Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Bab hukum Nun Mati dan Tanwin- Kitab Matan Tuhfatul Athfal

 

Terjemah Bab hukum Nun Mati dan Tanwin - Kitab Matan Tuhfatul Athfal

 Kitab Matan Tuhfatul Athfal (Tuhfah Al-Athfal) Matan Al-Jamzuriyah merupakan kitab nadzham (syair) yang terdiri dari kaidah-kaidah dasar ilmu tajwid yang dirangkai dengan bait-bait syair supaya mudah dihafal dan dipelajari anak anak, oleh karena itu kitab ini di beri judul Tuhfatul Athfal yang berarti “Senandung Anak-Anak”.

Pengarang kitab ini adalah Syaikh Sulaiman bin Hasan bin Muhammad Al Jamzuriy. Sebutan Al-Jamzuri dinisbatkan dengan Jamzur yaitu sebuah tempat dekat Thandata yang saat ini disebut Thanta yang berjarak 4 mil. Jamzur adalah tempat ayahnya yang masuk distrik Al-Manufiyah di Mesir. Al-Jamzuri adalah salah satu ulama abad ke-12 hijriyah

Beliau lahir pada bulan Rabiul Awal tahun 1160-an. Belajar ilmu tajwid dan qiroah (bacaan Qur’an) diantaranya dengan Syaikh Nuruddin Al Mihiy. Diantara karangannya adalah Matan Tuhfathul Athfal, Fathul Aqfal Fi Syarhi Tuhfatil Athfal, dan Fathurrahmaaniy fi Qiroatil Qur’an.

berikut kitab Terjemah Bab pasal hukum Nun Mati dan Tanwin dalam Kitab Matan Tuhfatul Athfal  berharakat arab dengan arti dalam bahasa indonesia :

Nun Mati dan Tanwin - ﺍﻟﻨﻮﻥ ﺍﻟﺴﺎﻛﻨﺔ ﻭﺍﻟﺘﻨﻮﻳﻦ


لِلنُّونِ إِنْ تَسْكُنْ وَلِلتَّنْوِينِ ۞ أَرْبَعُ أَحْكَامٍ فَخُذْ تَبْيِيْنِي
Nun jika sukun (mati) dan tanwin maka memiliki empat hukum, perhatikanlah penjelasanku

فَالأَوَّلُ الْإِظْهَارُ قَبْلَ أَحْرُفِ ۞ لِلْحَلْقِ سِتٍّ رُتِّبَتْ فَلْتَعْرِفِ
Pertama adalah Idzhar (jelas) sebelum enam huruf (khalqy) tenggorokan yang tersusun, maka ketahuilah.

هَمْزٌ فَهَاءٌ ثُمَّ عَيْنٌ حَاءُ ۞ مُهْمَلَتَانِ ثُمَّ غَيْنٌ خَاءُ
Hamzah, Ha’, ‘Ain, Ha, Ghain, dan Kho

وَالثَّانِ إِدْغَامٌ بِسِتَّةٍ أَتَتْ ۞ فِي يَرْمُلُونَ عِنْدَهُمْ قَدْ ثَبَتَتْ
Kedua adalah Idgham yang memiliki 6 huruf yang terkumpul dalam kata: ﻳﺮﻣﻠﻮﻥ

لَكِنَّهَا قِسْمَانِ قِسْمٌ يُدْغَمَا ۞ فِيهِ بِغُنَّةٍ بِـ:يَنْمُو عُلِمَا
Tetapi Idgham ada dua bagian, yang pertama dengan ghunnah, yang diketahui dalam kata ينمو

إِلَّا إِذَا كَانَا بِكِلْمَةٍ فَلاَ ۞ تُدْغِمْ كـ:دُنْيَا ثُمَّ صِنْوَانٍ تَلَا
Kecuali jika dalam satu kalimat, maka jangan di idghomkan, seperti “ﺩﻧـﻴﺎ” dan “ﺻـﻨﻮﺍﻥ”

وَالثَّانِ إِدْغَامٌ بِغَيْرِ غُنَّهْ ۞ فِي اللَّامِ وَالرَّا ثُمَّ كَرِّرَنَّهْ
Yang kedua adalah idgham bighairi ghunnah yaitu untuk huruf lam dan ra, lalu getarkanlah

وَالثَّالِثُ الْإِقْلَابُ عِنْدَ الْبَاءِ ۞ مِيمًا بِغُنَّةٍ مَعَ الْإِخْفَاءِ
Ketiga adalah Iqlab yaitu ketika bertemu Ba, maka dibaca mim yang didengungkan serta disamarkan.

وَالرَّابِعُ الْإِخْفَاءُ عِندَ الْفَاضِلِ ۞ مِنَ الْـحُـرُوفِ وَاجِبٌ لِلْفَاضِلِ
Keempat adalah Ikhfa yaitu untuk sisa huruf yang wajib bagi orang yang mulia

فِي خَمْسَةٍ مِنْ بَعْدِ عَشْـرٍ رَمْزُهَا ۞ فِي كِلْمِ هَذَا البَيْتِ قَد ضَمَّنْتُهَا
di lima belas huruf, yang tadanya di kalimat-kalimat bait ini, yang telah aku susun:

صِفْ ذَا ثَنَا كَمْ جَادَ شَخْصٌ قَدْ سَمَا ۞ دُمْ طَيِّبـًا زِدْ فِي تُقًى ضَعْ ظَالِمَا