Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bait 15 tentang Hadits Mauquf Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya

Terjemah Bait 15 tentang Hadits Mauquf Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya
 Bait 15 tentang Hadits Mauquf Kitab Al Baiquniyah

Kitab  البيقونية - Baiquniyah adalah salah satu kitab yang membahas ilmu ulumul Hadits. Manzhumah al-Baiquniyah (bahasa Arab: منظومة البيقونية‎) merupakan naskah kecil/saku (matan) pengantar ilmu hadis (musthalah hadits) yang berupa rangkaian bait-bait syair (nazham) yang memuat istilah dan hukum dasar seputar pembagian hadits dan macam-macamnya. pegarang kitab matan baiquni adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni, seorang ahli hadits yang wafat sekitar tahun 1080 H (1669/1670 M).

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana ini di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya. Jumlah keseluruhan 32 macam pembahasan hadits diantaranya hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. 

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Pada bagian ini adalah Terjemah Bait 15 tentang Hadits Mauquf Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya :

BAIT 15

ومَا أضَفْتَهُ إِلَى الأَصْحَابِ مِنْ ۞ قَوْلٍ وفعل فهو مَوْقُوفٌ زُكنْ

hadis yang kamu sandarkan pada sahabat dari .....ucapan dan pekerjaan maka itu adalah disebut mauquf

Hadis mauquf adalah hadis yang disandarkan kepada para sahabat, baik terkait dengan perkataan, perbuatan, penetapan atau sifat. Maka, ia juga disebut atsar, sebagaimana telah disenutkan perbedaan hadis, khabar dan atsar. Hal ini dengan catatan jika apa yang disandarkan kepada sahabat tersebut tidak terdapat padanya qarinah (indikasi) bersumber dari Nabi. Jika padanya terdapat qarinah tersebut, maka sebagaimana dalam pembahasan hadis marfu’, ia termasuk hadis marfu hukmi.

Secara bahasa, mauquf merupakan isim maf’ul dari kata al-waqfu; seolah-olah si rawi menghentikan hadits hanya sampai shahabat, dan sisa rantai sanadnya tidak saling berurutan. Menurut istilah, sesuatu yang disandarikan kepada shahabat, baik itu perkataan, perbuatan maupun taqrir, baik sanadnya itu muttashil atau pun munqathi’. 

Jadi perbedaan marfu’, mauquf, dan maqthu’ adalah jika marfu’ maka disandarkan ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mauquf ke Shahabat, dan maqthu’ ke Tabi’in, baik muttashil maupun munqathi’.
Terkadang hadits mauquf dihukumi marfu’ bila ada qarinah seperti ungkapan sharih (jelas) marfu’ atau yang semisalnya, atau yang berkaitan dengan keghaiban atau ushuluddin, karena mustahil para Shahabat berbicara dari akalnya semata.

Maka hadits mauquf ada 3 jenis, yaitu:
- Mauquf qauliy: sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu yang berkata : " Berbicaralah kepada manusia dengan kadar pengetahuannya, sukakah kalian Allah dan Rasul-Nya didustakan ? " (HR Imam Al Bukhari secara muallaq)
- Mauquf filiy: sebagaimana perkataan Al Imam Al Bukhari,  "Bahwasanya Ibnu Abbas mengimami manusia dalam keadaan beliau bertayamum."
- Mauquf taqririy: sebagaimana apabila ada seorang (sekelompok) tabi'in berkata, " Kami melakukan ini, dihadapan shahabat dan mereka tidak mengingkarinya."