Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bait 7 tentang Hadits marfu' dan Maqthu Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya

Terjemah Bait 07 tentang Hadits marfu' dan Maqthu Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya
 Bait 7 tentang Hadits marfu' dan Maqthu Kitab Al Baiquniyah

Kitab  البيقونية - Baiquniyah adalah salah satu kitab yang membahas ilmu ulumul Hadits. Manzhumah al-Baiquniyah (bahasa Arab: منظومة البيقونية‎) merupakan naskah kecil/saku (matan) pengantar ilmu hadis (musthalah hadits) yang berupa rangkaian bait-bait syair (nazham) yang memuat istilah dan hukum dasar seputar pembagian hadits dan macam-macamnya. pegarang kitab matan baiquni adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquni, seorang ahli hadits yang wafat sekitar tahun 1080 H (1669/1670 M).

Salah satu kitab yang disusun dengan sangat sederhana ini di dalamnya berisi syair yang terdiri dari 34 bait. Meskipun minim keterangan, namun hampir seluruh pembahasan mengenai ilmu hadis dibahas di dalamnya. Jumlah keseluruhan 32 macam pembahasan hadits diantaranya hadits shahih, hasan, dha’if, marfu', maqthu’, musnad, muttashil, musalsal, ‘aziz, masyhur, mu’an’an, mubham, ‘ali, nazil, mauquf, mursal, gharib, munqathi’, mu’dhal, mudallas, syadz, maqlub, fard, mu’allal, mudhtharib, mudraj, mudabbaj, muttafiq-muftariq, mu`talif-mukhtalif, munkar, matruk, dan maudhu’.

Kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah disusun oleh Thaha atau ‘Amr bin Muhammad bin Futuh al-Dimasyqi al-Syafi’i al-Baiquni. Beliau hidup sekitar tahun 1080 H. 

Karya al-Baiquni terbilang populer, hal ini dapat dilihat dari banyaknya ulama yang memberikan syarah atau penjelasan terhadap kitab tersebut. Seperti Ahmad bin Muhammad al-Hamwi (w. 1098 H) yang menuliskan syarahnya yang berjudul Talqih al-Fikr bi Syarh Manzumah al-Atsar, kemudian Muhammad bin Ahmad al-Badiri al-Dimyathi (w. 1140 H) yang menulis Syarh Mandzumah al-Baiquni, ada pula Hasan bin Ghali al-Azhari al-Jadawi (w. 1202 H) menulis kitab Syarh al-Mandzumah al-Baiquniyah. Tercatat puluhan ulama yang diketahui telah menuliskan syarah untuk kitab al-Mandzumah al-Baiquniyyah.

Pada bagian ini adalah Terjemah Bait 07 tentang Hadits marfu' dan Maqthu Dalam Kitab Al Baiquniyah beserta Penjelasannya :

BAIT ke 07

وَمَا أُضيفَ لَلنَّبِي المَرْفُوعُ ۞ وَمَا لِتَابِعٍ هو المقطوع

hadis yang disandarkan pada nabi itu marfu', .... dan (yang sanadnya) pada tabiin adalah maqthu’

dua istilah hadis yang hanya terkait dengan matn; ia adalah marfu’ dan maqthu’. Khabar, dari sisi kepada siapa ia disandarkan memiliki beberapa kondisi:

1. Disandarkan kepada Nabi. Inilah yang disebut marfu’

2. Disandarkan kepada Shahabat. Inilah yang disebut mauquf (sebagaimana akan datang dalam nadzm ini)

3. Disandarkan kepada tabi’in dan yang setelahnya. Inilah yang disebut maqthu’

Istilah-istilah ini hanya berkaitan dengan soal penisbatan matnnya, terlepas dari kondisi sanadnya yang muttashil (bersambung) atau tidak. Maka hardis marfu’ bisa saja ia mursal, munqathi, mu’allaq dll, atau ia shahih, hasan atau dhaif.   Hadis marfu’ terbagi dua: (1) marfu’ sharih; marfu’ yang jelas, seperti “Nabi bersabda”, atau “Nabi melakukan ini” (2) marfu’ hukmi; marfu’ yang tidak secara terang menunjukkan dari Nabi, karena lafadznya dinisbatkan kepada sahabat. Seperti jika salah seorang sahabat mengabarkan sesuatu yang berkaitan dengan perkara ghaib, atau hal-hal yang tidak mungkin keluar dari sekedar pendapat.

Hadits Marfu’

Secara bahasa marfu’ artinya dinaikkan. yakni setiap hadits yang dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik sanadnya bersambung atau tidak, shahih atau dha’if. Jika yang dinisbatkan ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah ucapannya disebut marfu’ qauli, jika perbuatannya marfu’ ‘amali, jika penetapannya marfu’ taqriri, jika sifatnya marfu’ shifati khalqi atau shifati khuluqi.

Berikut 4 pembagian hadis marfu’  sharih atau yang jelas marfu’ kepada Nabi Muhammad saw. beserta contoh hadisnya

1. Marfu’ qauli adalah hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw khusus untuk perkataan beliau.

Untuk lebih jelasnya, terdapat sebuah riwayat yang bersumber dari sahabat Anas, beliau mengatakan:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.

Dari Anas, Nabi saw bersabda: “Tidaklah beriman salah satu dari kalian sampai aku lebih dicintai olehnya dari orang tuanya dan anaknya serta semua orang.” (HR. Muslim)

2. Marfu’ fi’li adalah hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw khusus untuk perbuatan beliau.

Sebuah hadis dari ‘Aisyah Ra yang menceritakan kegiatan atau perbuatan Nabi ketika selesai salat subuh.

عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا صَلَّى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَنِ

Dari ‘Aisyah Ra, ia berkisah: “Dahulu Nabi saw apabila telah usai mengerjakan dua rakaat fajar (salat subuh), Nabi berbaring di atas lambung kanannya (miring ke sebelah kanan).” (HR. Bukhari)

Hadis ini berbeda dengan contoh pada hadis pertama di mana ‘Aisyah menceritakan perbuatan Nabi Muhammad, bukan perkataan beliau.

3. Marfu’ taqriri hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw khusus untuk ketetapan beliau.

Adapun contoh untuk hadis ini adalah kisah yang cukup populer berkenaan dengan “pembiaraan” Nabi melihat sahabatnya, Khalid bin Walid memakan binatang “dhab”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

4. Marfu’ washfi hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw khusus untuk sifat beliau, baik itu karakter beliau atau fisik beliau.

Berkenaan dengan marfu’ washfi, terdapat sebuah riwayat yang bersumber dari Bukhari dan Muslim, diriwayatkan dari sahabat Anas.

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ ، وَلاَ بِالْقَصِير

“Rasulullah Saw tidaklah tinggi menjulang, dan tidak pula pendek..” (HR. Al-Bukhari)

Hadis ini menceritakan tentang ciri-ciri fisik Rasulullah, itu mengapa ia dikategorikan sebagai marfu’ washfi. Adapula beberapa riwayat yang berkaitan dengan ciri-ciri akhlak Rasulullah saw, itu juga termasuk ke dalam marfu’ washfi.

Hadits Maqthu’

Maqthu’ artinya terputus atau terpotong, yakni khabar yang dinisbatkan kepada Tabi’in baik bersanad atau tidak, shahih atau dha’if.