Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bait 14 tentang Hadits ‘Ali dan Nazil Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya

Terjemah Bait 14 tentang Hadits ‘Ali dan Nazil Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya
 Bait 14 tentang Hadits ‘Ali dan Nazil Kitab Al Baiquniyah

Kitab  البيقونية - Baiquniyah adalah salah satu kitab yang membahas ilmu ulumul Hadits. Manzhumah al-Baiquniyah (bahasa Arab: منظومة البيقونية‎) merupakan naskah kecil/saku (matan) pengantar ilmu hadis (musthalah hadits) yang berupa rangkaian bait-bait syair (nazham) yang memuat istilah dan hukum dasar seputar pembagian hadits dan macam-macamnya. pegarang kitab matan baiquni adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni, seorang ahli hadits yang wafat sekitar tahun 1080 H (1669/1670 M).

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana ini di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya. Jumlah keseluruhan 32 macam pembahasan hadits diantaranya hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. 

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Pada bagian ini adalah Terjemah Bait 14 tentang Hadits ‘Ali dan Nazil Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya :

BAIT 14

وَكُلُّ مَا قَلَّتْ رِجَالُهُ عَلاَ ۞ وَضِدُهُ ذاك الذي قد نَزَلا

setiap hadis yang perawinya sedikit itu aliy,.... dan kebalikannya adalah hadis yang nazil


Kedua istilah ‘Ali dan Nazil adalah diantara bahasan hadits yang hanya terkait dengan sanad. Sanad ‘aliy adalah sanad yang jumlah perawinya sedikit. Sehingga antara seorang muhaddits dengan Rasulullah hanya terdapat beberapa jumlah perawi saja. Sedangkan kebalikan dari ‘aliy Yaitu nazil adalah sanad yang jumlah perawinya banyak.

sebua hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pasti melalui beberapa perawi. Semakin sedikit jumlah perawi yang menjadi mata rantai periwayatan itu, semakin baik. 

Sebagai contoh, jika Umar bin al-khatab mendengar hadits langsung dari Nabi shollallahu alaihi wasallam tanpa melalui siapapun. Ini adalah sanad yang Aliy. Sedangkan jika Umar bin khatab  mendengar hadits Nabi itu melalui Sahabat lain, itu adalah sanad yang Nazil.

Hadits ‘Ali

menurut bahasa (العَالِي) artinya tinggi atau mulia. menurut istilah hadits ‘ali adalah hadits yang thabaqat (generasi) perawi dalam sanadnya sangat sedikit. Hadits ‘ali ada dua macam:

1. Mutlak, yaitu sedikit dari sisi jumlah thabaqatnya di mana perawi yang bersambung hingga ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat sedikit. Contoh kitab hadits ‘ali adalah Al-Muwaththa` di mana antara Imam Malik dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya dua sampai tiga perawi. Juga kitab Musnad Ahmad dan Shahih Al-Bukhari di mana antara mereka berdua dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya empat hingga enam perawi.

2. Nisbi, yaitu dilihat dari sisi ketinggian perawi di mana para perawinya adalah para imam meskipun jumlah thabaqat perawi sanadnya banyak.

Keistimewaan hadits ‘ali adalah sedikitnya kemungkinan kesalahan perawi karena banyaknya perawi memungkinkan terjadinya kesalahan periwayatan baik karena lupa atau keliru, apalagi manusia itu tempat lupa dan salah. Kebalikannya adalah hadits nazil.

Hadits Nazil

Secara bahasa (النَّازِل) artinya yang turun. Yang dimaksud di sini adalah hadits yang jumlah perawinya bersambung ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih banyak daripada hadits ‘ali. Mudahnya, misalnya hadits niat yang diriwayatkan oleh Ahmad (no. 168) dalam Musnadnya dan Al-Baihaqi (no. 1) dalam As-Sunan Ash-Shaghîr. Antara Ahmad dengan Nabi terdapat 5 perawi, sementara Al-Baihaqi terdapat 8 perawi. Maka hadits niat milik Ahmad adalah hadits ‘ali sementara Al-Baihaqi adalah nâzil.