Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bab Pasal Hamzah washal - Kitab Matan Al-Jazariyah


  Terjemah Bab Pasal Hamzah washal - Kitab Matan Al-Jazariyah

Kitab Matan Al-Jazariyah (متن الجزرية) merupakan salah satu kitab yang membahas ilmu Tajwid yang terdiri dari 109 bait. kitab ini dikarang oleh Syamsuddin Abul Khair Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Yuusuf Al-Jazariy Ad-Dimasyqi Asy-Syaafi’i. Ibnul Jazariy dilahirkan pada Sabtu malam, setelah shalat tarawih, tanggal 25 Ramadhan 751 H di Damaskus, Syam (sekarang Suriah). bertepatan dengan 30 November 1350 di wilayah yang bernama al Khat al Qashain di Damaskus. Ahli bidang ilmu tajwid ini meninggal atau wafat pada tahun 833 H di Syiraz, saat masa sekarang berada termasuk wilayah Iran. Imam al-Jazari al-Dimasyqi adalah ulama dari negeri Syam yang memiliki kelebihan dalam bidang ilmu tajwid dan ilmu-ilmu al-Qur’an.

Di dalam Matan Kitab Al-Jazariyah membahas beberapa bab Pasal Fasal namun berikut ini terjemah Bab Pasal Hamzah washol  Kitab Matan Al-Jazariyah arab berharakat  dengan terjemah arti dalam bahasa indonesia:

Hamzah washal - همز الوصل


(101) … وَابْدَأُ بِهَمْزِ الْوَصْلِ مِنْ فِعْلٍ بِضَمْ ۞ إنْ كَانَ ثَالِثٌ مِنَ الْفِعْلِ يُضَمْ

Dan bacalah Hamzah washal pada fi’il (kata kerja) dengan dhammah, Bila huruf ketiga pada fi’il tersebut berharakat dhammah.

(102) … وَاكْسِرْهُ حَالَ الْكَسْرِ وَالْفَتْحِ وَفِى ۞ الاَسْمَاءِ غَيْرَ اللاَّمِ كَسْرَهَا وَفِى

 Dan bacalah Hamzah washal dengan kasrah bila huruf ketiganya berharakat kasrah atau fathah.

Juga bacalah Hamzah washal dengan kasrah apabila berada pada awal kata benda yang tidak didahului Lam ta’rif (Alif Lam), karena pada Alif Lam, Hamzah washal selalu dibaca fathah.

(103) … ابْنٍ مَعَ ابْنَةِ امْرِىءٍ وَاثْنَيْنِ ۞ وَامْرَأةٍ وَاسْمٍ مَعَ اثْنَتَيْنِ

Contoh kata benda yang tidak didahului Lam ta’rif adalah ibnin, ibnati, imriin, itsnaini, imraatin, ismin, dan itsnataini. Semua Hamzah washal yang berada pada awal kata-kata tersebut dibaca dengan kasrah, bila kita ingin memulai bacaan darinya.

(104) … وَحَاذِرِ الْوَقْفَ بِكُلِّ الحَرَكَهْ ۞ إِلاَّ إِذَا رُمْتَ فَبَعْضُ حَرَكَهْ

 Dan berhati-hatilah jangan sampai engkau membaca huruf yang berada di akhir kalimat saat waqaf dengan harakat yang sempurna. Kecuali bila engkau membacanya dengan raum, yakni membaca huruf dengan sebagian harakatnya saja, para Ulama mengatakan: sepertiga harakat. Maksudnya membaca huruf terakhir dengan membunyikan sebagian harakatnya saja.

(105) … إِلاَّ بِفَتْحٍ أَوْ بِنَصْبٍ وَأَشِمْ ۞ إِشَارَةً بِالضَّمْ فِي رَفْعٍ وَضَمْ

 Namun membaca dengan raum itu tidak bisa dilakukan bila harakat pada akhir hurufnya fathah atau nashab. Jadi, raum hanya bisa dilakukan bila harakat pada akhir hurufnya kasrah atau

Selain raum, berhenti pada akhir kalimat juga bisa dilakukan dengan cara isymam. Yakni memberikan isyarat dengan kedua bibir sebagaimana kita mengucapkan dhammah (memonyongkan kedua bibir tanpa suara). Dan Isymam hanya bisa dilakukan bila harakat pada huruf terakhirnya rafa’ atau dhammah.