Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bab Pasal Mengenal Wakaf - Kitab Matan Al-Jazariyah

 

 

 Terjemah Bab Pasal Mengenal Wakaf - Kitab Matan Al-Jazariyah

Kitab Matan Al-Jazariyah (متن الجزرية) merupakan salah satu kitab yang membahas ilmu Tajwid yang terdiri dari 109 bait. kitab ini dikarang oleh Syamsuddin Abul Khair Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Yuusuf Al-Jazariy Ad-Dimasyqi Asy-Syaafi’i. Ibnul Jazariy dilahirkan pada Sabtu malam, setelah shalat tarawih, tanggal 25 Ramadhan 751 H di Damaskus, Syam (sekarang Suriah). bertepatan dengan 30 November 1350 di wilayah yang bernama al Khat al Qashain di Damaskus. Ahli bidang ilmu tajwid ini meninggal atau wafat pada tahun 833 H di Syiraz, saat masa sekarang berada termasuk wilayah Iran. Imam al-Jazari al-Dimasyqi adalah ulama dari negeri Syam yang memiliki kelebihan dalam bidang ilmu tajwid dan ilmu-ilmu al-Qur’an.

Di dalam Matan Kitab Al-Jazariyah membahas beberapa bab Pasal Fasal namun berikut ini terjemah Bab Pasal Mengenal Wakaf  Kitab Matan Al-Jazariyah arab berharakat  dengan terjemah arti dalam bahasa indonesia:

معرفة الوقوف - Mengenal Wakaf


(73) … وَبَعْدَ تَجْوِيدِكَ لِلْحُرُوفِ ۞ لاَبُدَّ مِنْ مَعْرِفَةِ الْوُقُوفِ

Dan setelah engkau memahami kaidah-kaidah dan praktik dalam tajwidul huruf (bab makhraj sampai mad). Maka selanjutnya engkau mesti memahami kaidah-kaidah waqaf (tata cara berhenti) dalam membaca Al-Quran, karena kesempurnaan membaca
Al-Quran adalah “tajwiidul huruuf wa ma’rifatul wuquuf”.

(74) … وَالاْبِتِدَاءِ وَهْىَ تُقْسَمُ إِذَنْ ۞ ثَلاَثَةٌ تَامٌ وَكَافٍ وَحَسَنْ

Dan juga memahami tata cara ibtida` (memulai bacaan) dalam membaca Al-
Quran. Hukum waqaf dan ibtida terbagi menjadi tiga: taam (sempurna), kaaf (cukup), dan hasan (baik).

(75) … وَهْىَ لِمَا تَمَّ فَإنْ لَّمْ يُوجَدِ ۞ تَعَلُق أَوْ كَانَ مَعْنَى فَابْتَدى

Dan apabila engkau berhenti pada kata yang susunan kalimatnya telah sempurna. Baik itu: tidak ada hubungan lafazh dan makna dengan kata setelahnya atau terdapat hubungan makna dengan kata setelahnya namun tidak terdapat hubungan
lafazh, maka mulailah bacaan (ibtida`) dari kata setelahnya.

(76) … فَالتَّامُ فَالْكَافِى وَ لَفْظاً فَامْنَعَنْ ۞ إِلاَّ رُؤُس الآىِ جَوِّزْ فَالحَسَنْ

Berhenti pada kata yang tidak memiliki hubungan lafazh dan makna dengan kata setelahnya disebut waqaf taam. Sedangkan berhenti pada kata yang memiliki hubungan makna namun tidak memiliki hubungan lafazh dengan kata setelahnya disebut waqaf kaaf.

Adapun bila engkau berhenti pada kata yang memiliki hubungan lafazh dan makna, maka janganlah engkau ibtida` pada kata setelahnya. Kecuali bila engkau berhenti di akhir ayat, walaupun masih memiliki hubungan lafazh dan makna dengan ayat setelahnya, namun engkau boleh langsung ibtida` pada awal ayat, tanpa mengulangi kata yang ada pada akhir ayat sebelumnya. Karena berhenti pada setiap
akhir ayat merupakan kebaikan (waqaf hasan).

(77) … وَغَيْرُ مَا تَمَّ قَبِيحٌ وَلَهُ ۞ الوقَفُ مُضْطُرَّاً وَيُبْدَا قَبْلَهُ

Apabila engkau berhenti pada kata yang belum sempurna lafazh atau maknanya dengan sengaja, maka itu adalah waqaf qabih, yakni cara berhenti yang buruk. Kecuali bila berhenti karena darurat, seperti kehabisan nafas atau bersin, maka hal tersebut diperbolehkan. Lalu, engkau memilih beberapa kata sebelumnya untuk ibtida` agar tidak merusak makna, sehingga maksud dan tujuan ayat tersebut tercapai.

(78) … وَلَيسَ في الْقُرْآنِ مِنْ وَقْفٍ وَجَبْ ۞ وَلاَ حَرَامٌ غَيْرَ مَالَهُ سَبَبْ

Dan permasalahan waqaf dan ibtida’ dalam Al-Quran ini tidak ada yang hukumnya wajib atau haram selama tidak ada sebabnya. Bila ada sebab sebagaimana yang telah dijelaskan, yakni berkaitan dengan hubungan lafazh dan makna, lalu mengakibatkan makna ayat berubah, maka hukumnya bisa jatuh menjadi makruh, haram, atau bahkan kufur.