Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bait 13 tentang Hadits Muanan dan Mubham Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya

Terjemah Bait 13 tentang Hadits Muanan dan Mubham Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya
 Bait 13 tentang Hadits Muanan dan Mubham Kitab Al Baiquniyah

Kitab  البيقونية - Baiquniyah adalah salah satu kitab yang membahas ilmu ulumul Hadits. Manzhumah al-Baiquniyah (bahasa Arab: منظومة البيقونية‎) merupakan naskah kecil/saku (matan) pengantar ilmu hadis (musthalah hadits) yang berupa rangkaian bait-bait syair (nazham) yang memuat istilah dan hukum dasar seputar pembagian hadits dan macam-macamnya. pegarang kitab matan baiquni adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni, seorang ahli hadits yang wafat sekitar tahun 1080 H (1669/1670 M).

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana ini di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya. Jumlah keseluruhan 32 macam pembahasan hadits diantaranya hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. 

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Pada bagian ini adalah Terjemah Bait 13 tentang Hadits Mu’an’an (Dan Mu’anan) Dan Mubham (Dan Muhmal) Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya :

BAIT 13

مَعَنْعَنٌ كَعَن سَعِيدٍ عَنْ كَرَمْ ۞ وَمُبْهَمٌ مَا فِيهِ رَاوٍ لَمْ يُسَمْ

muan’an itu seperti ‘an sa’id ‘an karam. .....mubham adalah hadis yang di dalamnya ada rawi yang tidak disebut

Hadits Mu’an’an

Secara bahasa (مُعَنْعَنٌ) berasal dari Kata (عَنْ) yang artinya “dari”. Secara istilah adalah hadits yang diungkapkan dengan lafazh (عَنْ) tanpa kejelasan mendengar atau dikabarkan atau perkataan si rawi, fulan dari si fulan..

Pada bait tentang hadis muanan, nadzhim menyebutkan istilah mu’an’an hanya dengan menyebutkan contoh ‘an sa’id ‘an karam, tanpa mendefinisikan pengertiannya. Hadis mu’an’an adalah hadis yang diriwayatkan dengan menggunakan lafadz ‘an (dari), yang dalam istilah ilmu hadis termasuk bentuk penyimakan yang tidak secara jelas memberi faidah sama’ (mendengar) secara langsung (shighah muhtamilah). Para ulama berbeda pendapat dalam hukum sanad mu’an’an ini. Apakah ‘an’anah itu memberi faidah ittishal (ketersambungan) antara kedua rowi tersebut atau tidak. Dikatakan, bahwa sanadnya munqathi’/mursal (tidak bersambung). Adapun pendapat masyoritas ulama adalah bahwa sanadnya muttashil, selama si mu’an’in (rawi yang meriwayatkan dengan lafadz ‘an) ini selamat dari sifat tadlis dan adanya kemungkinan bertemu atau satu zaman antara keduanya.

Hadits Mubham

Adapun mubham secara bahasa artinya belum jelas dan misterius. Adapun secara istilah telah dijelaskan sendiri oleh Nazhim sebagaimana yang kita lihat dalam ucapan beliau (مَا فِيهِ رَاوٍ لَمْ يُسَمْ). hadis yang di dalamnya ada rawi yang tidak disebut.

Hadis Mubham adalah hadis yang terdapat padanya seorang rowi yang tidak disebutkan namanya. Baik ia terjadi pada sanad atau pada matan. Contoh pada sanad adalah “dari Sufyan, dari seorang laki-laki”. Contoh dalam matn adalah, “datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”. jika terjadi pada sanad, maka ia berpengaruh pada hukum hadisnya. Namun jika terjadi pada matn, maka ia tidak berpengaruh pada hukum hadisnya.