Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bait 9 tentang Hadits Muttashil Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya

Terjemah Bait 09 tentang Hadits Muttashil Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya
 Bait 9 tentang Hadits Muttashil Kitab Al Baiquniyah

Kitab  البيقونية - Baiquniyah adalah salah satu kitab yang membahas ilmu ulumul Hadits. Manzhumah al-Baiquniyah (bahasa Arab: منظومة البيقونية‎) merupakan naskah kecil/saku (matan) pengantar ilmu hadis (musthalah hadits) yang berupa rangkaian bait-bait syair (nazham) yang memuat istilah dan hukum dasar seputar pembagian hadits dan macam-macamnya. pegarang kitab matan baiquni adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni, seorang ahli hadits yang wafat sekitar tahun 1080 H (1669/1670 M).

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana ini di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya. Jumlah keseluruhan 32 macam pembahasan hadits diantaranya hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. 

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Pada bagian ini adalah Terjemah Bait 09 tentang Hadits Muttashil Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya :

BAIT 09

وَمَا بِسَمْعِ كُلِّ رَاوٍ يَتَّصِل ۞ إسْنَادُهُ لِلْمُصْطَفَى فَالْمُتَّصِل

hadis yang dengan pendengaran setiap rawi bersambung ...... sanadnya kepada nabi pilihan maka itu muttasil

Secara bahasa muttashil artinya yang bersambung. Maka hadits muttashil adalah hadits yang sanadnya bersambung kepada Al-Musthafa Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menurut definisi Nazhim. Namun, definisi ini berakibat tidak adanya perbedaan dengan hadits musnad. Yang benar, bersambung kepada orang terakhir, sehingga mencakup Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maupun selain beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam manuskrip lain dengan redaksi (للمُنْتَهَى) sebagai ganti (لِلْمُصْطَفَى). Ini yang benar.

Kesimpulannya, perbedaan antara hadits marfu’, musnad, dan muttashil adalah khabar apapun yang bersambung disebut muttashil. Bila bersambungnya itu sampai ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disebut musnad. Adapun marfu’ apa yang disandarkan ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik sanadnya bersambung maupun terputus.

Pada bait ini, al-Baiquny menjelaskan istilah muttashil; ia adalah hadits yang sanadnya bersambung sampai ke Nabi, karena setiap rawi mendengar langsung dari syaikhnya. Pada nazham al-Baiquniy disebutkan berakhirnya pada al-Musthafa yakni Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, sedangkan pada syarah syeikh Hasan Muhammad al-Masyath bisa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam atau shahabat

Dr. Mahmud Thahaan dalam Taisir dengan berkata, “Hadits Muttashil adalah hadits yang bersambung sanadnya, baik secara marfu’ (Nabi yang mengatakannya) ataupun terhenti pada siapa saja (selain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakannya). 

(Taisiir Mushthalah Al Hadiits, hlm. 171).