Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terjemah Kitab Aqidatul Awam : Tentang Para Nabi dan para Rasul (sifat wajib, jaiz, mustahil dan maksum)

 

Terjemah Kitab Aqidatul Awam : Tentang Para Nabi dan para Rasul (sifat wajib, jaiz, mustahil dan maksum)

berikut adalah penjelasan arti terjemah sifat Tentang Para Nabi dan para Rasul (sifat wajib, jaiz, mustahil dan maksum) dalam kitab nadham Aqidatul Awam yang dikarang /disusun oleh Syaikh Ahmad Marzuki berisi tentang dasar Ilmu Tauhid

mushannif (pengarang) berkata :

اَرْسَل اَنْبِيَا ذَوِالفَطَانَهْ بِاالصِّدْقِ وَالتَّبْلِيْغِ وَالأَمَانَهْ .


Mengutus para nabinya yang bersifat fatonah sidiq tablik serta amanah ·


وَجَائِزٌ فِحَقِّهِمْ مِنْ عَرَضٍ بِغَيْرِ نَقْصٍ كَخَفِيْفِ الْمَرَضِ .


Aroda basariyah yang tak merendahkan di jaizkan seperti sakit yang ringan ·


عِصْمَتُهُمْ كَسَائِرِ الْمَلَئِكَتِه وَاجِبَةٌ وَفَاضَلُوْ الْمَلاَئِكَة .


Mereka ma’sum seperti malaikat bahkan lebih tinggi dari malaikat ·


وَمُسْتَحِيْلُ ضِدُّكُلِّ وَاجِبٍ فَاحْفَظْ لِخَمْسِيْنَ بِحُكْمٍ وَاجِبٍ .


Mustahil itu lawan yang diwajibkan 50 ini wajib kau hapalkan ·

---------------------------

sifat wajib para rasul

أَرْسَلَ أَنْبِيَا ذَوِيْ فَطَانَةْ بِالصِّدْقِ وَالتَّبْلِيْغِ وَاْلأَمَانَةْ


Allah SWT mengutus beberapa nabi yang memiliki kecerdasan, dengan perkataan yang benar, menyampaikan perintah Allah SWT dan amanah.

penjelasan (Syarah):

Allah SWT mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan serta menyebarkan ajaran Islam ke muka bumi. Nabi adalah seorang manusia yang menerima wahyu dari Allah SWT, namun tidak ada perintah untuk disampaikan kepada kaumnya.

Sedangkan rasul, selain menerima wahyu ia juga diperintahkan untuk menyampaikannya kepada kaum. Maka bisa dikatakan bahwa setiap rasul pasti nabi, tetapi tidak semua nabi adalah rasul.

Sebagai utusan Allah SWT, mereka adalah manusia-manusia pilihan yang dibekali Allah SWT dengan keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk Allah SWT yang lain. Begitu pula mereka diberikan sifat-sifat kesempurnaan sebagai penguat atas risalah yang dibawa.

Khusus bagi Rasul, sebagai kesempurnaan dari risalah yang disampaikan, Allah SWT menganugerahkan empat sifat kesempurnaan, yang pasti dimiliki oleh seorang rasul Allah SWT. Yakni:

1. Shidiq (jujur)

Setiap rasul pasti jujur dalam ucapan dan perbuatannya. Pujian Allah SWT kepada Nabi Ibrahim:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيْقًا نَبِيًّا. (مريم :41).


"Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Qur'an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi." (QS. Maryam : 41).

Setiap rasul pasti jujur dalam pengakuan atas kerasulannya. Dan apa yang disampaikan pasti benar adanya, karena memang bersumber dari Allah SWT. Firman Allah SAW:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰ، إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَىٰ, (النجم : 3-4).


"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. an-Najm : 3-4).

2. Tabligh (menyampaikan)

Setiap rasul pasti menyampaikan apa yang diterima dari Allah SWT. Jika Allah SWT, memerintahkan rasul untuk menyampaikan wahyu, seorang rasul pasti menyampaikan wahyu tersebut kepada kaumnya. Dalam al-Qur’an disebutkan:

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاَتِ رَبِّيْ وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ. (الأعراف : 62).


"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-A’raf : 62).

3. Amanah (bisa dipercaya)

Secara bahasa amanah berarti bisa dipercaya. Sedangkan yang dimaksud di sini bahwa setiap rasul adalah dapat dipercaya dalam setiap ucapan dan perbuatannya, karena rasul tidak mungkin melakukan perbuatan yang dilarang dalam agama, begitu pula hal yang melanggar etika. Setiap rasul tidak mungkin terperosok ke dalam perzinahan, pencurian, menkonsumsi minuman keras, berdusta, menipu dan lain sebagainya. Rasul tidak mungkin memiliki sifat hasud, riya’, sombong, dusta dan sebagainya.

4. Fathonah (cerdas)

Dalam menyampaikan risalah Allah SWT, tentu dibutuhkan kemampuan dan strategi khusus agar risalah yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Karena itu, seorang rasul pastilah orang yang cerdas. Kecerdasan ini sangat berfungsi terutama dalam menghadapi orang-orang yang membangkang dan menolak ajaran Islam. Dalam al-Qur’an disebutkan:

قَالُوا يَانُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ. (هود : 32).


"Mereka berkata: "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar." (QS. Hud : 32).

sifat jaiz para rasul

وَجَائِزٌ فِي حَقِّهِمْ مِنْ عَرَضِ بِغَيْرِ نَقْصٍ كَخَفِيْفِ الْمَرَضِ


Adalah boleh bagi para rasul mengalami kejadian yang dialami manusia. Tanpa mengurangi derajat mereka seperti sakit yang ringan.

penjelasan (Syarah)

Walaupun sebagai seorang utusan Allah SWT yang memiliki sifat kesempurnaan melebihi makhluk Allah SWT yang lain, namun hal itu tidak akan melepaskan mereka dari fitrah kemanusian yang ada dalam dirinya. Seorang rasul tetaplah sebagai seorang manusia biasa yang berprilaku sebagaimana manusia yang lain.

Para rasul Allah SWT memiliki sifat serta melakukan aktifitas sebagaimana manusia kebanyakan. Sudah tentu yang dimaksud adalah prilaku dan sifat-sifat yang tidak mengurangi derajat kenabian mereka di mata manusia. Seperti makan, minum, tidur, sakit dan semacamnya. Sedangkan prilaku yang dapat merendahkan derajat kerasulannya, mereka tidak pernah melakukannya. Dan inilah yang membedakan mereka dengan manusia yang lain.

sifat ma'shum para rasul

عِصْمَتُهُمْ كَسَائِرِ الْمَلاَئِكَةْ وَاجِبَةٌ وَفَاضَلُوْا المَـلاَئِكَةْ


Mereka wajib terpelihara dari perbuatan dosa (ma'shum) seperti halnya Malaikat dan keutamaan mereka melebihi para Malaikat.

penjelasan (Syarah):

Sebagaimana para malaikat, yang selalu patuh kepada perintah Allah SWT, dan tidak pernah sekalipun melanggar larangan Allah SWT, maka para nabi dan rasul Allah SWT juga demikian. Mereka adalah orang-orang yang dijaga Allah SWT dari perbuatan yang dapat mendatangkan dosa. Para nabi dan Rasul adalah orang yang selalu melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya.

Allah SWT telah menjaga para nabi dan rasul dari terjerumus ke dalam perbuatan dosa, sejak mereka masih kecil, sebelum mereka mengemban risalah Allah SWT, begitu pula setelah diangkat menjadi nabi dan rasul Allah SWT.

Oleh karena itu, jika ada seseorang yang mengaku sebagai nabi Allah SWT, namun diantara perbuatannya ada yang melanggar perintah Allah SWT, atau mempermainkan dan mempermudah ajaran agama yang dibawa, maka pengakuannya sebagai nabi harus ditolak.

sifat mustahil para rasul

وَالْمُسْتَحِيْلُ ضِدُّ كُلِّ وَاجِبِ فَاحْفَظْ لِخَمْسِيْنَ بِحُكْمٍ وَاجِبِ


Sifat mustahil adalah kebalikan dari setiap sifat yang wajib, maka hafalkanlah aqidah lima puluh untuk melaksanakan hukum yang wajib.

penjelasan (Syarah):

Sedangkan sifat mustahil bagi rasul adalah kebalikan dari sifat wajib yang empat di atas. Perincian sifat mustahil bagi para rasul tersebut adalah sebagai berikut.:

1. Shidiq (jujur) = Kidzib (dusta)

2. Amanah (dapat dipercaya) = Khiyanat (tidak dapat dipercaya)

3. Tabligh (menyampaikan wahyu) = Kitman (menyembunyikan wahyu)

4. Fathonah (cerdas) = Baladah (bodoh)

Aqidah-aqidah itu Wajib bagi kita menghafalkannya yaitu 50 sifat, perinciannya sebagai berikut ini:
- Sifat Wajib bagi Allah ada 20
- Sifat Mustahil bagi Allah ada 20
- Sifat Wajib bagi Rasul ada 4
- Sifat Mustahil bagi Rasul ada 4
- Sifat Jaiz bagi Allah ada 1
- Sifat Jaiz bagi Rasul ada 1