Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bait 26 tentang Hadits Mudraj Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya

Terjemah Bait 26 tentang Hadits Mudraj Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya
 Bait 26 tentang Hadits Mudraj Kitab Al Baiquniyah

Kitab  البيقونية - Baiquniyah adalah salah satu kitab yang membahas ilmu ulumul Hadits. Manzhumah al-Baiquniyah (bahasa Arab: منظومة البيقونية‎) merupakan naskah kecil/saku (matan) pengantar ilmu hadis (musthalah hadits) yang berupa rangkaian bait-bait syair (nazham) yang memuat istilah dan hukum dasar seputar pembagian hadits dan macam-macamnya. pegarang kitab matan baiquni adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni, seorang ahli hadits yang wafat sekitar tahun 1080 H (1669/1670 M).

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana ini di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya. Jumlah keseluruhan 32 macam pembahasan hadits diantaranya hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. 

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Pada bagian ini adalah Terjemah Bait 26 tentang Hadits Mudraj Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya :

BAIT 26

وَالمُدْرَجَاتُ فِي الحَدِيثِ مَا أَتَتْ ۞ مِنْ بَعْض أَلْفَاظِ الرُّوَاةِ اتَّصَلَتْ

mudraj dalam hadis adalah yang datang dari sebagian lafadz lafadz perawi



Secara bahasa (الإدراج) artinya kemasukan (الإدخال). Secara istilah hadits mudraj adalah hadits yang di sanadnya atau matannya ketambahan lafazh yang bukan darinya yang dimasukkan oleh perawi tanpa menjelaskan tambahan itu sehingga seolah-olah bagian dari hadits. Tambahan ini tidak boleh diyakini bagian hadits tersebut dan larangan ini ijma muhadditsin dan ahli fiqih.

Idraj ini memiliki tujuan tertentu dari perawi, seperti:

1. Menjelaskan tafsir hadits, makna kata gharib, atau kesimpulan perawi.

2. Agar ucapannya yang dianggap baik itu diterima manusia.

3. Karena keliru. Yang ini umumnya terjadi pada sanad.

4. Mudraj terjadi pada sanad dan matan.

Idraaj adalah salah satu bentuk tambahan kepada hadis yang bukan bagian dari hadis tersebut. Hadis yang dimasuki tambahan itu disebut mudraj. Yaitu ketika salah seorang perawi baik dari kalangan sahabat, tabi’in atau yang setelahnya menyertakan sebagian lafadz yang bukan lafadz Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tanpa ada pemisahan sehingga seolah-olah bagian dari hadis. Idraj terdapat dalam matn dan sanad. Idraj dalam matan bisa terjadi di awal, di tengah atau di akhirnya. Dan yang di akhir adalah yang paling banyak terjadi. Diantara contoh untuk mudraj di awal adalah hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melihat sekelompok orang yang tidak menyempurnakan wudhu mereka, kemudian berkata, “Sempurnakanlah wudhu kalian” karena aku mendengar Nabi bersabda, “Celakahlah bagi yang bagian belakang kakinya tidak terbasuh karena neraka.” Lafadz “Sempurnakanlah wudhu kalian” adalah perkataan Abu Hurairah. Akan tetapi sebagian para perawi menyertakan lafadz itu ke dalam bagian dari hadis.