baiquniyah (bahasa Arab: منظومة البيقونية‎) merupakan naskah kecil/saku (matan) pengantar ilmu hadis (musthalah hadits) yang berupa rangkaian bait-bait syair (nazham) yang memuat istilah dan hukum dasar seputar pembagian hadits dan macam-macamnya. pegarang kitab matan baiquni adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni, seorang ahli hadits yang wafat sekitar tahun 1080 H (1669/1670 M).

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana ini di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya. Jumlah keseluruhan 32 macam pembahasan hadits diantaranya hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. 

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Pada bagian ini adalah Terjemah Bait 27 tentang Hadits Mudabbaj Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya :

BAIT 27

وَمَا رَوَى كُلُّ قَرِينٍ عَنْ أَخِهْ ۞ مُدّبَّجٌ فَأَعْرِفْهُ حَقّاً وَأَنْتَخِهْ
hadis yang di riwayatkan setiap teman dari temanya adalah mudabbaj, maka ketahuilah hak dan tujuhlah

Hadits Mudabbaj

Secara bahasa mudabbaj artinya yang diperindah atau dihiasi. Secara bahasa (الأقران) artinya semasa atau sezaman, maksudnya para perawi yang saling berdekatan dalam umur atau sanad. Aqran adalah teman dalam periwayatan yang setara dari sisi umur dan sanad atau dalam guru.  Ketika dua perawi qarin saling meriwayatkan satu sama lain, inilah yang disebut mudabbaj, jadi dua perawi aqran saling meriwayatkan satu dengan lainnya disebut mudabbaj. Mudabbaj bisa terjadi pada generasi:

1. Shahabat, seperti ‘Aisyah dari Abu Hurairah dan sebaliknya.
2. Tabi’in, seperti Az-Zuhri dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘aziz dan sebaliknya.
3. Tabi’ut Tabi’in, seperti Malik dari Al-Auza’i dan sebaliknya.
4. Dan generasi berikutnya.

Contohnya riwayat masing-masing dari Abu Hurairah dan Aisyah, atau riwayat masing-masing dari Imam Ahmad dan Imam Syafi. Penamaan mudabbaj diambil dari “diibaajatai al-wajh” (dua sisi wajah); yaitu kedua pipi, karena kesamaan keduanya.Kata-kata al-Baiquny “dan banggalah (karena mengetahuinya)” adalah isyarat bahwa mengetahui mudabbaj memiliki faidah tersendiri; yaitu selamat dari sangkaan adanya tambahan dalam sanad.  

Contoh hadits aqran tetapi belum mudabbaj, yaitu hadits Al-Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الجُعْفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ العَقَدِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari, “Di hadits yang disebutkan ini ada riwayat aqran yaitu ‘Abdullah bin Dinar dan Abu Shalih karena keduanya Tabi’in. jika ditemukan riwayat Abu Shalih darinya, jadilah ia mudabbaj.” (Fathul Bârî I/53)